Saturday, April 7, 2018

Cerpen Kabut Mimpi

KABUT MIMPI
oleh: Febrianiko Satria 


   Aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan. Kulihat aku berada di sebuah ruangan entah dimana. Aku menguap, kucoba untuk mulai duduk. Entah berapa lama aku tertidur dalam ruangan ini. Di sebelahku, ada enam orang pria yang juga tertidur. Aku benar-benar tidak ingat kenapa sampai aku tertidur disini. Kucoba membangunkan lelaki kurus di sampingku.
 
            “Hoy bangun sudah pagi ini,” kataku.

            Sayangnya lelaki kurus itu tak juga kunjung bangun dari tidur lelapnya. Aku tak patah semangat. Aku lalu iseng mencabuti salah satu helai rambutnya yang keriting.Tiba-tiba dia mengigau sendiri lalu berteriak seperti berorasi ,“Walaupun kau hancurkan mataku. Kata-kataku tetap abadi!”

            Aku lalu tertawa dengan ucapannya. Bahkan dalam mimpinya, dia masih ingin meruntuhkan presiden yang dibencinya. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia masih terus mengigau membacakan puisi.

            “Aku adalah kutukan! Aku selalu siap memburumu sepanjang waktu!”
            Aku lalu berteriak, “Penyair bangun! Ini sudah pagi! Daritadi mengigau saja!”
            Lelaki itu lalu mengucek-ngucek matanya. Dia mencoba duduk ,”Sialan! Kukira ada tentara didepanku.”
            “Benci itu boleh. Tapi gak harus sampai terbawa ke dalam mimpi juga,” kelakarku.

            Disebelah kami masih ada lima pria yang  masih tertidur lelap. Ada pria gemuk berstelan jas, ada juga lelaki seumuranku dengan stelan kemeja, sedangkan sisanya adalah orang-orang yang terlihat jauh lebih muda dariku. Mereka semua tampak bingung seperti kami. Kenapa kami semua berkumpul disini.

            “Siapa kamu?” tanya ku.
            “Aku seorang supir. Seingatku aku membawa seorang putri mantan presiden kita ke salah satu kantor. Ketika aku pulang aku baru sadar aku sudah disini.” Jelas Supir.
            “Bagaimana denganmu anak muda?” tanyaku lagi

            Tiga lelaki muda itu saling bersitatap satu sama yang lain. Mereka tampak seperti takut berbicara. Aku lalu memaksa yang tubuhnya paling tinggi untuk berbicara kepada kami, “Kami adalah pemuda dari salah satu universitas di Indonesia. Seingat saya terakhir kami bertigamelakukan demo untuk menggulingkan pemerintahan kita tapi entah kenapa kami ada disini,” jelas pemuda itu.

            “Yang lainnya kalian siapa?” tanyaku kembali.
            “Aku adalah seorang pengusaha. Aku mengorbankan harta bendaku demi tercapainya reformasi di negera yang kita cintai ini.” ujar lelaki berjas.
            “Sekarang siapa kalian berdua?” tanya Supir.
            “Aku adalah seorang seniman, sebelahku ini adalah penyair,” jelasku.

            Penyair lalu berkeliling ruangan. Kulihat dia menggaruk-garukkan gambutnya yang keriting. “Ada yang aneh disini. Pasti ada penyebab kita dikumpulkan dalam ruangan ini.”
            Salah satu pemuda itu kulihat berdiri dan berbicara, “Izinkan saya berbicara. Kalau dilihat dari latar belakang kita. Pasti ini karena penyebab yang sama.”
            “Kita adalah pemberontak,” jawabku.
            “Kita buronan,” jawab Kontraktor.
            “Tapi saya cuma supir biasa. Sumpah!” teriak Supir itu.
            Penyair lalu berjalan menuju Supir, “Tapi kau membantu mengantarkan salah satu tokoh politik yang akan memberontak,”
            “Teganya dunia ini kepadaku,” keluh Supir.
            Kontraktor mencoba melerai,” Sudahlah, sebaiknya kita berpikir dimanakah kita sekarang ini?”
            “Ya benar. Aku tidak tahu dimana kita sekarang berada,” kataku.
            “Mungkin sekarang kita ada dalam sebuah penjara,” celetuk salah satu pemuda.
            “Tidak ini tak tampak seperti penjara sama sekali. Lihat ada meja dan kursi itu. Pasti kita ada diluar negeri,” sebut Penyair.
            “Oh tidak. Ini tak bagus. Apa yang akan terjadi pada anak istriku di rumah?” keluh Supir.
            “Lupakan saja anak istrimu. Sudah berapa lama memangnya kita tertidur di ruangan ini?” Kontraktor itu mengingatkan.
            “Pasti lama sekali,” jawab Supir.
            “Bagaimanapun caranya kita harus keluar dari ruangan ini! Kita harus mencari pintu, jendela atau semacamnya yang bisa kita temukan untuk keluar dari ruangan ini,” kata Penyair.
            “Coba kau lihat sekeliling. Tak ada jendela ataupun pintu diruangan ini,” jawab salah satu pemuda.
            “Coba kita raba masing-masing dinding. Siapa tahu dinding ini hanyalah tempelan kertas yang menutupi jalan keluar,” usul kontraktor.

            Kami lalu meraba setiap sisi dinding. Setiap kali kusentuh dinding ini tetap dingin dan keras. Mustahil ini adalah kertas. Kulihat yang lain juga begitu. Sama saja tak ada bedanya. Akhirnya kami kelelahan dan duduk diatas meja.

            “Tak ada apapun disini,” keluhku.
            “Tidak kau salah masih ada lemari disana. Coba kita masuk kesana,” kata penyair.
            “Kau terlalu banyak berkhayal. Sejak kapan lemari bisa menjadi jalan keluar kita,” keluh Kontraktor.
            “Tapi tak ada salahnya kita coba,” kata salah satu pemuda.

            Kami lalu mencoba membuka lemari itu. Kulihat ada kemeja dan jas yang digantung disana. Aku menggeser tumpukan kemeja itu. Kami lalu masuk kedalam lemari. Aneh lemari ini seperti panjang tak memiliki ujung. Kami terus berjalan hingga tiba-tiba di hadapan kami adalah sebuah jalan yang terasa aneh. Aku merasa seperti seolah-olah berada dalam film yang entah apa judulnya.

            “Akhirnya bisa keluar juga. Aku akan mencari istri dan anakku,” kata Supir.
            “Jangan dulu. Sebaiknya kita pergi bersama menyusuri daerah ini. Aku merasa ada yang aneh dengan wilayah ini,” kataku.
            Kami lalu berkeliling namun anehnya suasana sekitarku sudah tampak berbeda jauh dari apa yang kuingat terakhir kali. Semuanya tampak tak kukenali.
            “Sepertinya kau benar. Kita sepertinya berada di luar negeri.” Kata Supir.

