Tuesday, July 25, 2017

Artiel: Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan

Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan

oleh: Febrianiko Satria

Suatu hari ketika lagi pusing memikirkan skripsi, saya iseng melihat-lihat timeline BBM melihat foto-foto cantik dari teman perempuan saya. Ketika asyik menggombal beberapa cewek, saya dikagetkan dengan teman saya yang cewek tiba-tiba sudah nikah. Lho kok bisa cepat amat ya. Ini gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba dilamar aja. Pikiran saya tiba-tiba melayang ke mana-mana. Membayangkan mulai yang baik-baik hingga berbagai kemungkinan buruk yang ada.
Daripada saya bingung saya pun lalu iseng bertanya pada teman-teman saya yang cewek dan jomblo. Pertanyaannya mudah aja sih: Jika ada seorang pemuda miskin yang baru beberapa hari mengenalmu dan dia tidak punya tempat tinggal mau melamarmu. Nah apa yang akan kamu lakukan? Menerima atau tidak? Sebelumnya perkara miskin dan tak punya tempat tinggal sengaja saya tambahkan agar bisa semakin menunjukkan pilihan asli cewek-cewek  yang saya kenal.
Pertanyaan ini membuat kaget teman-teman saya yang perempuan. Hah yang benar saja? Belum lagi kena ejek sama teman-teman sesama pria dan dituduh yang enggak-enggak. Akhirnya saya peroleh hasil yang mengejutkan. Jreng jreng jreng jreng jreng.
Dari 27 cewek yang saya tanya mulai dari umur 18  hingga 30 tahun yang saya tanya. Saya menemukan hasil berikut ini: 14 cewek memilih menolak lamaran, 3 cewek mau mempertimbangkan terlebih dulu, 6 cewek memilih menerima lamaran dan 4 cewek mengatakan belum kepikiran untuk menikah.
Untuk mereka yang menolak
Mereka memiliki alasan tersendiri. Ada beberapa pendapat sih yang saya dapatkan. Pertama mereka tidak akan menerima lamaran cowok yang dikenal. Kalau alasan ini adalah alasan yang umum. Kedua mereka tidak akan menerima karena mereka menganggap mereka tidak bisa diberi makan hanya dengan cinta aja. Bagi cowok-cowok yang pasti menganggap mereka adalah golongan cewek matre. Ketiga mereka mau tahu bibit bebet bobot calonnya dulu biar ya gak nyusahin lah ketika udah nikah. Keempat dijawab bahwa itu cowok mau bunuh diri dan alasan kelima cewek itu akan diajak ke psikolog. Tampaknya pendapat ke empat dan kelima ini sangat marah karena dianggap si cowok tidak serius dalam melamar.
Untuk yang memilih mempertimbangkan terlebih dulu
Kebanyakan sih mereka tidak bisa memutuskan sekarang. Menurut mereka moment pernikahan adalah moment yang sakral. Mereka tidak bisa memutuskan hal "penting" ini hari itu juga.
Dan yang menerima lamaran
Golongan yang selanjutnya ini adalah golongan yang cukup mengejutkan mereka menerima lamaran si cowok. Sebelumnya kita jangan berpikiran bahwa si cewek adalah cewek murahan atau gampangan. Kebanyakan yang menerima karena ingin berhijrah ke arah yang lebih baik. Lalu dilanjutkan dengan pendapat bahwa  kalau dia setelah menikah mau berkerja keras toh kenapa tidak. Lalu dilanjutkan dengan pendapat bahwa mereka memang tidak ingin pacaran. Mereka memang tidak suka dengan hal pacaran karena hanya mendatangkan dosa dan maksiat. Dari golongan ini tampaknya cowok akan akan sangat berbunga-bunga untuk melamar cewek golongan ini karena tidak perlu ribet langsung lamar aja, tetapi jangan langsung melamar tetap harus perhatikan pendapat-pendapat mereka, Guys.
Yang terakhir, belum mau menikah
Nah golongan yang terakhir ini mereka belum mau menikah mau menjawab karena alasan yang beragam. Pertama karena belum kepikiran untuk dilamar. Ada juga mengatakan bahwa mereka ingin menyelesaikan kuliah terlebih dulu. Mereka harus cowok-cowok hargai karena sebagai calon Ibu yang baik toh mereka harus mempersiapkan segalanya dengan matang.
Dari hasil survei kecil-kecilan ini bagaimana tanggapan kalian para lelaki bujangan yang mencari pasangan? Usahakan semuanya dipersiapkan dengan matang ya. Kan gak enak kalau kalau melamar cuma berujung penolakan. Sudah skripsi ditolak mulu sama dosen. Masa lamaran juga ditolak. Ups curhat.

