Senin, 14 September 2015

Naskah Lakon Meraung



MERAUNG
Ide cerita: Cerita rakyat Desa Londerang, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi
Penulis Naskah: Febrianiko Satria
Untuk pementasan harap meminta izin kepada Penulis
Deskripsi Tokoh:
1. Supik: Seorang gadis yang memiliki penyakit Ayan, rambut ikal berantakan, memakai baju kurung, kain panjang sampai mata kaki dan memiliki tompel di pipi kiri. Ia hidup sendirian di desa, dikucilkan dan dijauhi dari kehidupan.
2. Zulaikha: Seorang Ibu rumah tangga, memakai baju kurung, suka bergosip, sangat sombong, sangat cerewet,iri kepada orang lain dan sangat jijik dengan orang yang memiliki penyakit Ayan.
3. Azila: Seorang Ibu rumah tangga, memakai baju kurung, polos, baik. punya empati kepada orang lain.
4. Tolet: Seorang Pria, memakai baju melayu, memiliki nafsu birahi yang tinggi, suka meremehkan orang lain dan sombong.
5. Muaz: Seorang Pria, memakai baju melayu, pura-pura baik dan ramah kepada orang lain, sombong, meremehkan orang lain dan memiliki nafsu birahi yang tinggi terhadap perempuan.
6. Yanti: Seorang anak perempuan, polos, riang dan suka berain permainan tradisional.
7. Pencuri: Sorang laki-laki atau perempuan, memakai penutup wajah dan sangat waspada.

ADEGAN 1
Panggung menggambarkan perdesan terdapat  rumah panggung yang reot. Didalam rumah panggung yang reot tinggallah Supik. Supik memiliki rambut ikal berantakan, tompel di pipi sebelah kiri, memakai baju kurung dan kain panjang sampai mata kaki. Supik sedang duduk melamun.
1. Supik: Inilah aku, Supik. Tinggal sendirian di rumah yang sudah reot, tanpa ada sanak saudara, disini orang-orang di sekitar mengucilkanku, mereka tidak mau bergaul ataupun bercengkrama denganku. Satu-satunya orang yang mau menemaniku dan menyayangiku  hanyalah orang tuaku tapi sayangnya mereka telah meninggal dunia. Kini tinggallah aku sendirian. Ya Tuhan, mengapa nasibku buruk sekali. Aku tidak mengerti mengapa tetangga sekitar menjauhiku. Setiap aku berjalan kmereka langsung pergi. Setiap aku ingin bertamu mereka langsung mengusirku. Mereka bilang kalau aku terkena Penyakit Ayan dan mereka tidak mau dekat-dekat dengan alasan takut tertular penyakitku. Padahal penyakitku ini tidak menular sama sekali. (menangis terisak)
Dari bangku penonton Zulaikha berdiri dengan wajah penuh kesal memarahi Supik.
2. Zulaikha: Supik pergi dari sini! Jangan dekat-dekat dengan kami! (mendatangi Supik lalu menendangnya) Pergi kau dari sini! (Supik ketakutan dan kembali ke panggung Zulaikha masuk ke panggung) Ih dasar menjijikkan. Kadang-kadang penyakitnya suka kumat sendiri. Kalau sudah kumat dia bisa mengamuk lalu menghancurkan segala yang ada disekitarnya. Ih pergi sana! Nanti aku malah ketularan penyakitmu.
Supik semakin sedih. Tiba-tiba penyakit Ayannya kambuh. Supik lalu terjatuh dan tubuhnya kejang-kejang di seluruh anggota tubuh.
3. Zulaikha:  (Ketakutan) Waduh sakitnya kumat lagi. Tolong Supik kumat! Tolong!
Zulaikha meninggalkan panggung dengan wajah penuh ketakutan. Tidak lama kemudian Supik berhenti mengamuk. Supik menangis tersedu-sedu.
4. Supik: Sampai kapan aku harus terus sakit? Sampai kapan Tuhan? (Penyakit Ayan Supik kembali kambuh Supik lalu mengamuk tidak terkendali. Setelah itu ia terduduk putus asa) Mungkin selamanya aku akan tetap seperti ini. Terusir dari kehidupan tenggelam dalam kesunyian.