            Kontraktor menjawab, "Tidak mungkin ini diluar negeri. Lihat tulisan disana," Kontraktor itu menunjuk sebuah papan iklan, "Lihat mereka masih menggunakan bahasa yang sama dengan yang biasa kita gunakan.”

            Kami lalu berjalan mengikuti langkah kaki kami. Tiba-tiba saja aku melihat sebuah papan iklan bergambar si penyair. Aku heran dan bertanya-tanya dalam hati. Setelah itu aku biarkan saja. Kami terus melanjutkan perjalanan. Di setiap perjalanan kami menemukan gambar penyair dimana-mana.

            “Penyair. Lihatlah gambarmu ada dimana-mana,” kataku
            “Lihat mereka menggunakan fotoku untuk sebuah film!” teriak Penyair.
            “Ayo kita coba masuk ke Bioskop itu.

            Kami bertujuh diam-diam masuk ke dalam bioskop itu. Seperti pencuri, kami mengendap-endap masuk ke dalam studio. Ruangan begitu gelap dan kulihat dilayar ada seseorang meniru tingkah laku penyair dalam sebuah film. Kami menjadi semakin keheranan dengan segala yang terjadi.

            Tiba-tiba lampu hidup. Ternyata film sudah selesai. Kulihat setiap penonton membubarkan diri. Tiba-tiba salah satu diantara mereka berteriak, “Lihat itu penyair yang hilang!” Penonton yang lain juga ikut berteriak ,”Kau benar. Itu penyair yang hilang!” “Itu penyair yang kita tunggu!”

            Kami semakin keheranan dengan mereka. Kami perlahan-lahan mundur hendak keluar dari studio. Kulihat salah seorang penonton kelihatan marah,”Kalian adalah orang yang berhasil menjatuhkan presiden favoritku. Lihatlah kondisi negara ini karena perbuatan kalian! Sekarang akan kuhabisi kalian semua!” Penonton itu lalu mengeluarkan pistol dan menembak membabi buta kearah kami.

***

            Aku tiba-tiba terbangun. Seketika aku seperti teraring diatas meja. Aku mengucek-ngucek mataku. Kulihat ada beberapa tumpukan kertas di mejaku. Tertulis disana“Daftar Korban Penculikan Masa Orde Baru.” Ku baca satu persatu lembaran kertas itu. Disana ada nama dan foto Penyair, Supir, Kontraktor dan Mahasiswa. Aku semakin terheran-heran kenapa mereka sama dengan orang yang hadir dalam mimpiku.

            Seorang wanita tua datang menuju arahku dia lalu duduk di depanku lalu berkata dengan santai, “Saya lihat Bapak tadi tertidur lelap. Jadi Apakah Bapak bisa membantu saya menemukan suami saya yang hilang: Sang Penyair!”

Jambi, 06 Maret 2017

Catatan:
Cerpen ini terinspirasi dari puisi dan biografi Wiji Thukul. Didedikasikan untuk para korban tragedi 1998.

Pertama kali diterbitkan di IMC Campus  https://campus.imcnews.id/read/kabut-mimpi

Yuk Kunjungi Pemandian Luber Bungo, Tempat Keceh Nan Segerrr yang Akan Membuatmu Lupa dengan Skripsi


Setelah susah payah mendaftar sidang skripsi yang dipenuhi rintangan tanda tangan ini, tandangan itu hingga tanda tangan surat nikah, bercanda hahaha. Saya bergembira ria. Akhirnya langkah saya menuju wisuda semakin dekat. Horee.

Tapi setelah saya melihat jadwal sidang skripsi saya merasa cukup sial. Ternyata oh ternyata jadwal sidang skripsi masih lama. Sayang sekali saya tidak bisa cepat-cepat wisuda. Saya jadi bingung bagaimana cara mengisi waktu tunggu yang ada. Mau jalan bareng pacar gak bisa karena jomblo. Hm harus apa ya?

Tiba-tiba orangtua saya mengajak saya liburan ke kampung Ayah. Kami lalu pulkam ke Tebo. Cus terbang!

Semalam berada di Tebo kami bingung harus ke mana. Kami lalu iseng gugling tempat wisata menarik di sekitar Tebo dan Bungo. Ada berbagai tempat menarik. Kami pilih pemandian yang ada di Bungo. Alasannya sih simpel karena alami dan tidak ada di kota! Cus kami pergi siangnya ke sana.
Kami lalu pergi ke Bungo, dari Muaro Bungo kami lalu melaju ke Rantau Pandan. Setelah sekian lama di perjalanan kami bingung harus ke mana. Kami bertanya ke salah satu penduduk. Bahwa tempat tempat wisata yang kami tuju ternyata sudah rusak tak terurus. Pemandian yang bagus ada di Luber lurus saja panjang. Dan kami melaju ke sana.

Sayangnya kami kembali tersesat. Kami mencoba bertanya kembali ke warga. Oh ternyata letaknya di lorong dekat PAUD. Terpaksa kami putar stir mundur ke belakang. Setelah sekian lama ternyata mobil kami harus berenang dulu melewati sungai.

Untungnya mobil bisa melewati sungai ketika melaju kembali. Eh ketemu lagi sungai. Yah berenang lagi. Terpaksa kami harus iri pada mobil karena mobil lebih dulu berenang daripada kami.
Kami akhirnya tiba di Luber (Lubuk Beringin). Kami langsung berenang di pemandian alami yang bersih itu. Jangan takut kalau tidak bisa berenang. Ada jasa penyewaan pelampung yang bisa digunakan. Akhirnya kami asyik berenang di Luber.

Sekitar beberapa jam kami berenang, kami merasa bosan. Kami lalu melihat berbagai ikan semah yang besar-besar. Sayangnya ikan ini tidak boleh dibawa pulang. Kami hanya bisa bermain bersamanya di sungai ini. Ya tidak apa-apalah.

Hari sudah mau malam. Terpaksa kami harus pulang. Kami tentu tidak ingin mobil ini tenggelam begitu menyusuri "jembatan nabi musa" untuk pulang. Alhamdulillah kami bisa pulang.
Di perjalanan menuju pulang saya membayangkan seandainya pemandian ini mudah ditemukan. Ada papan yang jelas sehingga orang tidak nyasar. Lalu tempat wisata ini  bisa diakses dengan mudah.
Tidak harus menerobos sungai dulu. Ditambah d isana banyak terdapat sampah bekas pengunjung yang terkadang sampahnya turun ke aliran sungai. Ya semoga keinginan mahasiswa tua ini terwujud. Amin.