ARTIKEL: Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua

Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua

oleh: Febrianiko Satria


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) adalah Fakultas dari Universitas Jambi yang menghasilkan guru-guru untuk membangun negara tercinta. Azek. Sebagai mahasiswa tua yang telah lama bertapa dengan urusan skripsi, saya akan membagikan berbagai ciri khas semester tua berdasarkan pengamatan saya sebagai Mbah Alex yang terkenal sejak jaman dinosaurus.
Wajah Kusut
Wajah mahasiswa tua sudah pasti sangat kusut. Bayangkan aja sudah mikirin mata kuliah yang tidak tuntas. Eh mikirin kapan wisuda, mana Bos di rumah nanya mulu kapan wisuda. Jangankan mikir wisuda, judul skripsi aja selalu ditolak dosen pembimbing. (Malah curhat hahaha).
Selalu Menenteng Tas Berisi Skripsi dan Buku
Dulu ketika masih berstatus mahasiswa muda paling malas yang namanya menenteng buku. Jangankan menenteng yang ada malah ditinggal di rumah. Sekarang semester tua harus beda. Bawa buku ke mana-mana. Tujuannya biar bisa dibilang mahasiswa rajin atau sebagai panutan yang tak bagus untuk junior karena kelamaan tamat. Hitung-hitung olahraga. Membuat sixpack tangan. Walaupun kepala selalu pusing mikirin skripsi.
Jones
Sudah wajah kusut, hitam, kurus, dekil, eh malah jones. Ya ampun. Beginilah penggambaran menyedihkannya mahasiswa tua. Coba bayangkan aja wanita mana yang tahan melihat lelaki pujaan hatinya lama tamat kuliah. Belum lagi calon mertua yang selalu menyindir kapan melamar anaknya. Boro-boro mau melamar, menyelesaikan skripsi aja susah. Dari pengalaman penulis, sih. Penulis seringkali mengalami putus hati karena masuk zona skripsi, mulai dari ditinggal pergi tanpa kabar hingga pacar tiba-tiba dilamar orang lain. Alasan mereka selalu sama: Kamu kelamaan tamat!
Parkir Depan Perpustakaan Univ Bukan Parkiran FKIP
Ini adalah perbedaan paling monumental yang membedakan mahasiswa abadi dan mahasiswa bau. Seperti kita tahu FKIP memiliki parkiran tersendiri dalam wilayah FKIP yang memiliki tingkat keamanan yang sudah membaik untuk mengurangi pencurian motor. Meskipun sudah memiliki parkiran tersendiri toh tetap saja tak semua mahasiswa mau memanfaatkan parkiran berbayar ini. Salah satunya, mahasiswa tua saja yang sudah lelah membayar uang parkiran FKIP. Meskipun cuma bayar seribu perhari. Toh tetap saja bikin susah bayarnya. Sudah banyak beli buku untuk buat skripsi. Belum lagi nge-print skripsi hanya untuk dicoret dosen. Pokoknya semakin susah deh bayar parkiran.

dipublikasikan pertama kali di IMC Campus: https://campus.imcnews.id/read/kalau-kamu-mengalami-hal-ini-selama-kuliah-di-fkip-unja-berarti-kamu-sudah-menjadi-mahasiswa-tua 10 Juni 2017