ADEGAN 2
Dari sisi kiri panggung datanglah Pria memakai pakaian melayu. Lelaki itu menatap Supik dengan tatapan penuh nafsu.
5. Tolet: Eh. Bukan kah itu Supik. (mengawasi keadaan sekitar) Tampaknya dia sendirian aja.  Sepertinya aku bisa senang-senang malam ini (tertawa). Tunggu dulu. Kalau aku lakukan itu apakah dia ngadu ya? (berpikir) Ah tidak usah takut. Dia kan dianggap orang gila disini. Disini dia sudah jadi sampah oleh masyarakat sekitar. Sebaiknya ku dekati saja perawan itu.
Tolet pelan-pelan berjalan mendekati Supik. Ekspresi Tolet menunjukkan dia sudah sangat bernafsu dengan Supik. Tolet lalu mendekati Supik.
6. Tolet: Malam manis.
7. Supik: Kau siapa?
8 Tolet: Saya cuma kebetulan lewat disini aja kok manis.
9. Supik: Dari mata mu. Tampaknya kau bukan orang baik-baik. Pergi! Pergi dari sini!
10. Tolet: Saya ini orang yang baik kok, Manis. Lagipula saya juga baru datang masa sudah disuruh pergi. Saya disini juga mau menemani Supik biar tidak sendirian.
11. Supik: Saya tidak butuh ditemani. Saya sudah terbiasa hidup sendiri!
12. Tolet: Tenang, tenang dulu. Masa hanya menemani Supik saja sudah disuruh pergi. Daripada Supik sendirian disini lebih baik bermain berdua saja dengan Abang.
Terjadi perkelahian antara Tolet dengan Supik.Supik berusaha sekuat tenaga untuk bisa lepas dari cengkraman Tolet tetapi sayangnya Supik tidak bisa lepas dari Tolet. Supik meronta, dia berteriak minta tolong sambil terus berusaha agar bisa lepas dari Tolet. Supik lalu diseret oleh Tolet ke suatu sudut. Lampu lalu padam yang terdengar hanya suara rintihan Supik dan tawa keras Tolet.
Lampu menyala kembali. Pakaian Supik tampak melorot. Supik sedih dan menangis.
Zulaikha berjalan masuk ke panggung. Dia berjalan sendirian sambari melihat pemandangan desa. Zulaikha tidak sengaja bertemu dengan Supik. Zulaikha menatap Supik dengan sangat jijik.
13. Supik: Bu tolong saya. Tadi ada pria yang memperkosa saya. Tolong saya Bu. Tolong bantu saya menghukum mereka.
14. Zulaikha: Hah? Apa aku tidak salah dengar? Memangnya ada lelaki yang bernafsu dengan wanita sepertimu? Kau pasti sedang ngigau (tertawa)
15. Supik: Saya tidak ngigau, Bu. Ada seorang pria tadi yang datang lalu memperkosa saya.
16. Zulaikha: Ah palingan kau berbohong. Palingan Cuma orang gila aja yang mau denganmu.
17. Supik: Bu tunggu Bu. Saya tidak berbohong, Bu. Dia benar-benar merebut keperawanan saya. Tolong bantu saya. Tolong bantu saya untuk menghukum Pria itu.
            Zulaikha lalu pergi sambil menyanyi lagu daerah Jambi.
LAMPU MATI
Lampu kembali hidup menampilkan siluet Supik yang sedang melahirkan anaknya. Supik berusaha keras agar anaknya bisa lahir. Tidak lama kemudian anak Supik lahir. Seorang pencuri mengendap-endap lalu mengambil anak Supik yang baru saja lahir Supik berusaha untuk mempertahankan anaknya. Namun karena ia terlalu lelah sehabis melahirkan, Pencuri berhasil membawa lari anak Supik yang baru saja dilahirkan. Supik lalu menangis dan eronta-ronta.
LAMPU PADAM
Supik tampak sendirian ditengah-tengah panggung. Dia tampak sedang sedih.
