Monday, March 13, 2017

ARTIKEL: PETUAH AWET MUDA ALA MBAH

PETUAH  AWET MUDA ALA MBAH
oleh: Febrianiko Satria

Tidak tahu ada angin apa-apa. Tiba-tiba saja Mbahku (sebutan untuk Nenekku) datang ke rumah kami. Kami  kaget dengan kedatangan orang yang paling tua  dihormati dalam keluarga kami. Mbah lalu turun dari Mobil Pakde lalu masuk ke rumah kami. Aku sebagai anak yang baik turut membantu mengangkat barang-barang nenek yang lumayan berat

Pakde bilang, Mbah akan menginap selama seminggu di rumahku. Tentu saja aku menjadi riang gembira karena selama ini jarang sekali Mbahku menginap di rumah. Hanya waktu-waktu tertentu saja seperti ingin berangkat ke Jawa ataupun keperluan yang tak bisa diselesaikan di Kampungnya, dia baru mau ke Jambi.
Selama Mbah liburan di rumahku, berbagai hal menyenangkan terjadi. Bahkan Mbah begitu iseng mengejek Ibuku udah mulai tampak keriput, "Lihat Mbahmu yang udah tua ini masih kelihatan muda beda jauh dengan Ibumu," setelah mengejek Ibuku, Mbahku tertawa. Aku menjadi penasaran, " Emang bagaimana Mbah biar keliatan mudah begini?" Mbahku tidak mau menjelaskannya seolah-olah itu adalah rahasia yang tak boleh diberitahu kepada siapapun. Dia hanya berkata, "Besok kamu tahu sendiri." Aku hanya  diam sembari memendam kesal

1. RAJIN BEROLAHRAGA SETIAP PAGI

Matahari masih enggan menampakkan dirinya. Namun sialnya aku sudah dipaksa Mbah untuk bangun. Bayangkan saja hari masih sangat gelap tetapi Mbah tetap saja mau jalan pagi. Mbah bilang," Mumpung masih subuh." Sayangnya orang-orang di rumah  masih tidur. Ya mau tidak mau aku nemani mbah berlari pagi telanjang kaki keliling perumahan.

Baru seratus meter aku berjalan, aku sudah kelelahan tak sanggup meneruskan perjalanan. Mbahku hanya tertawa saja. Dia lalu berkalar, "Di Kampung Mbah biasanya jalan lebih  jau dari ini. Kamu baru jalan sedikit aja udah menges gitu." Karena kasihan melihatku yang udah kelelahan Mbah memutuskan untuk pulang ke rumah.
2. SERING TERTAWA

Jika Mbah sudah di rumah. Pasti Mbah selalu menceritakan lelucon yang buat kami tertawa. Mulai dari cerita dia menjahili penjajah dulu. Ataupun ketika dia menikah dengan Mbah Lanang (sebutan untuk Kakekku). Setiap hari ada saja lelucon yang digunakannya untuk membuat kami tertawa. Mbah bilang hidup itu dibawa senang aja gak perlu sedih terus. 

3. TIDAK MEROKOK DAN TIDAK MINUM ALKOHOL

Mbahku berkata kalau dia paling benci dengan rokok ataupun minuman beralkohol. Selain minuman beralkohol dilarang agama, Mbah bilang kalau orang-orang yang minum beralkol itu hidupnya tidak sepanjang umur dia. Rata-rata dari mereka sudah Almarhum dengan berbagai penyakit seperti sakit kuning ataupun penyebab lainnya.

4.RAJIN BERIBADAH
Ketika adzan berkumandang biasanya aku sibuk bermain game di gadget atau membaca komik . Melihat aku yang jarang beribadah, Mbah langsung menyuruhku untuk beribadah. Kami berdua lalu solat berjamaah, Aku yang menjadi Imam dan Mbah yang menjadi Makmum. 

Setelah beribadah, Mbah berpesan bahwa manusia hidup itu atas kemauan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki manusia mati ya manusia langsung meninggal. Meskipun kita memaksa untuk tetap hidup tetapi toh yang punya kuasa tetap Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagai manusia sudah seharusnya kita beribadah kepada Tuhan sebagai pencipta kita

Tidak terasa empat hari sudah berlalu. Mbah memutuskan untuk menginap di rumah anaknya yang lain. Aku membantu membereskan barang-barang Mbah ke dalam tas yang besar. Setelah tas dimasukkan ke dalam Mobil, Kami berpamitan dengan Mbah. Mobil lalu melaju meninggalkan rumah.