ARTIKEL: SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK

SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK
Oleh: Febrianiko Satria


Pilkada Jakarta sudah selesai. Indonesia yang selama ini dipusingkan dengan berbagai masalah Pilkada Ibukota sudah tidak perlu ribut lagi. Status di medsos yang awalnya ricuh penuh pertentangan mulai adem.
Ahok awalnya dicaci maki karena dugaan penistaan agama hingga didemo setiap bulannya. Kini, gelombang caci maki mulai sedikit mereda. Jakarta mulai tampak damai seperti biasanya.
Tidak bisa dibayangkan apa yang dirasakan Ahok saat ini. Mulai dari ketika Pilkada dia selalu diserang dengan ejekan kafir, dilanjutkan dengan dugaan penistaan agama terhadapnya, hingga dia didemo besar-besaran.
Sekarang, dia kalah dalam perhelatan Pilkada. Bisa dibayangkan betapa dia sangat terpukul dengan hal ini. Betapa banyak hal yang dilakukannya untuk Jakarta ketika menjabat, namun pada Pilkada kali ini dia 'seolah-olah dikhianati' oleh warganya sendiri. Saya sendiri mungkin akan merajuk bermingu-minggu seperti orang yang baru saja diputusi pacar.
Saya teringat dengan Drama Caligula karya Albert Camus. Dalam cerita ada seorang kaisar Romawi yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Kaisar itu melarikan diri berhari-hari. Setelah dia kembali, kaisar membuat kebijakan gila untuk warganya. Caligula menutup lumbung makanan nasional, memperkosa semua istri bangsawan, membuka rumah pelacuran nasional hingga memberlakukan hukuman mati untuk warganya.
Segala tindakan gila itu dilakukan setelah Caligula kehilangan kekasih hatinya. Bangsawan ingin memprotes, namun tidak bisa karena tindakan Caligula logis. Akhirnya, kekaisaran Romawi menjadi suram.
Sayangnya Ahok tidak bersikap begitu. Dia tidak seperti Kaisar Caligula yang patah hati yang melakukan hal gila sebagai balas dendam atas semua kekalahan yang menimpa padanya. Ahok malah bekerja sama dengan pihak Anis untuk membangun Jakarta ke arah yang lebih baik. Hal ini patut diacungi jempol karena Ahok mengaku kalah secara terhormat.
Meskipun saya bukanlah orang Jakarta, tidak tinggal di Jakarta dan tidak kerja di Jakarta saya salut dengan apa yang dilakukan Ahok. Dia sangat berlapang dada terhadap apa yang telah terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi dalam pemilihan kepala daerah. Apalagi dalam tegangan tinggi seperti Jakarta. Semoga Ahok bisa menikmati harinya yang tenang sebagai orang biasa. Selamat liburan, Koh.
Pertama kali dipublikasikan di IMC Campus: https://campus.imcnews.id/read/seandainya-aku-menjadi-ahok pada 1 Mei 2017

Monday, July 10, 2017

Fiksi Mini Honor

HONOR
karya: Febrianiko Satria

Sudah berbagai tulisan Rio kirimkan ke banyak koran. Ada beberapa cerpen ataupun esai yang masuk. Namun, setelah berbulan menunggu honor tulisan Rio belum juga ditransfer redaksi.
"Eh kenapa kamu sibuk dengan hpmu. Sini bantu Bapak ke kebun," perintah Ayah.
"Rio sedang nulis, Pak," jawab Rio.
"Tidak ada gunanya juga nulis itu. Tidak menghasilkan uang juga," bantah Ayah.
"Ada kok tulisan Rio yang dimuat kok. Ada honornya juga," bantah Rio lagi.
"Sekarang tunjukkan mana uangnya?" tanya Ayah.

Rio hanya membisu lalu masuk ke kamarnya.

*Febrianiko Satria, lahir di Jambi dan berkuliah di UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Sehari-hari aktif sebagai ketua Komunitas Berani Menulis.