18. Supik: Anakku kau dimana?
Tampak Zedda dan Azila sedang berjalan dipanggung. Mereka tampak heran melihat Supik yang sedang sedih.
19. Azila: Kenapa tuh Supik nangis?
20. Zedda: tak usah dihiraukan, Bu. Dia itu sakit gila babi. Kalau kita dekat-dekat dengan dia bisa-bisa kita tertular.
21. Azila: Kenapa kau nangis Supik?
22. Supik: Anakku dicuri, Bu. Kemarin aku melahirkan anakku tapi ia dicuri oleh pencuri.
23. Zedda: Hah dicuri? Memangnya ada yang mau mencuri anakmu? Ih. Hanya orang tidak waras saja yang mau mencuri anakmu. Udah kita tinggalin aja. Palingan anaknya itu sebenarnya tidak ada dan dia hanya mengarang cerita saja untuk menipu kita. Ayo kita pergi dari sini.
24. Azila: Tapi
25. Zedda: Sudahlah ayo pergi.
             Muaz masuk ke panggung. Muaz itu heran melihat Supik. Muaz itu memberanikan diri mendekati Supik.
26. Muaz: Hey kamu! Kenapa kau menangis sendirian disini?
27. Supik: Aku baru saja kehilangan anak pertamaku. Ia dicuri setelah aku melahirkannya. Kamu siapa? Tampaknya kamu bukan laki-laki yang baik.
28. Muaz: Tenang, jangan takut. Aku orang yang baik. Aku hanya kebetulan lewat disini.
29. Supik: Kau pasti berbohong. Aku pernah diperkosa oleh orang yang pura-pura baik sepertimu. Jangan-jangan kau sama seperti orang itu. Kau pasti hendak memperkosa ku juga kan?
30. Muaz: Tenang aku tidak akan memperkosamu. Justru sebaliknya, Aku akan membantumu menemukan anakmu yang hilang itu.
31. Supik: Apa kau berbohong?
32. Muaz: Demi Tuhan aku tidak berbohong.
33. Supik: Kau boleh membantuku tapi kau akan tetap ku awasi. Aku masih tidak percaya denganmu.
34. Muaz: Terserah kau saja. Dimana kira-kira kau kehilangan anakmu?
35. Supik: Disini (pergi ke arah belakang panggung). Disini aku kemarin melahirkannya lalu tiba-tiba ada seorang manusia datang mengendap-endap lalu membawa lari anakku.
36. Muaz: Kira-kira kemana ia pergi?
37. Supik: Kesana (menunjuk ke arah kanan penonton). Ia pergi ke dalam sana.
40. Muaz: Berarti pelakunya adalah orang yang berasal dari daerah itu kemungkinan anakmu masih ada disana. Ayo kita segera kesana.
41. Supik: Ayo.
Muaz dan Supik pergi menuju ke arah kanan penonton. Mereka lalu mencari anak Supik diantara kerumunan penonton. Setelah lelah mencari Supik dan Muaz kembali ke panggung.
42. Supik: Anakku kau dimana nak? (sedih) kemana lagi Mak harus mencarimu?
43. Muaz: Mungkin dia tidak ada disana. Mungkin dia ada ditempat yang lain.
44. Supik: Dimana?
45. Muaz: Disana (menunjuk ke arah kiri dalam panggung). Iya coba kita cari dulu disana.
46. Supik: Kau yakin?
47. Muaz: Kita coba dulu.
Mereka kemudian pergi ke arah kiri panggung.
48. Supik: Kau yakin disini tempatnya?
49. Muaz: Ya aku yakin disini tempatnya. Tempat dimana kau akan mendapat anakmu yang baru (menatap Supik penuh nafsu)
50. Supik: Kau berbohong kau sengaja menipuku.
51. Muaz: Kau saja yang bodoh.
52. Supik: Hentikan! Tolong!
Lampu mati. Terdengar suara  Supik merintih dan minta tolong yang terdengar parau. Terdengar juga suara tawa dari Muaz itu.
Lampu kembali hidup. Dipanggung tampak Supik sedang menimang-nimang anaknya.
