Saturday, August 26, 2017

Cerpen Soleram Oh Soleram

SOLERAM OH SOLERAM
Karya: Febrianiko Satria

Soleram soleram
Soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
            Ku dengar berkali-kali lagu ini sambil mengingat dirimu Soleram. Wanita penjelmaan bidadari yang turun ke Bumi dalam bentuk manusia. Kecantikan dan tulus hatimu selalu saja meluluhkan setiap lawan jenismu. Aku selalu heran bagaimana caramu meluluhkan hati berbagai pria. Penampilanmu begitu sederhana. Ah mungkin mereka buta soleram sama seperti diriku.
***
            Soleram, pagi ini begitu cerah. Matahari bersinar begitu terang hari ini. Aku yang datang terlebih dahulu, melihat dirimu memarkirkan motor di parkiran. Engkau lalu berlarian kecil meninggalkan parkiran, memasuki gedung perkuliahan, menaiki tangga lalu tergesa-gesa berlari menuju kelas. Sepertinya kautakut sekali dengan dosen killer yang mengajar hari ini. Kau menghampiriku yang sedang berdiri santai di depan pintu.
            “Bapak sudah datang tidak?” tanyamu Soleram.
            Aku lalu menjawab sambil tertawa, “Belum. Bapak itu masih di rumah.”
            Kautampak lesu setelah aku mengatakan hal itu. Kamu tampak kelelahan karena hanya mengejar kuliah hari ini. Setelah itu kaumasuk ke dalam kelas yang dingin karena AC yang hidup. Aku membiarkan kaudidalam sementara aku menatap pemandangan halaman kampus yang dipenuhi pohon dan bunga.
            Kudengar kau membicarakan beberapa tugas yang akan dikumpulkan hari ini ke teman di sebelah tempat dudukmu, “Apa saja tugas hari ini?”
            “Seingatku ada meringkas materi di buku sudah itu Bapak menyuruh buat esai bertema pendidikan. Kausudah mengerjakannya?” tanya lawan bicaramu. Sepertinya suara itu adalah suara Rosnauli, sahabatmu selama kuliah.
            “Ah Alhamdulillah sudah kukerjakan semua. Kalau kau Ros?” tanyamu Soleram.
            “Belum biarlah. Biasanya Bapak itu suka lupa sendiri. Bapak kan biasanya gitu. Hari ini kasih tugas minggu depan sudah lupa,” jawab Rosnauli.
            Kau terus bercakap-cakap dengan Rosnauli. Tidak lama kemudian, satu persatu mahasiswa datang memasuki kelas. Jarum jam terus berputar  mengelilingi angka-angka. Tak terasa sudah dua jam kita menunggu dosen. Kulihat Ari sebagai ketua kelas berdiri di hadapan kita, “Sesuai kesepakatan kita tadi. Kalau Bapak tidak datang kita langsung tinggalkan kelas. Jangan ada satupun yang tinggal dalam kelas biar kompak.”
            Tiba-tiba suasana kelas menjadi riuh. Mahasiswa-mahasiswi mulai sibuk mengemasi tasnya lalu keluar satu dari kelas satu per satu. Beberapa diantara dari mereka merutuki dosen yang tidak datang, sedangkan yang lain sibuk membicarakan film yang baru saja keluar di bioskop. Kulihat kaujuga keluar dari kelas Soleram. Kaulalu berjalan menuju sekretariat himpunan mahasiswa. Aku teringat bahwa ada jadwal rapat tentang pertunjukkan organisasi kita beberapa bulan lagi. Aku langsung menyusulmu menuju sekretariat himpunan mahasiswa itu.
***
            Soleram, hari ini kita latihan untuk pertunjukkan kita yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi. Soleram kulihat kaudatang menggunakan motor matic putih. Kauterlihat cantik dengan baju kemeja panjang serta celana panjang berwarna biru. Kau memarkirkan motormu di depan gazebo lalu bergegas menaruh tasmu di tiang-tiang gazebo.