Jambi, 13 Maret 2017

Saturday, March 11, 2017

Naskah Lakon Menyemak


MENYEMAK
 karya: Febrianiko Satria
Untuk pementasan harap menghubungi penulis


Sinopsis:

Mereka akhirnya terpuruk dalam keputusasaan. Dan memutuskan untuk bunuh diri di sebuah jembatan. Ketika ingin bunuh diri mereka bertemu dan saling curhat satu sama lain. Mereka juga berdebat tentang siapa yang paling menderita diantara mereka bertiga.  Mereka akhrinya bertengkar satu dengan yang lain.

Tiga orang manusia yakni: Gadis, Wanita dan Nenek mencari makna kehidupan yang mereka jalani. Gadis, wanita dan nenek berteman akrab. menceritakan pengalamanya yakni pacarnya menghilangkan perawannya setelah itu pergi meningalkan Gadis. Gadis tu lalu putus asa dan terjun dalam dunia prostitusi karena dia sudah terlanjur di cap buruk oleh kalangan lelaki, tidak ada satupun yang mau menjadi pasangannya. Seorang pemuda shaleh yang merupakan teman gadis selalu menesehati sang gadis. Namun Sang Gadis selalu menolaknya. Gadis yang putus asa akhirnya mencari pasangan sesama jenis dan akhirnya menjalani hubungan cinta dengan sesama wanita. Gadis juga berpendapat kalau cinta yang sebenarnya hanya bisa didapatkan oleh sesama jenis.Wanita menceritakan pengalamannya yakni berawal dari suami wanita yang mengalami gangguan kejiawaan suka melakukan penyiksaan kepada Wanita, Wanita lalu dipaksa untuk melakukan threesome dan dipaksa untuk melakukan hubungan dengan suami lain. Awalnya Wanita merasa tersiksa oleh perilaku suaminya. Lama kelamaan wanita merasa menikmati hal itu karena dia tidak perlu merasakan penyiksaan oleh suaminya. Sang wanita memiliki pembantu laki-laki . Pembantu itu selalu mengingatka majikannya namun selalu ditolak oleh wanita. Bagi wanita cinta sejati itu tidak ada karena cinta sejati itu adalah ilusi belaka.

Nenek bercerita tentang kehidupannya yang selalu diliputi kesedihan setelah sang suami meninggal dunia. Nenek lalu mencari pengganti dengan menyewa  beberapa orang muda untuk mengobati luka di hatinya. Berawal dari hal itu lama kelamaan Nenek merasa ketagihan untuk mencoba anak-anak muda menjadi pelampiasan sexnya. Hal ini diketahui oleh cucu sang Nenek yakni Perempuan. Perempuan berusaha menghentikan Nenek namun tidak dihiraukan Nenek. Menurut Nenek cinta sejati bisa kembali didapatkan melalui kekayaan.

Gadis perlahan-lahan menemui masalah. Pengunjung pria Gadis mulai berkurang. Banyak pengunjung pria mengatakan kalau pelayanan Gadis sudah tidak sehebat dulu lagi seta barang milik gadis sudah kendor tidak rapat lagi. Pemuda berusaha memberitahu Gadis, namun Gadis malah memusuhi Pemuda. Wanita juga mengalami masalah yakni semakin susah mencari pria yang mudah diajak threesome. Pria mulai enggan threesome dengan wanita karena merasa bosan. Para pria mulai menaikkan tarif mereka untuk melakukan threesome. Pembantu terus berusaha mengingatkan majikannya agar bertobat namun Wanita malah mengusirnya dari rumah. Pembantu terus berusaha mengingatkan majikannya agar bertobat namun Wanita malah mengusirnya dari rumah. Banyak pria juga sudah malas melakukan tukaran istri karena bosan dengan pelayanan wanita. Nenek juga mengalami masalah karena satu persatu lelaki yang sedia menjadi budaknya mundur dan mulai menaikkan tarif. Cucu yang mengetahui masalah Nenek terus berusaha menesehati Nenek, namun Nenek malah pergi menjauhi Gadis.

Akhirnya Gadis sudah tidak laku lagi dimata pria hidung belang. Kekasih ceweknya juga minta putus. Smentara itu, Nenek mengalami kemiskinan sehingga dia tidak bisa menyewa lelaki ntuk dijadikan obyek sexnya. Sedangkan wanita mengalami konflik rumah tangga sehingga dia diceraikan oleh suaminya dan tinggal terlunta-lunta di jalanan. 

Mereka akhirnya terpuruk dalam keputusasaan dan memutuskan untuk bunuh diri di sebuah jembatan. Ketika ingin bunuh diri mereka bertemu dan saling curhat satu sama lain.  Pemuda, Pembantu dan Cucu menemui mereka di jembatan dan berusaha menyelamatkan mereka.. Akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka masing-masing dan berhenti bunuh diri.