Pertama kali diterbitkan di IMC Campus  https://campus.imcnews.id/read/yuk-kunjungi-pemandian-luber-bungo-tempat-keceh-nan-segerrr-yang-akan-membuatmu-lupa-dengan-skripsi

Festival Senaung Berseloko: Bukti Bahwa Masyarakat Desa Senaung Setia Menjaga Benda Bersejarah

02 Desember 2017 - 14:00:43 WIB - Penulis : Redaksi


Akhir bulan November lalu menarik. Biasanya saya hanya menangisi hujan yang turun setiap sore dan malam hari sembari menyanyikan lagu November Rain dari Guns N' Roses. Kalau beruntung menulis beberapa sajak. Sisanya menatap layar laptop sembari berharap ada Peri datang lalu memberikan keajaiban besok saya wisuda.

Seperti yang anda ketahui Sang Peri melarikan diri setelah melihat saya, makhluk mahasiswa semester tua, hitam, jelek dan jomblo. Dia langsung kabur setelah mengatakan kamu terlalu baik untuk aku. Haduh terlalu.

Hp saya yang sedang sepi kayak kuburan tiba-tiba mendapat undangan untuk menghadiri Festival Senanung Berseloko di Desa Senaung, Kabupaten Muaro Jambi. Tentu  saya merasa senang dengan undangan itu. Siapa tahu dari sana saya bisa mendapat jodoh.

Tapi saya bingung kesana saya harus mengajak siapa. Jangankan mengajak pacar. Kan jomblo gimana caranya mengajak pacar? Ya sudah saya ajak teman. Apa daya ternyata tak ada satu pun yang mau saya ajak. Alhasil saya ke sana sendirian dengan harapan sampai sana saya juga bisa mendapatkan jodoh. (Amin)

Saya ke Festival Senaung Berseloko pada hari Sabtu tanggal 25 November. Itu pun saya kesiangan. Sesampai di sana ternyata sudah mulai acara Pelarian Di Umo. Dari yang saya lihat Pelarian Di Umo ternyata aktifitas masyarakat senaung dalam membersihkan sawah-sawah dari rumput-rumput liar yang mengganggu.

Pembersihan dilakukan dengan alat-alat seperti parang dan alat yang menarik rumput yang tak tahu saya namanya dan lupa pula saya nanya. Selesai dari sana. Kami diajak tur benda-benda bersejarah.
Awalnya saya kira benda-benda bersejarah itu dikumpulkan dalam satu rumah khusus layaknya museum. Ternyata dugaan saya meleset tak jauh beda dengan dugaan cinta saya ke dia yang bertepuk sebelah tangan. Koleksi benda-benda bersejarah justru disimpan di masing-masing rumah penduduk. Suatu hal yang hanya dilakukan masyarakat elit malah dilakukan masyarakat desa.
 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya menyimpan berbagai benda bersejarah itu di rumah. Pasti begitu sulit mengurusnya. Belum lagi harus membersihkan dengan sangat hati-hati. Ada berbagai benda antik yang berumur ratusan tahun terjaga dengan baik.

Belum lagi harus menjaga hati dari berbagai nafsu agar tidak sembarang menjual benda-benda sejarah. Mereka pasti memiliki ketahanan pendirian yang tangguh terhadap berbagai godaan duniawi sehingga setia menahan diri demi anak cucu bisa melihat benda-benda bersejarah.

Tentu hal yang sangat sulit itu patut diapresiasi. Pernah saya berdiskusi dengan Profesor dari luar negeri yang pakar bidang manuskrip naskah dan sejarah ketika beliau mengunjungi Jambi sekitar sebulan yang lalu.

Profesor itu mengatakan bahwa menjaga benda bersejarah itu begitu sulit. Tak jarang berbagai benda bersejarah itu justru dijual ke luar negeri bahkan dalam museum pun tak jarang benda bersejarah itu dibuat duplikat dan benda aslinya dijual keluar negeri. Di sini saya kembali membayangkan masyarakat desa yang tetap teguh menjaga benda-benda bersejarah. Wih, perjuangan yang luar biasa.

Matahari semakin terik dan azan memanggil. Tur Benda Bersejarah selesai sudah. Saya lalu pulang ke kampus. Dalam perjalanan saya masih berdoa semoga setelah festival ini atau pun ketika tulisan ini dipublikasikan mereka tetap setia menjaga benda-benda bersejarah. Semoga mereka ditetap teguhkan pendirian mereka dan semoga benda-benda bersejarah itu tetap aman. Amin.

Pertama diterbitkan di IMC  Campus https://campus.imcnews.id/read/festival-senaung-berseloko-bukti-bahwa-masyarakat-desa-senaung-setia-menjaga-benda-bersejarah
 

Hal-Hal Unik yang Ditemukan dalam Pagelaran Suluk Bambu Teater Tonggak


Pagelaran Suluk Bambu yang digelar oleh Teater Tonggak Jambi di Taman Budaya Jambi (biasa disebut GOS Sungai Kambang) telah usai. Berbagai hal unik terjadi  selama acara berlangsung. Hal-hal unik ini akan saya paparkan satu persatu dalam paragraf selanjutnya dalam tulisan ini.
Pertama, pagelaran yang notabene merupakan acara Teater Tonggak ternyata tidak hanya diisi oleh Teater Tonggak sendiri. Ada beberapa kelompok seni yang ikut serta dalam pargelaran Suluk Bambu.
Kelompok seni yang ikut serta di antaranya; Teater Tonggak sendiri, selanjutnya Teater Alief, Teater Lam Alief, Kelompok Wak Kocai, Sanggar Sialang Rayo, Teater Kuju, Teater Art In Revolt (AiR), Kelompok Hasil Workshop Ngaji Tubuh, Kelompok Bengkel TBJ serta  Sanggar Tanah Pilih dan Sakti Alam Watir.

Jarang sekali sebuah pagelaran mengikut sertakan banyak kelompok seni. Biasanya kelompok seni setiap tampil hanya menampilkan kelompoknya sendiri tanpa mengajak kelompok lain untuk ikut juga tampil. Namun hal ini patut diberi apresiasi karena berhasil menyatukan banyak kelompok seni di Jambi.

Kedua, dari sisi jumlah yang dipertunjukan. Dari tanggal 10-12 November menyajikan banyak pertunjukan yang jarang dilihat di Jambi (walaupun di Jambi juga jarang dilakukan pertunjukan seni).
Saya lihat sendiri ada banyak pertunjukan yang ditampilkan, mulai dari penampilan kelompok Wak Kocai, baca puisi dari Ari Ce'gu, penampilan Tari dan Musik dari Bengkel TBJ, Demo lukis dari Kelompok Lukis Ceret,  Penampikan hasil Workshop Ngaji Tubuh oleh Tony Broer. Dilanjutkan penampilan inti yakni teatrikal Menara Langit oleh Teater Tonggak, teatrikal Nekut oleh Sanggar Sialang Rayo dan teatrikal Opera Manusia dari Teater Art In Revolt.