            “Manis banget Soleram hari ini,” gombalku.
            Kau tampak senyum-senyum saja mendengar gombalan dariku. Kau lalu berkata kepadaku, “Maaf Bang Soleram telat tadi ada rapat di kampus.”
            “Tidak apa-apa. Yang penting Soleram manis sudah datang. Lagipula masih banyak yang belum datang,” jawabku.
            “Iya Bang maaf,” balasmu Soleram.
            Soleram kita harus menunggu teman-teman kita yang lain untuk latihan bersama-sama. Waktu terus belalu. Sutradara tampaknya sudah tidak sabar menunggu. Sutradara lalu mengajak kita untuk melakukan pemanasan lalu memulai latihan biasa. Sutradara menyuruhku untuk berganti pemeran menjadi pemeran utama dalam pertunjukkan teater ini. Kini kaumenjadi lawan mainku Soleram. Dalam lakon ini kita menjadi sepasang kekasih. Jujur aku merasa bahagia karena bisa berpasangan denganmu walaupun hanya dalam dunia teater. Kali ini kita memainkan adegan kejar kejaran antar kekasih. Kutatap matamu Soleram. Kedua bola mata itu membuatku lupa dengan dialogku sendiri. Aku menjadi gugup Soleram. Kulihat kau juga mengalami hal yang sama. Kau menjadi lupa gerakan yang semestinya kaulakukan dalam lakon ini. Tanpa sadar kita menjadi tertawa.
            “Coba kalau latihan itu serius. Kau tatap mata Soleram dalam-dalam. Jangan takut!” bentak Sutradara. “Soleram juga ingat blockingnya kemana saja, Tadi kan sudah dikasih tahu pertama jalan kebelakang setelah itu langsung cross kedepan.”
            “Iya bang maaf,” jawabmu Soleram.
Kita melanjutkan kembali adegan kita yang salah. Kumencoba lagi menatap matamu dalam-dalam Soleram. Aku merasakan keteduhan menyelimuti matamu Soleram. Kali ini aku mencoba untuk tidak canggung mengejarmu Soleram. Kita melakukan adegan ini tanpa canggung sama sekali. Tampaknya kita ditakdirkan untuk menjadi pasangan dalam lakon ini. Adegan-adegan terus dilakukan hingga matahari menutup diri dan bulan tampak menunjukkan dirinya. Terpaksa latihan hari ini kita akhiri sampai disini. Sebelum kita menutup latihan kita melakukan rapat. Sutradara menyarankan agar Aku dan kau, Soleram pacaran agar lebih mendalami peran yang sedang kita jalani. Kautampak muram dengan permintaan Sutradara. Sepertinya kautidak setuju dengan permintaan ini. Aku lalu berusaha mengalihkan pembicaraan. Berbagai hal kita bicarakan untuk pertunjukkan kita. Setelah dirasa cukup, latihan ditutup. Kulihat kau segera menuju motormu. Tanpa kusadari ternyata kedua orang tuamu telah menunggumu. Kau lalu pulang menggunakan motormu dengan diiringi motor milik orang tuamu.
***
Semenjak kita dipasangkan sebagai pasangan dalam pertunjukkan ini, aku selalu mengingat namamu Soleram sembari mendengarkan lagu daerah yang mirip dengan namamu. Kuhidupkan setiap waktu lagu Soleram ini di hpku sambil terus menatap fotomu di akun instagram. Aku mulai berusaha untuk mendekatimu. Kumulai dengan hadir disetiap status facebookmu ataupun PM BBMmu. Setiap kubertemu denganmu aku selalu berusaha memujimu. Aku selalu siap membantumu dalam setiap dirimu berada dalam masalah. Sayangnya sangat sulit untuk mendekatimu Soleram. Tidak jarang kegagalan kualami untuk mendekatimu.