53. Supik: Cup cup anak emak yang ganteng. Siapa yang ganteng. Siapa yang ganteng  (terdengar suara bayi tertawa) Lucunya anak emak ini. (terdengar suara bayi menangis) kenapa anak emak nangis? Oh kamu pipis ya. Emak ganti duluya celananya. (menaruh anaknya ditempat tidur lalu mencaari celana ganti)
Sesosok manusia memakai penutup kepala masu ke dalam panggung. Lalu pergi membawa bayi Supik. Supik berusaha merebut kembali anaknya. Terjadi pertikaian diantara mereka. Mereka bertengkar hebat. Supik tidak bisa mengehentikan pencuri itu. Pencuri itu lalu pegi membawa kabur bayi Supik.
Supik menangis meratapi kepergian anaknya. Lampu merah menyorot Supik yang sedang menangis.
54. Supik: Anakku baru sbeberapa hari yang lalu engkau kulahirkan, Kini kau sudah dicuri oleh orang lagi. Kenapa hal ini terjadi lagi? Kenapa? Siapapun tolong. Tolong aku! Tolong aku untuk mengambil lagi anakku.
Tolet masuk ke panggung dia datang dengan sangat santai.
55. Tolet: (tertawa) Percuma saja tidak akan ada yang mendengarmu. Tidak ada satupun orang-orang di desa ini yang peduli denganmu. Lihat! Coba lihat! Mana ada orang yang mau membantumu!
56. Supik: Itu tidak benar. Itu tidak mungkin!
57. Tolet: Buka matamu. Lihat! Tidak ada satupun orang yang mau menghapus kesedihanmu. Tidak ada satupun! Daripada kau menangis terus lebih baik kau menghibur diriku. Aku sangat suka dengan pelayanan yang kau berikan pada waktu itu.
58. Supik: Tidak! Pergi! Hentikan! Hentikan!
Lampu padam.
            Lampu menyala. Di dalam siluet  tampak Supik yang sedang melahirkan. Siluet kedap kedip tidak beraturan. Setelah melahirkan pencuri lalu masuk mencuri kembali bayi Supik. Pencuri lalu keluar dari siluet. Pencuri itu mengendap-endap sambil mengawasi keadaaan sekitarnya. Supik lalu meronta-ronta dibalik siluet. Pencuri lalu berjalan pelan-pelan keluar panggung.
Lampu padam,
Lampu kembali menyala. Supik tampak sedih dan meratap disebelah kiri panggung.
60. Supik: Oh nak. Kenapa kau harus pergi lagi dari pelukan, Mak. Siapa orang yang tega memisahkan kamu dengan emakmu ini? Kenapa orang-orang itu tega memisahkan kita berdua? Aku tidak percaya kenapa hal ini terus terjadi? Ya Tuhan Apa salah hambamu ini? Kenapa hambamu ini tidak diperkenankan untuk bisa hidup bersama dengan anak hamba? Tuhan kembalikan Ia. Kembalikan anak hamba ke pelukan hamba Tuhan!
ADEGAN 3
            Anak-anak masuk ke panggung. Mereka berjalan riang gembira. Anak-anak itu lalu mendekati Supik.
61. Yanti: Kenapa kamu bersedih sendiri disini?
62. Supik: Ibu telah kehilangan anak-anak Ibu. Mereka semua diculik orang.
63. Yanti: Sebaiknya Ibu jangan sedih. Emak ku pernah bilang kalau kita jangan terus bersedih. (berpikir) daripada kamu bersedih lebih baik kamu bermain-main saja denganku.
            Yanti lalu mengajak Supik bermain permainan tradisional. Mereka tampak riang gembira memainkan permainan itu.
            Ketika mereka sedang asyik bermain Zulaikha masuk ke panggung lalu menghentikan Yanti bermain. Selanjutnya Zulaikha lalu membawa pulang Yanti.
64.. Zulaikha: Kau jangan main-main dengan Supik. Nanti bisa-bisa kau dimakan sama Supik. Mau kau dimakan sama Supik?