Tidak hanya teatrikal ada juga seni instalasi di antaranya; Tangga Langit karya Didin Siroz, instalasi Nekut oleh Sialang Rayo, Incung oleh Teater Kuju FIB UNJA, Ruang oleh Ja'far Rasuh dan Perjalanan Putih dari Ide Bagus Putra. Ada pula pameran lukis dari Sanggar Tanah Pilih dan pameran foto dari Sakti Alam Watir.

Banyak sekali hal yang  membuat acara menjadi menarik untuk ditonton dan dilihat. Hal ini tentu menjadi hiburan yang cukup  warga Jambi yang sehari-harinya sibuk dengan urusan pekerjaan sehari-hari.

Namun di antara banyak kelebihan di atas tentu juga tak lepas dari kekurangan-kekurangan. Kekurangan pertama yakni ketika pertunjukkan Sabtu malam (11/10) terjadi hujan deras. Saat itu banyak sekali warga Jambi yang datang menonton. Namun malang tak bisa ditolak  hujan datang dan menyebabkan pertunjukkan ditunda hingga Minggu malam.

Sayangnya ketika Minggu malam pengunjung sudah sepi. Banyak yang memilih untuk tetap di rumah. Apalagi mengingat esoknya yakni senin adalah hari kembali bekerja dan bersekolah. Warga Jambi pasti lebih berkemas di rumah menyiapkan pakaian untuk kerja esok ataupun memilih menyiapkan buku-buku jika masih sekolah. Memang kehendak Tuhan tidak bisa dilawan. Jadi kita hanya bisa terima apa adanya.

Tidak hanya itu, ketika pagelaran Minggu malam dilakukan terlalu malam. Pagelaran yang sejatinya dimulai pukul 19:00 WIB ditunda hingga sekitar pukul 20:40 WIB. Hal ini tentu mengganggu mereka yang harus kerja dan sekolah esok harinya.

Saya harap ke depannya tidak lagi dimulai terlalu malam. Toh selain nampil kita juga harus memikirkan penonton yang harus bersiap-siap untuk hari Senin. Bukan hanya penonton saja, pemain yang juga masih berstatus mahasiswa juga sebaiknya diperhatikan. Kan kasihan kalau paginya terlambat lalu kena marah dosen. Terus siapa yang harus disalahkan. Nah lho.

Ketika pertunjukan juga ditampilkan pertunjukan tari dan musik dari Bengkel TBJ yang katanya untuk pagelaran jelang TKTB di Medan. Menurut saya tari dan  musik yang akan dibawa ke TKTB di Medan bisa dibilang belum layak.

Bengkel TBJ yang seharusnya memiliki sumber daya manusia yang lebih baik malah menampilkan tari dan musik yang bisa dibilang tidak jauh beda dengan pertunjukkan pensi ala anak SMA.
Mungkin ini hanya perasaan saya saja atau apa. Apalagi saya adalah orang yang awam di bidang tari dan musik. Siapa tahu yang lebih ahli merasakan kelebihan yang membuat mereka layak untuk tampil di TKTB di Medan.

Terlepas dari itu semua. Pertunjukkan yang dilakukan sejak 10 hingga 12 November 2017 memberikan hiburan gratis sendiri untuk masyarakat Jambi terutama yang dekat dengan wilayah Taman Budaya Jambi.

Setelah pagelaran Prodi Sastra Indonesia FIB UNJA yang juga di TBJ dan Pagelaran Lukisan oleh Setarawarna di Taman Jomblo, Kota Baru, pagelaran Suluk Bambu bisa menjadi penghilang dahaga hiburan untuk wilayah Jambi, khususnya Kota Jambi.

Semoga kedepannya akan lebih banyak lagi pertunjukkan "aneh" yang dilakukan di Jambi yang memberikan warna bagi seni di Jambi.

Pertama dipublikasikan di IMC Campus  https://campus.imcnews.id/read/hal-hal-unik-yang-ditemukan-dalam-pagelaran-suluk-bambu-teater-tonggak

Saturday, January 27, 2018

Naskah Lakon: Meriam Si Jimat dan Gong Si Timang



Naskah lakon ini sudah dikurasi oleh Yusra Dewi, Irma Suryani dan Armiwati. Naskah ini memenangkan juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Daerah Provinsi Jambi Cabang Penulisan Naskah Lakon tahun 2016.  


MERIAM SI JIMAT DAN GONG SI TIMANG
KARYA: FEBRIANIKO SATRIA
Dramatic Personae:
1.      Tumenggung Merah Mato: Memiliki tubuh yag tegap, memiliki kulit sawo matang. Memiliki sifat bijaksana, penyayang dengan anak namun tidak memiliki keikhlasan.
2.      Istri Tumenggung: memiliki wajah yang cantik. Berusia tua. Memiliki  kulit sawo matang, penyayang dan setia dengan suami.
3.      Raden Kuning Megat: patuh kepada orang tua.
4.      Tumenggung Temuntan: Licik, memiliki kulit sawo matang, berhati-hati.
5.      Orang Kayo Hitam: memiliki kulit gelap seperti orang afrika, bijaksana, ganas dalam bertarung. Memakai sorban dan jubah serta keris terselip di punggungnya.
6.      Mayang Mangurai: memiliki kulit sawo matang, pemalu dan setia dengan suami.
7.      Jenang: Setia kepada pimpinan
Adegan 1
FADE IN
Lampu biru menyoroti sebuah meriam dan sebuah gong yang ada ditengah panggung. Terdengar suara bunyi Gong yang berbunyi dan suara ledakan tembakan meriam silih berganti.
Perlahan-lahan suara itu berhenti. Suara meriam berganti menjadi suara bunyi lonceng yang dipukul sesekali. Bel lalu berhenti terdengar senandung lagu Orang Kayo Hitam dinyanyikan sangat lirih.

Vokal:
Mayang Mangurai istri setio
Anak Tumenggung Merah Mato
Meriam Si Jimat Penjelmaannyo
Gong Si Timang pulo Ibunyo.

Lampu sorot berganti menjadi lampu blitz yang berkelap-kelip menyinari panggung. Asap keluar perlahan-lahan lalu lama kelamaan menebal.
Tiba-tiba sesosok pria dan wanita berdiri namun masih tampak kabur di tutup oleh asap. Asap perlahan-lahan menghilang dari panggung. Lampu blitz berhenti. Lampu biru menyoroti sepasang suami istri tersebut.
Musik Krinok mengiringi percakapan suami istri itu.

1.      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Kenapa kau masih begini? Kenapa kau masih saja tidak mau mengikhlaskan Mayang Mangurai sama sekali?