Pertama kali dipublikasikan di IMC Campus https://campus.imcnews.id/read/honor tanggal 13 Mei 2017

CERPEN: REMUKNYA BULA DIPERTENGAHAN TAHUN


REMUKNYA BULAN DIPERTENGAHAN TAHUN


oleh: Febrianiko Satria
            Bibir-bibir itu bertengkar satu sama lainnya. Bibir-bibir itu saling serang, saling sikut dan saling menyalahkan tentang nasib nenek yang sedang terlunta-lunta. Bibir pertama mengatakan kalau seharusnya nenek itu tidak perlu membuka tutup saji kepada bibir yang kelaparan  di bulan sejuta do’a. Bibir yang lain mengatakan ini semua demi alasan kemanusiaan. Bibir pertama tidak terima lalu meludah ke bibir kedua. Bibir kedua menjadi berang karena merasa terhina. Bibir kedua lalu memuntahkan isi perutnya ke bibir pertama. Ludah dan muntah berterbangan mengotori nafas cakrawala.
***
            Surya belum menampakkan diri di atap bumi. Sepi dan dingin masih menyelimuti bumi. Hanya imbauan dari toa masjid yang masih terdengar membangunkan manusia yang terlelap dari tidurnya, agar bisa menikmati sahur. Murtinem, wanita tua berbadan bongsor itu sudah sahur langsung bersiap-siap di warung makannya. Murtinem menata berbagai sayur, daging dan bumbu-bumbu yang baru saja dibelinya dari pasar. Anaknya, Yuyun baru saja selesai salat subuh. Yuyun melepas mukena yang dikenakannya lalu menata rambutnya yang masih berantakan. Setelah merapikan sejadahnya, Yuyun lalu membantu Maknya bersiap-siap di warung.
            Yuyun yang sedang menata sayur bertanya kepada Murtinem “Mak, Apa boleh buka warung pas bulan puasa ini?”
“Bolehlah siapa bilang tidak boleh. Kalau Mamak tidak jualan. Bagaimana caranya Mamak ngasih kau makan? Terus darimana kita bisa lebaran kalau kita tidak jualan?” jawab Murtinem.
            “Tapi, Mak. Yuyun ada nonton berita katanya tidak boleh buka warung pas puasa, Mak,” balas Yuyun.
“Itu bohong aja. Tahun kemarin kan warung Mamak tetap buka tapi tidak kena razia juga,” jawab Murtinem.
“Tapi Mak.”
“Sudah jangan tapi-tapian lagi. Toh tidak semua orang disini itu puasa. Mereka kan juga mau makan,”
Mentari perlahan-lahan mulai meninggi, ayam yang tertidur lelap segera bangun dan menyanyikan kokok merdunya pagi itu.
***
          Warung Murtinem letaknya tidak di depan rumahnya. Warung itu terletak tidak terlalu jauh dari keramaian. Pintu warung yang sederhana itu ditutup oleh kain. Alasan Murtinem menutupnya dengan kain agar dia tidak dimarahi oleh tetangga sekitarnya karena masih juga membuka warung.
          Bayu, pria yang masih muda, memakai kemeja putih dan celana hitam masuk ke warung Murtinem. Dia terlihat lesu dan berkeringat. “Bude, nasi campurnya satu serta es teh.” Katanya
“Kamu tidak puasa, Yu?” tanya Murtinem.
“Tadi pagi sahur Bude,” jawab Bayu. Bayu lalu duduk di kursi dan menaruh tasnya.
Murtinem yang sedang menyiapkan nasi campur menjadi tertawa“Itu namanya puasa yangyuk puasa gak jelas,”
“Ah biarlah Bude. Yang penting orang rumah tidak lihat kita makan,” kata Bayu.
        Murtinem lalu menaruh nasi campur dan es teh ke meja Bayu. Bayu lalu segera memakannya. Baru beberapa suap nasi Bayu iseng bertanya pada Murtinem “Eh Bude. Mau nanya Bude boleh gak?”
“Mau nanya apa, Nak?” balas Murtinem.
“Diantara orang satu RT kita ini siapa aja yang sering makan di sini kalau lagi bulan puasa ini?” tanya Bayu.