Bumi terus berputar Soleram, rasa cintaku terus tumbuh meninggi di setiap detiknya. Pertunjukkan teater kita berjalan dengan sukses Soleram. Banyak penonton yang menyukai pertunjukkan kita. Seminggu  setelah pementasan, kuberanikan diri untuk menyatakan cintamu ketika di kampus.
Kulihat wajahmu begitu ragu. Pelan-pelan kaumenjawab pertanyaanku, “Maaf saya tidak bisa menjadi pacarmu. Dalam Islam kita tidak boleh pacaran. Kauhanya bisa melamarku ketika kaululus kuliah nanti.”
***
Kata-kata yang kauucapkan waktu itu masih terngiang dalam kepalaku. Sejak saat itu kautampak kesal padaku. Sejak saat itu aku jarang melihat senyum manismu. Setiap chat yang kukirimkan seringkali kauabaikan begitu saja. Setiap kita dikelompokkan di setiap tugas kuliah, seringkali kau berusaha menghindariku. Kita yang biasanya makan bersama di kantin kampus. Kini sudah tidak lagi bersama. Kau lebih suka makan sendiri di luar kampus.
Kudengar-dengar dari teman-teman kauikut salah satu organisasi di luar kampus. Kudengar juga kaumenjadi bendahara dalam organisasi itu. Kau tampaknya mulai sangat sibuk. Semakin jarang aku bertemu denganmu. Setiap kali kutanya lewat chat kauhanya mengabaikan begitu saja. Tampaknya kausekarang begitu bahagia dengan kehidupan barumu.
            Soleram, jadwal ujian semester kian mendekat. Kulihat teman-temanmu jurusan teater sedang sibuk mencari aktor untuk dijadikan pemain. Aku yang jurusan kepengarangan seringkali dimintai naskah lakon oleh teman-temanmu. Anehnya aku tidak mendengar kalau kerepotan seperti teman-temanmu. Tampaknya kausangat mandiri sehingga bisa mengatasi semua ini.
            Selesai kuliah mata kuliah Penulisan Naskah dan Skenario kulihat kauberdiri di depan pintu. Tampaknya kausedang menunggu seseorang. Ketika aku mau melangkah pergi kaulangsung mencegatku
            “Ada apa Soleram?” tanyaku.
            “Saya mau minta tolong,” jawabmu Soleram.
“Minta tolong apa?” tanyaku.
 “Kamu ada naskah lakon enggak? Kalau ada saya minta satu ya?” pintamu Soleram.
            “Maaf semua naskahku sudah dipakai semua,” jawabku.
            “Yah, “ katamu Soleram kauterlihat sangat kecewa, “Saya boleh minta tolong lagi gak?”
            “Minta tolong apa?”
            “Saya minta tolong kamu mau bantui jadi aktor untuk ambil nilai penyutradaraan. Soleram susah mencari orang yang mau jadi aktor,” pintamu “Mau ya tolong banget,”
            “Iya. Iya Iya Aku mau kok. Kapan latihannya.”
            “Besok sore kita latihannya di ruang E5. Besok tolong datang ya. Datang ya please.”
            “Iya besok aku datang.”
            Setelah kita membicarakan tentang jadwal ini. Aku langsung pamit undur diri. Di jalan aku bernyanyi riang
            “Satu dua tiga dan empat lima enam tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang.
            Kawan lama dilupakan jangan.”
            Aku melirik ke belakang. Kulihat wajahmu begitu kesal mendengar nyanyianku. Tampaknya kau tidak mungkin marah karena kausedang butuh bantuanku.
Jambi, 12 Juli 2016