2.      TUMENGGUNG MERAH MATO
Sampai kapanpun Aku masih tidak rela Mayang Mangurai harus menikahi lelaki hitam, jelek yang datang Ujung Jabung itu. Masa anakku yang cantik harus menikah dengan pemuda jelek seperti dia? Itu seharusnya tidak boleh terjadi.

3.      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Kenapa tidak rela? Apakah Tumenggung lupa sudah berapa lama kita dikutuk menjadi sebuah meriam dan sebuah gong? Kita ini sudah dikutuk menjadi meriam dan gong beratus tahun lamanya karena ketidak ikhlasan Tumenggung.

4.      TUMENGGUNG MERAH MATO
Biarlah Aku menyimpan rasa dendam ini selama-lamanya hingga kiamat mendatangiku.

5.      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Tumenggung, sebenarnya Dewa-dewa sudah marah atas tingkah lakumu. Dewa-dewa masih marah karena kau menyimpan dendam yang berlarut-larut hingga jutaan bahkan milyaran purnama. Sudahlah sebaiknya Tumenggung ikhlaskan saja.

6.      TUMENGGUNG MERAH MATO
Ah tidak mungkin Dewa-dewa marah atas tindakanku . Kau tentu tahu sendiri bukan? Orang Kayo Hitam itu sangat berbeda keyakinan dengan kita. Dewa-dewa tentu masih berpihak kepadaku daripada orang kafir itu.

7.      ISTERI TUMENGGUNG MERAH MATO
Kalaupun misalnya dewa-dewa tidak rela kenapa kita berdua tetap dikutuk menjadi sebuah Meriam dan sebuah Gong?

8.      TUMENGGUNG MERAH MATO
Entahlah Aku juga tidak mengerti dengan kehendak dari dewa-dewa.

Adegan 2
9.      TUMENGGUNG MERAH MATO
Kalau ku ingat-ingat kembali lelaki yang ingin menikahi anak gadisku itu datang berombongan dengan sebuah kapal. Dia memakai sebuah surban dan tangannya memegang sebilah keris.
FADE OUT

FADE IN
Setting panggung berubah menjadi sebuah tempat di sebuah perkampungan ditengah hutan. Lampu kuning menyinari panggung. Tampak Orang Kayo Hitam datang bersama dengan rombongannya. Tumenggung Merah Mato, istri dan anaknya Tumenggung Temuntan menyambut kedatangan orang asing bagi mereka.

10.  ORANG KAYO HITAM
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tumenggung Merah Mato beserta seluruh warga kampung menjadi kaget dengan ucapan yang dikatakan oleh Orang Kayo Hitam. Mereka saling bertanya satu sama yang lain tentang arti dari ucapan yang telah dikatakan Orang kayo Hitam.

11.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Mendengar ucapanmu tampaknya Ananda bukan berasal dari sini. Ananda pasti berasal dari negeri yang sangat jauh dari Air Hitam. Katakan siapa dirimu sebenarnya?

12.  Orang Kayo Hitam
Orang Kayo Hitam Ananda punya nama. Ananda adalah Raja dari Kerajaan Jambi. Ananda datang dari Ujung Jabung, jauh dari ini. Ananda sebenarnya datang kesini karena saya menyebarkan Agama Islam di aliran Sungai Air Hitam ini.

13.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Maaf Pemuda Mamando tidak mengenal agama yang kau katakan barusan. Karena Ananda tadi telah meperkenalkan dirimu. Maka Mamando akan memperkenalkan diri. Tumenggung Merah Mato, beta punya nama. Raja yang menguasai aliran Sungai Air Hitam ini. Aku adalah keturunan dari Dewa-dewa.

14.  RADEN KUNING MEGAT
Raden Kuning Megat saya punya nama. Putra dari Tumenggung Merah Mato.

15.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Mamando yakin Ananda tampak kelelahan karena Ananda baru saja berjalan jauh. Marilah ikut Mamando ke rumah Kami telah menyiapkan hidangan sekedarnya sekalian kau  beristirahat.

16.  ORANG KAYO HITAM
Terimakasih Tumenggung telah berbaik hati menerima kami sebagai tamu tuan. Kami dari Kerajaan Jambi sangat berterima kasih atas kebaikan yang Mamando berikan kepada kami.

FADE OUT
FADE IN
Lampu beralih ke Tumenggung Merah Mato dan Istrinya. Tumnggung Merah Mato tersadar dari ingatannya. Lampu warna biru menyinari panggung diiringi musik sedih.

17.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Aku ingat lelaki itu. Lelaki itu ingin menyebarkan agama yang asing ke wilayah kekuasaanku. Agama itu seharusnya tidak muncul ke tempatku. Itu juga yang membuatku tidak ingin menerima dia sebagai menantuku. Agamanya sangat jauh berbeda dengan keyakinan yang selama ini kami anut. Keyakinan yang selama ini kami pegang teguh selama jutaan purnama yang terus berganti.

18.  ISTRI TUMENGGUNG MATO
Apa hanya karena dia berbeda keyakinan dengan kita lantas kau menolaknya sebagai menantumu? Kenapa kau begitu tidak menyetujui hal itu? 

19.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Sekali tidak boleh tetap tidak boleh. Aku ini adalah Tumenggung. Aku adalah raja yang akan dicontoh oleh kaumku. Aku harus memberikan contoh kepada masyarakatku untuk tidak menikahi kaum yang berbeda keyakinan dengan kita.

20.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Ah Itu semua hanya alasanmu saja agar menolak Orang Kayo Hitam agar menjadi menantumu.

21.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tentu bukan itu saja yang menjadi alasanku. Dewa-dewa juga pasti akan marah jika aku menikahkan dia yang berbeda keyakinan dengan kita.

22.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Aku tidak percaya kalau dewa-dewa akan menolak. Aku yakin itu hanya akal-akalanmu saja agar menolak perjodohan itu. Apa kau sudah bertanya dengan Malim. Orang yang menjadi penghubung antara kita dan dewa-dewa? Orang yang mengurusi dan mengawasi segala bentuk dan tata cara penyembahan dari kaum kita?

23.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Aku belum bertanya kepada dia. Aku belum sempat bertanya karena perjodohan itu berlangsung dengan cepat

24.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Bagaimana kau bisa menentukan apakah dia diterima atau tidak oleh dewa-dewa sementara kau belum bertanya hal ini kepada Malim? Apa yang kau putuskan pasti bukan atas keinginan dewa-dewa melainkan atas keinginan dirimu sendiri. Kau tidak jelas dalam mengambil keputusan.

25.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Diam! Ini semua demi menjaga keyakinan kita secara turun menurun agar anak cucu kita tetap berada dalam keyakinan yang sama dengan nenek moyangnya.