Murtinem lalu pergi ke meja Bayu “Ada beberapa orang. Tapi kamu diam-diam aja ya. Pertama itu Pak Camat, Pak Ibon dan Pak Reza sering makan di sini.”
“Hah pak camat sering makan ke sini? Padahal dia yang nuruh warung ditutup ketika puasa ini,” kata Bayu. Bayu lalu meminum es teh.
“Pejabat tu kebanyakan cuma jago ngomong aja,” timpal Murtinem.
“Kalau Pak Bambang sering tidak makan di sini?” tanya Bayu lagi.
“Kalau pak Bambang sesekali makan ke sini. Hari ini datang lalu dua atau tiga hari kemudian baru makan di sini,” jelas Murtinem.
        Bayu yang mendengar penuturan Murtinem menjadi kaget. “Padahal dia keliatan seperti orang yang alim. Eh gak taunya sama aja dengan yang lain,” kata Bayu kesal.
Bayu lalu melanjutkan percakapan lainnya dengan Murtinem. Mereka membicarakan apa saja. Setelah nasi di piring Bayu habis dia duduk dulu sebentar lalu memesan es teh manis lagi. Seteah dirasa nasi diperutnya sudah turun, Bayu lalu membayar nasinya lalu pergi dari warung Murtinem.
***
            Semakin lama warung Murtinem semakin rame diisi pelanggan yang tidak puasa. Hal ini menimbulkan gosip di kalagan tetangganya. Hal ini wajar saja karena mereka sendri takut kalau suami atau anak mereka di rumah mengak puasa sedngkan di rumah mereka mengaku puasa.
            Mak Yen, Wak Iin dan Mak Bimo sedang berkumpul di terasnya Mak Bimo. Walaupun puasa mereka tidak bisa behenti menggosip tentang tetangga.
            “Kacau tu si Mur. Masa bulan puasa masih buka warung juga,” gerutu Wak Iin mengawali gosip kali ini.
            “Iya. Masa pagi-pagi sudah buka warung. Apa salahnya buka warungnya sore aja. Nampak nian dianya nyari untung besar,” gerutu Mak Bimo.
            “Itulah. Nanti suami kita malah makan disana. Di rumah kelihatan puasa. Eh tidak aunya di luar malah buka puasa,” gerutu Mak Yen.
            “Takutnya anak-anak kita yang masih kecil ini liat orang makan dia ikutan pula makan,” gerutu Wak Iin.
            Mak Yen lalu berdiri dengan gayanya yang seolah-olah dibuat marah. Kakinya yang bekas patah itu membuat berdirinya menjadi tidak stabil “Sekali-kali kita grebek aja warungnya biar dia berhenti jualan siang-siang,” kata Mak Yen.
            “Iya aku setuju tuh. Sekali-kali harus kita grebek itu warung,” kata Wak Iin menyetujui.
            Bapak Bimo yang sedang tertidur di ruang tamu jadi terbangun karena ribut gosip Ibu-ibu. Bapak Bimo lalu pergi ke teras rumah dan melerai mereka. “Ada apa ini Ibu-ibu. Siang-sing udah gosip aja. Gak sadar apa sekarang masih bulan puasa,”
            “Namanya juga Mak-mak. Sehari-hari kerjanya ya gosip itulah,” kata Wak Iin membela.
            “Bulan puasa itu ditahan jugalah mulutnya jangan gosip aja kerjanya,” kata Bapak Bimo.
            Mak Yen, wak Iin dan Mak Bimo tidak perduli dengan perkataan Bapak Bimo. Mereka tetap melanjutkan gosip. Setelah puas, Ibu-ibu itu pulang ke rumah mereka masing-masing.
***
            Tidak terasa hari sudah menunjukkan pertengahan Ramadhan. Pengunjung warung Murtinem semakin banyak ada anak muda da ada orang tua, ada laki-laki dan ada perempuan. Terkadang ada yang membawa satu keluarga makan di warung Murtinem. Hal ini terus berlangsung setiap harinya. Tak heran Murtinem terus mendapatka untung yang lebih banyak daripada biasanya.