65. Yanti: Tapi Yanti belum pernah lihat dia makan orang.
67. Zulaikha: kau saja yang tidak tahu. Kemaren itu anak Kepala Desa itu hilang karena dimakan sama Dia.
68. Yanti: Ah Ibu Bohong,
69. Zulaikha: Sudahlah Ayo kita pulang.
70. Zulaikha: Awas yo kau, Pik. Jangan pernah selangkahpun kau dekati anak aku lagi. Kalau berani akan habis kau.
Zulaikha dan Supik lalu meninggalkan panggung.
71. Supik: Apa salahnya aku bermain dengan  anak-anak. Kenapa tidak boleh? Apa mereka takut terkena penyakitku? Mereka takut anak-anak mereka disiksa takut anak-anak mereka kumakan? Aku tidak mungkin melakukan hal itu karena aku sangat menyayangi mereka. Aku sangat menyayangi anak-anak. Mereka semua baik-baik tidak seperti orang tua mereka. (Tiba-tiba penyakit Ayan Supik kambuh) Daripada aku bersedih disini lebih baik aku memancing disungai. Biarlah aku meikmati kesendirianku dengan tenangnya aliran sungai itu. Apalagi di rumahku sudah tidak ada lagi makanan untuk kumakan. Sebaiknya aku pergi sekarang.
Supik lalu mengambil pancingan bambu yang ada di dekatnya. Lalu ia pergi ke sungai. Di sungai ia memancing sambil merenung nasib buruknya. Tiba-tiba penyakit ayannya kambuh. Kambuh penyakitnya ini lebih hebat daripada biasanya. Tidak lama kemudian ia jatuh ke sungai dan mati disana.
LAMPU PADAM
Lampu kembali menyala. Di panggung terlihat mayat Supik. Zulaikha yang kebetulan lewat menjadi kaget dan mendekati mayat itu. Setelah mengetahui bahwa itu mayat Supik Zulaikha menjadi kaget, ia lalu menangis di hadapan mayat itu
72. Zulaikha: (bersedih, menjerit dan menangis) Ya Allah Supik. Supik. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau meninggal? Kenapa kau cepat pergi meninggalkan dunia ini?
Tolet yang kaget dengan jeritan Zulaikha pergi masuk ke panggung dan mendekati Zulaikha.
73. Tolet: Ada apa ini? Ada kejadian apa? Apa yang terjadi?
Zuleikha: Supik bang. Supik meninggal dunia. Dia kutemukan sudah membusuk disini.
74.Tolet: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Siapa yang tega melakukan hal ini? Pasti kamu kan! Kamu kan selama ini menghina, mencaci maki dan menganiyaya Supik. Ini pasti salahmu!
75. Zuleikha: Sembarangan saja kau berbicara. Aku tidak mungkin melakukan hal ini kepadanya. Aku tidak mungkin melakukan hal setega ini. Oh iya aku ingat dia bilang kalau dia diperkosa sampai akhirnya melahirkan tiga kali. Aku yakin kamu adalah pelakunya! Kamu tidak suka kalau aibmu terbongkar hingga akhirnya kamu menculik anaknya dan membunuhnya.
76. Tolet: Tidak mungkin aku melakukannya. Mana mungkin aku berbuat setega itu. Ini pasti ulahmu kan!
77. Zulaikha: Pasti kamu!
78. Tolet: Bukan Aku! Kamu!
79. Zulaikha: Kamu pasti kamu!
80. Tolet: Kau!
Mereka terus bertengkar dan saling menyalahkan siapa yang telah menyebabkan Supik tewas. Azila masuk ke panggung dan menggeleng-gelengkan kepala atas kejadian itu. Azila lalu menghentikan pertengkaran mereka berdua.
81. Azila: (berteriak) Sudah! Hentikan! Tidak ada gunanya kalian melakukan itu! Tidak ada gunanya kalian saling menyalahkan siapa yang membunuh Supik. Semua ini adalah salah kita. Salah kita yang sengaja mengabaikan dia dari kehidupan. Salah kita yang sengaja menelantarkan dia sendirian dan membiarkan dia menjalani hidup dalam kesunyian! Sudahlah jangan bertengkar lagi! Lebih baik kita makamkan dia dengan cara yang layak.