26.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Seharusnya kau membiarkan mereka mengikuti keyakinan mereka sendiri berdasarkan hati nurani mereka. Keyakinan adalah hak asasi yang diberikan oleh Dewa-dewa. Keyakinan di miliki setiap diri mereka sendiri. Tidak ada satupun yang boleh mengatur hal itu.

27.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tetapi aku adalah Tumenggung, raja dari setiap diri mereka. Orang yang mengatur mereka sekaligus menghukum mereka.

28.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Sekalipun kau adalah Tumenggung, kau tetap tidak boleh mengatur keyakinan mereka. Meskipun kau adalah raja dari diri mereka masing-masing, kau tetap tidak pantas memaksakan kehendakmu terhadap rakyatmu.

Adegan 3
29.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Bukan itu saja yang menjadi pertimbanganku untuk menolaknya sebagai menantuku. Dia memiliki sifat bengis. Kau ingat ketika aku dan anakmu Raden Kuning Megat bertarung menunjukkan kesaktian diri masing-masing? Kau lihat sendiri dia begitu kuat dan beringas dalam menghadapi lawan-lawannya.

30.  ISTRI TUMENGGUNG
Ini pasti cuma alasanmu saja.

FADE OUT
FADE IN
Setting panggung kembali berubah menjadi sebuah perkampungan. Ada rumah kayu dimana-mana.
Lampu merah menyinari Tumenggung Merah Mato, Raden Kuning Megat, Orang Kayo Hitam dan rombongannya yang sedang beristirahat setelah menyantap makanan pemberian raja-raja.

31.  ORANG KAYO HITAM
Terima kasih kepada Mamando yang telah memberikan makanan kepada kami.

32.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Itu sudah sewajarnya Mamando lakukan karena Ananda adalah tamu.

33.  ORANG KAYO HITAM
Terima kasih Mamando baik sekali.

34.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Berhubung Ananda datang dari negeri yang jauh tentu  Mamando ingin mengetahui kehebatan Ananda dalam menghadapi setiap musuh yang menganggu ketentraman negeri tuan.

35.  Orang Kayo Hitam
Ananda tidak memiliki kemampuan seperti yang Mamando harapkan.

36.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ah tidak mungkin Ananda tidak memiliki kemampuan lebih dalam bertarung. Apalagi  Ananda adalah raja dari Kerajaan Jambi. Sudah pasti tuan memiiki kemampuan lebih.

37.  ORANG KAYO HITAM
Baiklah kalau Mamando memaksa.

38.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Sebagai awalan Ananda akan melawan pemuda-pemuda yang sakti di aliran Sungai Air Hitam ini. Jenang, turunkan semua pemuda-pemuda hebat yang ada di kampung kita!

39.  JENANG
Baik Tumenggung.

Jenang lalu memanggil berbagai pemuda-pemuda yang tinggal di Air Hitam untuk berkumpul. Pemuda yang tubuhnya kekar, kurus, gemuk, besar, tinggi dari berbagai rumah  berkumpul di rumah Tumenggung Merah Mato. Setelah terkumpul mereka berkumpul mengelilingi Orang Kayo Hitam.
40.  ORANG KAYO HITAM
Ayo lawan aku!

Musik tabuhan drum ataupun jimbe mengisi suasana panggung yang tegang. Satu persatu pemuda bertarung melawan Orang Kayo Hitam. Pertama pemuda bertubuh kurus melawan Orang Kayo Hitam tetapi kalah. Lalu dilanjutkan oleh pemuda bertubuh gemuk melawannya namun tetap gagal.  Lalu pemuda bertubuh kekar melawan Orang Kayo Hitam namun tetap saja gagal.

41.  ORANG KAYO HITAM
Tampaknya hanya ini kemampuan dari orang-orang Mamando.

Pemuda-pemuda lalu mengeluarkan berbagai senjata tajam untuk mengalahkan Orang kayo Hitam. Namun, Orang Kayo Hitam sangat kebal dari berbagai senjata. Satu persatu pemuda kewalahan dan babak belur dikalahkan Orang Kayo Hitam.

42.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Karena Ananda berhasil mengalahkan semua anak buah Mamando. Mamando persilahkan Ananda untuk melawan anak Mamando Raden Kuning Megat.

Tumenggung Temuntan berdiri lalu melawan Orang Kao Hitam. Pertarungan mereka berdua berjalan dengan sengit. Tumenggung Merah Mato lalu mengucapkan berbagai mantra untuk melawan Orang Kayo Hitam. Namun Orang Kayo Hitam terlalu kuat sehingga semua mantra yang dikeluarkan menjadi sia-sia.

43.   RADEN KUNING MEGAT
Cukup aku menyerah. Kau terlalu kuat untukku.

44.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tampaknya tinggal Mamando sendiri. Mamando tidak mungkin kalah melawan Ananda karena Mamando adalah penguasa dari Air Hitam ini.

Tumenggung Merah Mato berhadapan melawan Orang Kayo Hitam. Tumenggung Merah Mato mengeluarkan berbagai kesaktiannya untuk melawan Orang Kayo Hitam tetapi gagal. Tumenggung tidak putus asa. Dia lalu mengucapkan berbagai mantra keramat dari leluhur untuk menumbangkan Orang Kayo Hitam. Namun hasilnya tetap saja Orang Kayo Hitam terlalu sulit untuk dikalahkan. Tumenggung lalu mengeluarkan senjata. Orang KayoHitam tidak mau kalah begitu saja. Dia lalu mengeluarkan Keris Siginjai untuk mengalahkan Tumenggung.
Tumenggung Merah Mato terbaring di tanah. Dia tidak mampu melawan kesaktian Orang Kayo Hitam.

45.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Mamando mengaku kalah. Ananda terlalu kuat. Ananda memenangkan pertarungan ini.

FADE OUT
FADE IN
Lampu biru kembali fokus pada Tumenggung Merah Mato dan Istrinya.

46.  ISTRI TUMENGGUNG
Bilang saja kalau kau tidak mau mengakui kalau dia lebih hebat darimu bukan?

47.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ah seandainya dia tidak mengeluarkan kerisnya itu sudah pasti aku bisa mengalahkannya.

48.  ISTRI TUMENGGUNG
Seingatku bukankah senjatamu juga kau beri berbagai macam mantra keramat agar bisa mengalahkan Orang Kayo Hitam.

49.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tidak ini berbeda. Keris itu memiliki kekuatan yang sangat tinggi sehingga senjataku sangat kesulitan menghadapi senjatanya.

50.  ISTRI TUMENGGUNG
Bukankah kau juga dilindungi dewa-dewa?

51.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ya Tapi dewa-dewanya terlalu kuat untuk kuhadapi.

Adegan 4
52.  ISTRI TUMENGGUNG
Kuingat setelah itu kita memperkenalkan anak kita Mayang Mangurai kepadanya.