            Bumi diliputi dengan wajah-wajah yang lemas, sementara bibirnya penuh dengan berbagai keluh mengeluh. Hari kian menyepi karena bibir-bibir pengeluh ingin beristirahat dengan tenang di rumahnya. Hari yang menyepi itu lalu terusik oleh kumpulan pria berpakaian kemeja hijau, sepatu bot hitam yang keras serta topi berarna hijau. Sat Pol PP melakukan razia terhadap berbagai warung dan rumah makan yang tidak patuh dengan larangan berjualan ketika bulan Ramadhan. Pol PP menggeledah warung Murtinem. Terjadi cek cok diantara Pol PP dan keluarga Murtinem. Murtinem berusaha menghadang Pol PP untuk masuk kedalam warung dan menggeledah warung. Pol PP lalu menerobos masuk dan mulai mengangkut berbagai barang yang ada dalam warung. Pol PP juga mengambil berbagai makanan yang dijual. Murtinem tidak bisa berbuat banyak. Murtinem hanya menangis menatap Sat Pol PP mengambil semua makanannya. Selesai melakukan razia di warung Murtinem, Sat Pol PP lalu pergi melanjutkan razia di warung lainnya.
***
            Setelah kejadian razia di setiap warung pada bulan Ramadhan, bumi dipenuhi oleh perbincangan-perbincangan tanpa berhenti. Bibir-bibir saling menyatakan pendapat mengenai kejadian itu. Bibir kelompok pertama mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan adalah sebuah kebenaran. Bibir kelompok kedua mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan adalah sebuah kesalahan besar. Kedua kelompok bibir saling adu argumen satu sama lain. Bibir kedua yang tidak terima lalu membuka kantong sumbangan untuk Murtinem. Sumbangan dari berbagai tangan perlahan-lahan terkumpul ke kantong sumbangan. Sumbangan yang awalnya sebiji perlahan-lahan menggunung tinggi. Bibir pertama protes terhadap tindakan bibir kedua yang terlalu berlebihan. Bibir kedua lalu membela dan mengatakan bahwa itu adalah hal yang benar. Kedua bibir saling berdebat satu sama yang lain. Bibir pertama meludah kepada bibir kedua. Bibir kedua tidak terima. Bibir kedua lalu muntah ke bibir pertama. Ludah dan muntah berterbangan mengotori nafas cakrawala.
            Murtinem menatap saling sikut diantara kedua bibir dengan sangat sedih. Matanya berkaca-kaca menatap perkelahian diantara mereka berdua. Dalam lubuk hatinya merasakan penyesalan terhadap tindakan yang telah dilakukan.
            Yuyun  mengusap air mata Maknya dan berusaha menenangkan Murtinem yang sedang sedih. “Udahlah Mak. Ini semua sudah terjadi, Mak.”
            Udara terasa sangat panas. Langit cerah perlahan-lahan ditutupi awan hitam. Dari langit yang semakin menghitam meneteslah air ke bumi. Bumi yang kering lalu basah oleh tangisan awan. Tanah menjadi larut dalam tangisan awan. Air menggenang dimana-mana. Air perlahan merembes masuk ke warung Murtinem lalu membasahi lantai. Di atas kursi tampak perwakilan salah satu bibir membawa uang hasil sumbangan sambil menikmati nasi dari warung Murtinem.
Jambi, 30 Juni 2016

*Febrianiko Satria. Masih berstatus Mahasiswa di UNJA, FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini aktif sebagai Ketua Komunitas Berani Menulis (KOMBES). Kumpulan karyanya dimuat dalam beberapa antologi diantaranya: Rumah Cinta ( 2015), Buntung (2016), Siginjai Kata-Kata ( 2016), Senandung Dua Warna (2016) dan Kicau [H]ayat ( 2016).

Pertama kali dipublikasikan di IMC CAMPUS: https://campus.imcnews.id/read/remuknya-bulan-di-pertengahan-tahun tanggal 23 April 2017