            Mayat Supik lalu mereka gotong menuju keluar panggung. Musik sedih mengiringi kepergian mereka keluar panggung.
LAMPU PADAM


TAMAT
Jambi, 12 September 2015

Naskah Lakon Tanya



TANYA
Karya: Febrianiko Satria
Untuk pementasan harap meminta izin kepada Penulis
Sinopsis:
Sekelompok manusia yang bertemu lalu mereka menemukan sebuah masalah kehidupan. Mereka mencari penyebab terjadinya masalah tersebut lalu berakhir dengan saling menuduh siapa yang bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi.
Deskripsi Tokoh:
Luti: berasal dari bahasa Makedonia yang berarti Marah. Seorang laki-laki atau perempuan yang suka menuduh orang lain, suka memfitnah orang lain sembarangan, suka membuat kegaduhan dan hal-hal ricuh lainnya.
Landep: berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Tajam. Seseorang laki-laki atau perempuan yang awalnya ragu dan  hanya mengikuti orang lain namun akhirnya memilih sesuai kata hatinya.
Mimang: berasal dari bahasa Tionghoa Tradisional yang berarti Bingung. Laki-laki atau perempuan yang ragu-ragu akan pilihannya, asal tuduh dan hanya mengikuti orang lain.
Suryakanta: berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti jelas atau terang. Laki-laki atau perempuan yang tidak tahu apa-apa tetapi selalu dijadikan obyek tuduhan kesalahan.
SETTING PANGUNG:
Panggung tidak beraturan ada kursi, meja dan barang-barang lainnya yang terletak berserakan. Layar putih terbentang di tengah panggung.
ADEGAN 1
Luti, Landep, dan Mimang masuk ke dalam pangggung dari masing-masing sudut panggung. Luti masuk dengan cara mengendap-endap di tanah. Landep masuk dengan cara merangkak, Mimang masuk dengan cara berjalan mengendap-endap seperti maling. Mereka lalu memeriksa panggung dengan sangat hati-hati.
Terdengar suara piring pecah, pohon roboh, kayu patah dan segala yang hancur. Luti, Landep dan Mimang ketakutan di tempat mereka.
1.      Luti: Rusak?
2.      Landep: Pecah?
3.Mimang: Hilang?
4. Luti: Terbakar?
5. Landep: Roboh?
6. Mimang: Dicuri?
7. Luti: Hancur?
8. Landep: Kemana?
9. Mimang: Dimana?
10. Luti: Kapan?
11. Landep: Mengapa?
12. Mimang: Kenapa?
13. Luti: Apa?
14. Landep: Bagaimana?
15. Mimang: Tanya?
16. Luti: Siapa?
17. Landep: Kamu!
18. Mimang: Dia?
19. Luti: Aku? Kamu!
20. Mimang: Tidak. Dia!
21. Luti: Kamu!
22 Landep: Aku? Kalian!
23. Luti: Kamu!
24. Mimang: Iya, Kamu!
24. Landep: Apa? Kau?
26. Mimang: Aku? yang benar saja! Kalian!

ADEGAN 2
Pada layar muncul video orang-orang yang kelaparan, Orang-orang yang menderita, anak kecil yang menangis dan segala tayangan sedih lainnya. Suryakanta masuk ke panggung melihat sekitar seperti orang yang kebingungan.
28. Luti: Kamu! (menunjuk Suryakanta)
29. Landep: Iya pasti dia!
30. Mimang: Benar, pasti dia!
31. Suryakanta: Apa? Aku? Kenapa?
32. Luti: Kamu!
33. Suryakanta: Kenapa?
34. Landep: Pasti kamu!
35. Suryakanta: Bukan aku! Tapi Dia! (menunjuk Mimang)
36. Luti: Kamu?
37. Mimang: Hah. Aku? Dia! (menunjuk Landep)
38. Landep: Tidak dia (menunjk Suryakanta)
39. Luti: Pasti kamu! (menunjuk Landep)
40. Landep: Aku? Kamu! (menunjuk Luti)
41. Luti: Pasti kamu! (Menunjuk Landep)
42. Landep: Aku? Kamu! (menunjuk Luti)
43. Suryakanta: Iya kamu!
44. Luti: Kamu!
45. Landep: Dia!
46. Mimang: Kau!
47. Suryakanta: Kalian!
48. Luti: Kalian!
49. Landep: Kamu!
50. Mimang: Dia!
51. Suryakanta: Kau!
Luti mengambil kursi lalu membantingnya ke meja. Menghancurkan barang-barang yang ada di panggung.