Cerpen ini adalah adaptasi lagu daerah yakni Soleram asal Riau

pertama kali dipublikasikan di e-campus.fkip,unja.ac.id/beritaktual pada 2016

Tuesday, July 25, 2017

Artiel: Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan

Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan

oleh: Febrianiko Satria

Suatu hari ketika lagi pusing memikirkan skripsi, saya iseng melihat-lihat timeline BBM melihat foto-foto cantik dari teman perempuan saya. Ketika asyik menggombal beberapa cewek, saya dikagetkan dengan teman saya yang cewek tiba-tiba sudah nikah. Lho kok bisa cepat amat ya. Ini gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba dilamar aja. Pikiran saya tiba-tiba melayang ke mana-mana. Membayangkan mulai yang baik-baik hingga berbagai kemungkinan buruk yang ada.
Daripada saya bingung saya pun lalu iseng bertanya pada teman-teman saya yang cewek dan jomblo. Pertanyaannya mudah aja sih: Jika ada seorang pemuda miskin yang baru beberapa hari mengenalmu dan dia tidak punya tempat tinggal mau melamarmu. Nah apa yang akan kamu lakukan? Menerima atau tidak? Sebelumnya perkara miskin dan tak punya tempat tinggal sengaja saya tambahkan agar bisa semakin menunjukkan pilihan asli cewek-cewek  yang saya kenal.
Pertanyaan ini membuat kaget teman-teman saya yang perempuan. Hah yang benar saja? Belum lagi kena ejek sama teman-teman sesama pria dan dituduh yang enggak-enggak. Akhirnya saya peroleh hasil yang mengejutkan. Jreng jreng jreng jreng jreng.
Dari 27 cewek yang saya tanya mulai dari umur 18  hingga 30 tahun yang saya tanya. Saya menemukan hasil berikut ini: 14 cewek memilih menolak lamaran, 3 cewek mau mempertimbangkan terlebih dulu, 6 cewek memilih menerima lamaran dan 4 cewek mengatakan belum kepikiran untuk menikah.
Untuk mereka yang menolak
Mereka memiliki alasan tersendiri. Ada beberapa pendapat sih yang saya dapatkan. Pertama mereka tidak akan menerima lamaran cowok yang dikenal. Kalau alasan ini adalah alasan yang umum. Kedua mereka tidak akan menerima karena mereka menganggap mereka tidak bisa diberi makan hanya dengan cinta aja. Bagi cowok-cowok yang pasti menganggap mereka adalah golongan cewek matre. Ketiga mereka mau tahu bibit bebet bobot calonnya dulu biar ya gak nyusahin lah ketika udah nikah. Keempat dijawab bahwa itu cowok mau bunuh diri dan alasan kelima cewek itu akan diajak ke psikolog. Tampaknya pendapat ke empat dan kelima ini sangat marah karena dianggap si cowok tidak serius dalam melamar.
Untuk yang memilih mempertimbangkan terlebih dulu
Kebanyakan sih mereka tidak bisa memutuskan sekarang. Menurut mereka moment pernikahan adalah moment yang sakral. Mereka tidak bisa memutuskan hal "penting" ini hari itu juga.
Dan yang menerima lamaran
Golongan yang selanjutnya ini adalah golongan yang cukup mengejutkan mereka menerima lamaran si cowok. Sebelumnya kita jangan berpikiran bahwa si cewek adalah cewek murahan atau gampangan. Kebanyakan yang menerima karena ingin berhijrah ke arah yang lebih baik. Lalu dilanjutkan dengan pendapat bahwa  kalau dia setelah menikah mau berkerja keras toh kenapa tidak. Lalu dilanjutkan dengan pendapat bahwa mereka memang tidak ingin pacaran. Mereka memang tidak suka dengan hal pacaran karena hanya mendatangkan dosa dan maksiat. Dari golongan ini tampaknya cowok akan akan sangat berbunga-bunga untuk melamar cewek golongan ini karena tidak perlu ribet langsung lamar aja, tetapi jangan langsung melamar tetap harus perhatikan pendapat-pendapat mereka, Guys.
Yang terakhir, belum mau menikah
Nah golongan yang terakhir ini mereka belum mau menikah mau menjawab karena alasan yang beragam. Pertama karena belum kepikiran untuk dilamar. Ada juga mengatakan bahwa mereka ingin menyelesaikan kuliah terlebih dulu. Mereka harus cowok-cowok hargai karena sebagai calon Ibu yang baik toh mereka harus mempersiapkan segalanya dengan matang.
Dari hasil survei kecil-kecilan ini bagaimana tanggapan kalian para lelaki bujangan yang mencari pasangan? Usahakan semuanya dipersiapkan dengan matang ya. Kan gak enak kalau kalau melamar cuma berujung penolakan. Sudah skripsi ditolak mulu sama dosen. Masa lamaran juga ditolak. Ups curhat.