53.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ya kau benar. Sayangnya itu adalah keputusanku yang buruk

FADE OUT
FADE IN

Lampu kuning menyinari Tumenggung Merah Mato, Raden Kuning Megat dan Orang Kayo Hitam yang sudah selesai bertarung.

54.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ananda sebagai raja dari Kerajaan Jambi benar-benar terbukti kesaktiannya. Buktinya Mamando dan semua pasukan  berhasil dikalahkan.

55.  ORANG KAYO HITAM
Ah Mamando terlalu memuji. Mamando juga hebat. Ananda saja tadi kesulitan menghadapi kekuatan Mamando.

56.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Ananda benar-benar orang yang rendah hati. Mamando sangat salut dengan Ananda.

57.  ORANG KAYO HITAM
Terima kasih Tumenggung. Oh iya sebelum sampai di negeri ini Ananda ada melihat sehelai rambut terikat di ranting kayu yang mengambang di Sungai Air Hitam. Ananda ingin mencari siapakah gadis dara yang memiliki rambut indah itu Tumenggung.

58.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Sepertinya orang yang memilki rambut indah itu adalah Mayang mangurai yang merupakan putri Mamando. Dia adalah adik dari Raden Kuning Megat. Dia memang memiliki rambut yang panjang sekali.

59.  ORANG KAYO HITAM
Kalau begitu tolong perkenalkan Ananda kepada anak Mamando.

Tumenggung Merah Mato tidak langsung menyanggupi permintaan dari Orang Kayo Hitam. Dia masih berpikir ingin memperkenalkannya. Tumenggung Merah Mato takut kalau anak gadisnya harus dinikahi oleh pria berkulit hutam itu.
60.  ORANG KAYO HITAM
Tolonglah Mamando perkenalkan Ananda dengan anak Mamando.

61.  TUMENGGUNG MERAH MATO
(berpikir) baiklah tolong Ananda tunggu disini sebentar. Mamando akan memperkenalkan Ananda dengan anak Mamando. Mayang kemarilah. Ada Raja dari Kerajaan Jambi ingin berkenalan denganmu.

Mayang Mangurai masuk ke dalam panggung. Mayang tampak malu-malu bertemu dengan Orang Kayo Hitam. Mayang lalu duduk disebelah ayahnya. Lampu kuning berganti merah jambu menyoroti panggung.

62.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Perkenalkan ini adalah Mamando saya Mayang Mangurai. Dia adiknya Raden Kuning Megat.

63.  MAYANG MANGURAI
Mayang Mangurai beta punya nama. Anak Tumenggung.

64.  ORANG KAYO HITAM
Mayang Mangurai. Namamu benar-benar cantik seperti dirimu. Tadi sebelum Beta sampai disini. Beta menemukan rambutmu terikat di ranting kayu.

65.  MAYANG MANGURAI
Oh. Tadi ketika aku mandi di sungai tidak sengaja rambut saya terikat oleh ranting kayu. Beta berusaha keras untuk melepaskannya namun tidak bisa. Akhirnya Ku paksa untuk melepaskannya. Akhirnya rontoklah rambut Beta. Rambut Aku yang rontok itu saya buang ke sungai.

66.  ORANG KAYO HITAM
Oh pantas saja rambut indah ini milikmu. Rambut dari putri raja yang sangat cantik jelita.

67.  MAYANG MANGURAI
Tuan bisa saja (malu-malu)

68.  ORANG KAYO HITAM
Begitu beruntungnya Sungai Air Hitam memiliki putri cantik sepeti dirimu. (kepada Tumenggung Merah Mato) Mohon maaf Mamando, Ananda harus permisi. Ananda harus kembali ke kerajaan untuk mengurusi kerajaan. Bolehkah Ananda titpkan seorang Guru Agama disini?

Lampu merah jambu berganti menjadi lampu kuning.

69.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tentu boleh. Kami akan menjaga Guru Agama itu.

70.  ORANG KAYO HITAM
Kalau begitu Ananda permisi dulu. Assalamu alaikum.

71.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Silahkan, Ananda.
Orang Kayo Hitam lalu undur diri untuk pulang ke Kerajaan Jambi. Tumenggung Merah Mato, Raden Kuning Megat dan pemuda-pemuda turut mengantarkan Orang Kayo Hitam menuju kapal.
BLACKOUT
Adegan 5
Lampu ungu hidup menerangi Orang Kayo Hitam pergi menghadap Tumenggung Temuntan, saudara dari Tumenggung Merah Mato agar dia bisa menikah dengan Mayang Mangurai.
72.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Ada apa Raja dari Kerajaan Jambi datang ke tempatku?

73.  ORANG KAYO HITAM
Ananda sengaja datang menghadap Tumenggung, raja dari Sungai Tembesi guna meminta bantuan Tumenggung untuk menikahkan saya dengan Mayang Mangurai putri Tumenggung Merah Mato.

74.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Mamando mengerti maksud kedatanganmu. Namun, sebagai ninik mamak dari keluarga Tumenggung Merah Mato Mamando meminta waktu untuk membicarakan masalah ini kepada saudaraku Tumenggung Merah Mato. Kembalilah tiga hari lagi untuk mengetahui hasilnya.

75.  ORANG KAYO HITAM
Baiklah. Ananda akan kembali tiga hari lagi untuk menemui Tumenggung.

BLACKOUT
Lampu hijau hidup menyinari Tumenggung Temuntan menghadap saudaranya Tumenggung Merah Maton di rumah Tumenggung Merah Mato. Tampaknya Tumenggung Merah Mato sedang pusing memikirkan nasib anaknya.
76.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Kemarin Orang Kayo Hitam menghadapku. Dia ingin melamar anakmu Mayang Mangurai.

77.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Oh Raja dari Ujung Jabung itu. Sebenarnya saudaraku, Aku tidak setuju dia menikah dengan putriku yang cantik jelita itu.

78.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Ya aku juga tidak setuju dengan pernikahan ini. Tetapi sayangnya dia sudah terlanjur menghadapku untuk membicarakan pernikahannya. Bagaimana cara kita menolaknya?

79.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Kita harus berhati-hati dalam menolaknya jangan sampai kita menyakiti hatinya. Apalagi dia orang yang sangat kuat. Bisa-bisa dia merusak kerajaan kita jika kita menolaknya.

80.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Jadi, Bagaimana caranya?

81.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Kita suruh saja hal-hal yang tidak mungkin akan dicapai olehnya. Seperti ini emas selesung pesuk, Seruas buluh telang dan selengan baju serta kepala tungau segantang ulang-aling. Aku yakin dia tidak akan bisa menyanggupinya.

82.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Ya aku setuju dengan syaratmu itu, saudaraku. Dengan ini dia tidak mungkin bisa menyanggupi syarat yang mustahil itu.