52. Luti: (menunjuk ke arah tempat yang hancur) Itu kamu! (menunjuk Landep)
53. Landep: Aku? Jelas kamu! (menunjuk Luti)
54. Suryakanta: Kamu! (menunjuk Landep)
55. Mimang: Jelas kamu! (menunjuk Landep)
56.Landep: Dia yang sebenarnya! (menunjuk Luti)
57. Luti: Kamu! (menunjuk Landep)
58. Suryakanta: Dia benar pasti kamu! (menunjuk Luti)
59. Mimang: Kamu (menunjuk Landep)
60. Luti: Aku benar kan? Dia! (menunjuk Landep)
61. Mimang: Iya kau benar. Pasti Dia (menunjuk Landep)
62. Suryakanta: Jelas bukan Dia. Tapi kamu! (menunjuk Luti)
63. Landep: Bukan aku tapi kamu (menunjuk Luti)
64. Luti: Mereka
65. Suryakanta: Kalian
66. Mimang: Dia!
67. Landep: Kau
68. Suryakanta: Dia
69.Luti: Kau!
70. Mimang: Mereka!
71. Landep: Kau!

Tiba-tiba terdengar suara gempa bumi, tanah longsor, tsunami dan banjir. Luti, Mimang, Landep, Suryakanta menjadi ketakutan. Mereka lalu mendekat dan memeluk satu sama lainnya.
72. Luti: Takut!
73. Landep: Celaka!
74. Mimang; Celaka!
75. Suryakanta: Melarat!Pingsan?
76. Landep: koma?
75. Mimang: Mati?
76. Luti: Tidak!
77. Landep: Ini pasti kamu!
78. Luti: Tidak kamu! (menunjuk Mimang)
79. Mimang: Kamu (menunjuk Suryakanta)
80. Suryakanta: Tidak! Kau (menunjuk Luti)
81. Luti: Jelas kamu (menunjuk Landep)
Mereka berempat lalu menunjuk tak tentu arah
82. Luti: Kamu
83. Landep: Dia
84. Mimang: Kalian
85. Suryakanta: Mereka
86. Luti: Jelas!
87. Landep: Terang
88. Mimang: Bening
89. Suryakanta: Transparan!
89. Luti: Kamu
90. Landep: Kamu
91. Mimang: Kamu
92. Suryakanta: Kamu
Mereka lalu putus asa, menyerag dan menyalahi diri sendiri. Lalu mereka teringat sesuatu
93. Luti: Tidak
94. Landep: Bukan
95: Mimang: Mereka
96. Suryakanta: Tapi
97. Luti, Landep, Mimang, Suryakanta: Kamu!
Tiba-tiba keadaan menjadi berantakan Luti, Landep, Suryakanta dan Mimang saling menuduh satu sama yang lain. Mereka lalu membanting segala yang ada di sekitar mereka
98. Luti: Kau!
99. Mimang: Aku? Kau!
100. Suryakanta: Kau!
101. Landep: Bukan aku! Kalian!
102. Luti: Kau!
103. Mimang: Kalian!
104. Suryakanta: Kau!
105. Luti: Kalian!
Mereka terus saling menyalahkan dan membanting segala yang ada di panggung.  Tiba-tiba terdengar suara gempa bumi, bangunan roboh dan badai petir yang diikuti suara pukulan jimbe yang begitu cepat.  Luti, Mimang, Landep dan Suryakanta bergetar hebat di posisi mereka masing-masing seolah–olah panggung terasa akan roboh  namun mereka tetap saling menyalahkan. Terdengar suara petir yang sangat besar menyambar mereka berempat. Mereka berempat berteriak sekeras-kerasnya lalu mati di tempat.
BLACKOUT
TAMAT
Jambi, April 2015