MENYEMAK
Karya: Febrianiko Satria

BABAK 1

Adegan 1
FADE IN
Sebuah jembatan tergantung di tengah panggung. Lampu sorot berwarna biru fokus pada jembatan. 3 orang manusia yakni Gadis, Wanita dan Nenek terlihat berdiri di tepi jembatan. Mereka terlihat seperti ingin bunuh diri. Ketiganya saling melihat satu sama yang lain.
Nenek: 
Hey Gadis kenapa kau ingin menghabiskan hidupmu disini? Bukankan jalan hidup yang panjang masih terbuka untukmu? Bukankah masa depanmu masih sangat cerah seperti mentari yang bersinar di angkasa raya?
Gadis:
 Dasar nenek tua! Sok menesehati yang muda sedangkan dirimu sendiri hendak lompat sama sepertiku! Jangan-jangan cucu dan anak-anakmu sudah tidak memperhatikanmu lagi sehingga kau menjadi bosan menjalani hidup?
Nenek: 
Sembarangan kamu! Keluargaku itu sangat memperhatikanku. Tidak seperti kalian yang kekurangan perhatian dan kasih sayang!
Wanita:
 Terus kalau kau tidak kurang perhatian kenapa kau ingin bunuh diri di jembatan ini? Jangan-jangan kau sama sepertiku sama-sama putus asa dan kehilangan segalanya. Kehilangan makna kehidupan. Kehilangan cinta dan kehilangan kasih sayang.
Nenek: 
Aku cukup mendapatkan semuanya. Hanya saja aku masih merasa ada yang kurang dalam diriku. Aku berusaha mencarinya namun aku tidak bisa menemukannya. Perlahan-lahan semuanya menghilang yang tersisa hanyalah sebuah kehampaan dalam sukma.
Gadis: 
Akhirnya dia mengaku juga. (tertawa) Begitulah orang tua kebanyakan merasa seolah-olah dirinya paling benar. Seolah-olah dia adalah dewa yang memiliki kebenaran sejati. Eh gak taunya dia malah yang paling bermasalah.
Nenek: 
Dasar anak muda! Bisanya Cuma protes aja. Sekarang kamu itu kenapa kesini? Apa kamu tidak takut dengan malaikat maut yang menunggu di bawah jembatan ini?
Gadis: 
Aku tidak takut! Karena segala kehidupanku telah hancur! Masa depanku telah hilang direnggut berbagai manusia. Daripada aku menjalani kehidupanku yang sudah tidak punya arti ini lebih baik ku akhiri saja. Toh semuanya sudah tidak berarti.
FADE OUT

Adegan 2
Panggung menggambarkan sebbuah tempat panti pijat. Disana ada Gadis sedang berdiri dengan pakaian yang sangat sexy dan menggoda birahi.
Gadis: 
Inilah kehidupanku sekarang. Kalau tidak karena cowok bajingan itu aku tidak perlu menjalani kehidupan menyedihkan seperti ini. Ya karena dia mantanku itu sudah mengambil keperawananku. Hanya karena rayuan dan gombalannya aku menjadi terbujuk untuk bersetubuh dengan dia. Tiap minggu selalu saja dia minta jatah. Entah itu di kos-kosan dia ataupun sesekali bermain di hotel. Setelah dia puas menikmati kesuucianku dia malah meninggalkanku. Dasar setan! Setelah aku putus dengan dia aku malah mendapatkan pacar yang sama seperti dia. Mereka selalu mengatakan ini kepadaku: Jalanmu itu udah ngangkang udah kelihatan sering dicoblos. Badanmu itu juga sekarang udah membesar sudah pasti sering dicoblos. Dan berbagai macam perkataan yang mereka katakan padaku. Kau bayangkan saja betapa sakitnya hatiku ini mendengarnya. Tampaknya semua pikiran lelaki itu sama. Kalau gak mikirn duit ya mikirin kelamin. Sekarang aku sudah tidak percaya lagi dengan perkataan mereka. Sekarang aku sudah dianggap murahan dikalangan lelaki. Mereka menganggapku wanita murahan. Akhirnya aku melamar pekerjaan di panti pijat ini dan menjadi terapis disini.
Seorang pria hanya memakai handuk mendatangi gadis.
Pria: 
Hari ini kamu cantik sekali.
Gadis:
 Terima kasih. Banag pasti kelelahan karena sudah mandi. Sini biar adik pijitin ya.
Pria:
 Boleh-boleh. Tapi usahakan jangan seperti kemaren ya. Jangan keras-keras entar tambah sakit. Pelan-pelan aja seperti biasa.
Gadis: 
Amanlah itu bang. Adek akan pelan-pelan melayani abang.
Pria dan Gadis masuk ke dalam ruangan.