ARTIKEL: Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua

Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua

oleh: Febrianiko Satria


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) adalah Fakultas dari Universitas Jambi yang menghasilkan guru-guru untuk membangun negara tercinta. Azek. Sebagai mahasiswa tua yang telah lama bertapa dengan urusan skripsi, saya akan membagikan berbagai ciri khas semester tua berdasarkan pengamatan saya sebagai Mbah Alex yang terkenal sejak jaman dinosaurus.
Wajah Kusut
Wajah mahasiswa tua sudah pasti sangat kusut. Bayangkan aja sudah mikirin mata kuliah yang tidak tuntas. Eh mikirin kapan wisuda, mana Bos di rumah nanya mulu kapan wisuda. Jangankan mikir wisuda, judul skripsi aja selalu ditolak dosen pembimbing. (Malah curhat hahaha).
Selalu Menenteng Tas Berisi Skripsi dan Buku
Dulu ketika masih berstatus mahasiswa muda paling malas yang namanya menenteng buku. Jangankan menenteng yang ada malah ditinggal di rumah. Sekarang semester tua harus beda. Bawa buku ke mana-mana. Tujuannya biar bisa dibilang mahasiswa rajin atau sebagai panutan yang tak bagus untuk junior karena kelamaan tamat. Hitung-hitung olahraga. Membuat sixpack tangan. Walaupun kepala selalu pusing mikirin skripsi.
Jones
Sudah wajah kusut, hitam, kurus, dekil, eh malah jones. Ya ampun. Beginilah penggambaran menyedihkannya mahasiswa tua. Coba bayangkan aja wanita mana yang tahan melihat lelaki pujaan hatinya lama tamat kuliah. Belum lagi calon mertua yang selalu menyindir kapan melamar anaknya. Boro-boro mau melamar, menyelesaikan skripsi aja susah. Dari pengalaman penulis, sih. Penulis seringkali mengalami putus hati karena masuk zona skripsi, mulai dari ditinggal pergi tanpa kabar hingga pacar tiba-tiba dilamar orang lain. Alasan mereka selalu sama: Kamu kelamaan tamat!
Parkir Depan Perpustakaan Univ Bukan Parkiran FKIP
Ini adalah perbedaan paling monumental yang membedakan mahasiswa abadi dan mahasiswa bau. Seperti kita tahu FKIP memiliki parkiran tersendiri dalam wilayah FKIP yang memiliki tingkat keamanan yang sudah membaik untuk mengurangi pencurian motor. Meskipun sudah memiliki parkiran tersendiri toh tetap saja tak semua mahasiswa mau memanfaatkan parkiran berbayar ini. Salah satunya, mahasiswa tua saja yang sudah lelah membayar uang parkiran FKIP. Meskipun cuma bayar seribu perhari. Toh tetap saja bikin susah bayarnya. Sudah banyak beli buku untuk buat skripsi. Belum lagi nge-print skripsi hanya untuk dicoret dosen. Pokoknya semakin susah deh bayar parkiran.

dipublikasikan pertama kali di IMC Campus: https://campus.imcnews.id/read/kalau-kamu-mengalami-hal-ini-selama-kuliah-di-fkip-unja-berarti-kamu-sudah-menjadi-mahasiswa-tua 10 Juni 2017