BLACKOUT

Lampu ungu hidup menyinari panggung. Tiga hari berlalu Orang Kayo Hitam menghadap Tumenggung Temuntan selaku ninik mamak dan tuo tengganai dari keluarga.

83.  ORANG KAYO HITAM
Sesuai janji Tumenggung. Ananda kembali lagi hari ini untuk mengetahui syarat untuk menikahi Mayang Mangurai

84.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Dari maksud ananda wahai Orang Kayo Hitam, telah mamando jalani segalo ahli waris dan suko atau setuju segalonyo idak seorangpun menolak, karena hal iko adalah bagaikan padi jatuh ke ladungnyo atau bak kuah telimbak ke nasi. Dari pengisian adatnyo: emas selesung pesuk, seruas buluh telang dan selengan baju ditambah kepala tungau segantang ulang-aling. Maitulah adatnyo mamando di siko, sudah buruk di mamake, sudah habis dimakan, sudah bersesap berjerami, sudah berpandan berkuburan, bertitian teras bertanggo batu, jalan bertambah nan beturut, baju berjait nan berpake, sudah gayur pinang, sudah rekah kelapo, maitulah adat kami di siko.

85.  ORANG KAYO HITAM
(berpikir keras) Baiklah Tumenggung. Ananda akan berusaha memenuhi syarat maharnya. Tetapi karena syaratnya cukup berat. Ananda meminta waktu untuk memenuhi  maharnya.

86.  TUMENGGUNG TEMUNTAN
Baiklah Mamando akan menunggu

FADE OUT
FADE IN
Lampu biru menerangi Tumenggung Merah Mato dan Istri.

87.  ISTRI TUMENGGUNG
Kalian terlalu gila memberikan syarat yang tidak mungkin dapat diselesaikan oleh siapapun.

88.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tapi itu hanya satu-satunya cara agar anakku tidak menikah dengan orang asing.

FADE OUT
FADE IN
Adegan 6
Lampu ungu menyinari panggung. Setelah berbulan lamanya akhrinya Orang Kayo Hita berhasil memenuhi maharnya. Dia lalu membawa mahar itu ke Tumenggung Merah Mato

89.  ORANG KAYO HITAM
Ini Mamando maharnya

90.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Bagaimana caranya Ananda mengumpulkan ini semua?

91.  ORANG KAYO HITAM
Ananda memiliki berbagai sahabat yakni Raja-raja di Pulau Jawa. Merekalah yang membantu Ananda dalam memenuhi mahar ini.

92.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Baiklah sesuai dengan janji Mamando. Mamando akan menikahkan Ananda dengan putriku Mayang Mangurai.

Pernikahan berlangsung dengan meriah. Namun Tumenggung Merah Mato tetap tidak rela anaknya menikah dengan Orang Kayo Hitam. Setelah beberapa hari mereka menikah Tumenggung Merah Mato mengumpulkan mereka berdua.

93.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Kalian kini telah sah sebagai suami istri. Sekarang Mamando akan memberikan sepasang angsa ini. Kalian berlayarlah meraungi Sungai Batanghari. Kalian baru boleh berhenti berlayar ketika kedua angsa ini menetap di suatu daratan. Disana kalian dirikan sebuah kerajaan baru.

94.  ORANG KAYO HITAM
Baiklah Tumenggung. Kami akan menuruti kehendakmu.

95.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Berlayarlah kalian sekarang

Orang Kayo Hitam dan Mayang Mangurai lalu berlayar menyusuri Sungai Batanghari mengikuti sepasang angsa putih pemberian Tumenggung Merah Mato. Suatu haari Sepasang sepasang angsa putih itu berhenti di suatu daratan.
96.  ORANG KAYO HITAM
Akhirnya kita berhasil menemukan suatu daratan tempat kita akan membuat sebuah kerajaan baru. Akan Kunamakan Kerajaan ini sebagai Kerajaan Tanah Pilih.

Ketika Orang Kayo Hitam lalu membersihkan hutan di daratan yang baru itu dengan parang. Ketika Orang Kayo Hitam sibuk membersihkan hutan parangnya tiba-tiba tercacak di sebuah meriam lalu  tercacak ke sebuah gong.
97.  ORANG KAYO HITAM
Aneh sekali kenapa parangku tercacak di Meriam ini dan kenapa ada gong juga terletak disini? Apakah negeri ini sudah ada yang menempati? Tidak mungkin ini kan masih hutan belantara.
Sebaiknya aku namakan Meriam ini Meriam Si Jimat dan Gong ini kunamakan Gong Si Timang. Mereka akan menjadi barang pusaka untuk kerajaan ku kelak.
FADE OUT
Adegan 7
FADE IN
Lampu biru kembali menyala menyinari Tumenggung Mera Mato dan Istri Tumenggung Merah Mato.
98.  ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Itu adalah saaat dimana kita dikutuk menjadi seperti ini. Apa kau sadar? Dewa-dewa telah memarahi kita karena perilaku burukmu yang masih saja tidak ikhlas!

99.  TUMENGGUNG MERAH MATO
Tidak mungkin dewa yang membuat kita berubah menjadi Meriam dan Gong! Aku yakin dia Orang Kayo Hitam yang telah membuat kita menjadi Meriam dan Gong!

100.                      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Kau masih saja berburuk sangka dengan Orang Kayo Hitam. Kau lupa dia adalah pria yang baik hati. Tidak mungkin orang yang baik hati merubah kita menjadi meriam dan gong.

101.                      TUMENGGUNG MERAH MATO
Bisa saja perilakunya saja yang baik hati hanya ditampilkan di hadapan kita. Sedangkan di belakang kita dia melakukan berbagai kerusakan di muka Bumi ini.

102.                      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Tidak mungkin dia melakukan kerusakan! Kau lihat apa yang terjadi pada tanah yang kita pijak sekarang? Tanah yang kita pijak berubah menjadi semakin maju dan lebih baik daripada ketika kau berkuasa. Apa kau masih tidak menyadarinya?

103.                      TUMENGGUNG MERAH MATO
Ya kau benar. (menangis) Sayangnya dewa-dewa telah mengutuk kita menjadi Meriam dan Gong. Tidak ada yang bisa menghentikan kutukan dari dewa.

104.                      ISTRI TUMENGGUNG MERAH MATO
Sudahlah penyesalan memang selalu datang terlambat. Yang penting kau sudah mengikhlaskan Mayang Mangurai menikah dengan Orang Kayo Hitam.

105.                      TUMENGGUNG MERAH MATO
Ya aku ikhlas. Aku mengikhlaskan dia menikah dengan Orang Kayo Hitam.

Lampu blitz tiba-tiba berkedip terus menerus. Asap kembali muncul ke panggung. Di panggung tiba-tiba muncul sebuah meriam dan sebuah gong.
BLACKOUT
Jambi, 19 Juli 2016 - 05 Agustus 2016