ARTIKEL: SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK

SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK
Oleh: Febrianiko Satria


Pilkada Jakarta sudah selesai. Indonesia yang selama ini dipusingkan dengan berbagai masalah Pilkada Ibukota sudah tidak perlu ribut lagi. Status di medsos yang awalnya ricuh penuh pertentangan mulai adem.
Ahok awalnya dicaci maki karena dugaan penistaan agama hingga didemo setiap bulannya. Kini, gelombang caci maki mulai sedikit mereda. Jakarta mulai tampak damai seperti biasanya.
Tidak bisa dibayangkan apa yang dirasakan Ahok saat ini. Mulai dari ketika Pilkada dia selalu diserang dengan ejekan kafir, dilanjutkan dengan dugaan penistaan agama terhadapnya, hingga dia didemo besar-besaran.
Sekarang, dia kalah dalam perhelatan Pilkada. Bisa dibayangkan betapa dia sangat terpukul dengan hal ini. Betapa banyak hal yang dilakukannya untuk Jakarta ketika menjabat, namun pada Pilkada kali ini dia 'seolah-olah dikhianati' oleh warganya sendiri. Saya sendiri mungkin akan merajuk bermingu-minggu seperti orang yang baru saja diputusi pacar.
Saya teringat dengan Drama Caligula karya Albert Camus. Dalam cerita ada seorang kaisar Romawi yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Kaisar itu melarikan diri berhari-hari. Setelah dia kembali, kaisar membuat kebijakan gila untuk warganya. Caligula menutup lumbung makanan nasional, memperkosa semua istri bangsawan, membuka rumah pelacuran nasional hingga memberlakukan hukuman mati untuk warganya.
Segala tindakan gila itu dilakukan setelah Caligula kehilangan kekasih hatinya. Bangsawan ingin memprotes, namun tidak bisa karena tindakan Caligula logis. Akhirnya, kekaisaran Romawi menjadi suram.
Sayangnya Ahok tidak bersikap begitu. Dia tidak seperti Kaisar Caligula yang patah hati yang melakukan hal gila sebagai balas dendam atas semua kekalahan yang menimpa padanya. Ahok malah bekerja sama dengan pihak Anis untuk membangun Jakarta ke arah yang lebih baik. Hal ini patut diacungi jempol karena Ahok mengaku kalah secara terhormat.
Meskipun saya bukanlah orang Jakarta, tidak tinggal di Jakarta dan tidak kerja di Jakarta saya salut dengan apa yang dilakukan Ahok. Dia sangat berlapang dada terhadap apa yang telah terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi dalam pemilihan kepala daerah. Apalagi dalam tegangan tinggi seperti Jakarta. Semoga Ahok bisa menikmati harinya yang tenang sebagai orang biasa. Selamat liburan, Koh.
Pertama kali dipublikasikan di IMC Campus: https://campus.imcnews.id/read/seandainya-aku-menjadi-ahok pada 1 Mei 2017

Monday, July 10, 2017

Fiksi Mini Honor

HONOR
karya: Febrianiko Satria

Sudah berbagai tulisan Rio kirimkan ke banyak koran. Ada beberapa cerpen ataupun esai yang masuk. Namun, setelah berbulan menunggu honor tulisan Rio belum juga ditransfer redaksi.
"Eh kenapa kamu sibuk dengan hpmu. Sini bantu Bapak ke kebun," perintah Ayah.
"Rio sedang nulis, Pak," jawab Rio.
"Tidak ada gunanya juga nulis itu. Tidak menghasilkan uang juga," bantah Ayah.
"Ada kok tulisan Rio yang dimuat kok. Ada honornya juga," bantah Rio lagi.
"Sekarang tunjukkan mana uangnya?" tanya Ayah.

Rio hanya membisu lalu masuk ke kamarnya.

*Febrianiko Satria, lahir di Jambi dan berkuliah di UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Sehari-hari aktif sebagai ketua Komunitas Berani Menulis.

Pertama kali dipublikasikan di IMC Campus https://campus.imcnews.id/read/honor tanggal 13 Mei 2017