BLACKOUT
Adegan 3
Di dalam sebuah kamar terdapat Wanita sedang duduk di atas tempat tidur. Dia tampak sedang duduk sambil berselimut di tempat tidur.
Wanita: 
(kegenitan) Ih kalau mengingat kejadian tadi rasanya gimana-gitu. Dia dluar tampak kalem dan pendiam.Tapi kalau dia sudah ada di tempat tidur. Waw dia sungguh luar biasa. Dia begitu kuat menemani kegilaan hasratku selama sejam penuh tanpa istirahat. Beda jauh dengan suamiku, 5 menit aja dia sudah ketiduran. Huh payah. Ternyata beginilah enaknya bertukar suami dalam urusan kasur. Apa yang tidak bisa kau nikmati dari dia. Bisa kau nikmati oleh orang yang lainnya. (suara ketukan pintu terdengar) Ssst. Diam ya sepertinya suamiku itu baru saja pulang menikmati istri hasil pertukaran kami. Jangan bilang-bilang tentang hal tadi. Ingat tutup mulut.
Suami: (datang dengan wajah kesal) Sialan. Kali ini aku dapat yang tidak memuaskan. Dia dingin sekali di tempat tidur, tidak ada ramahnya sama sekali. Sial. Tampangnya aja putih mulus dan masih muda. Tapi kalau lihat barangnya hadeh udah rongsokan seperti nenek-nenek, Sial kenapa aku mau sekali ditipu oleh suaminya?
Wanita: 
Ya udahlah Pa. Papa gak perlu lagi tukar menukar dengan dia kalau tahu hasilnya bakal seperti itu.
Suami: 
Iya, Ma. (seperti teringat sesuatu lalu bergumam) Mama sendiri gimana? Pasti mama puas kan dengan pelayaan dia.
Wanita:
 (keheranan sambil tertawa) gimana ya hmm
Suami:
 Pasti mama puaskan dengan layanan Dia. Dia kan jago menggombal wanita. Mana tubuhnya atletis mirip Ade Rai. Iya kan? Iya kan Ma?
Wanita: 
Enggaklah Pa. Tubuhnya boleh saja atletis tapi dia Cuma tahan sbentar aja. Belum satu menit dia udah tidur duluan. Pokoknya menyebalkan banget deh, Pa.
Suami: 
Mungkin kita lagi sial aja ma. Oh iya papa ada lihat di internet ada komunitas threesome. Kayaknya itu menarik deh, Ma.
Wanita: 
(terkejut) Threesome? Apa lagi itu, Pa?  Jangan aneh-aneh lagi deh Pa.
Suami:
 Itu lho 2 lawan 1 di kasur. Pokoknya asyik deh Ma.
Wanita: 
Jangan lagi, Pa. Mami gak mau aneh-aneh lagi.
Suami: 
Ayo lah ikut (memaksa) Apa gunanya menjadi istri tapi tak bisa memuaskan hasrat suaminya (mulai menyiksa)

BLACKOUT
Terdengar suara pukulan dan kemarahan Suami serta tangisan wanita dari dalam panggung.

Adegan 4
Di sebuah pemakaman keluarga, seorang nenek-nenek sedang meratapi makam kakek.
Nenek: 
Kakek, kakek. Kenapa kau harus meninggalkan nenek begitu cepat kek. Nenek masih butuh perhatian kakek. Nenek masih teringat masa muda kita yang penuh cinta dan kasih. Setiap hari selalu bersama. Kakek jangan lupa kalau kakek sudah berjanji kepada nenek untuk mati bersama. Kakek kau kejam kek
Seorang pemuda datang menghampiri Nenek.
Pemuda: 
Nek sudahlah nek. Nenek jangan bersedih terus. Oang yang telahmati tidak bisa mendengar kesedihan orang yang masih hidup.
Nenek: 
Kau siapa berani-beraninya menganggu aku?
Pemuda: 
Nenek jangan marah. Disini saya datang untuk menghibur hati nenek
Nenek: 
Memangnya kamu bisa?
Pemuda: 
Tentu saya bisa nek. Itu semua hal yang kecil. Nenek akan kubawa kembali ke zaman muda dulu dimana nenek bisa memperoleh cinta kasih tanpa batas. Tapi itu semua ada syaratnya.
Nenek: 
Syaratnya apa saja?
Pemuda: 
Syaratnya mudah saja. Jika aku minta sesuatu harus segera dipenuhi. Itu saja.. Mudah kan?
Nenek: 
Itu hal yang mudah karena aku punya kekayaan dimana-mana. Aku dengan mudah akan memberikan apa yang kau mau dalam waktu sebentar saja.
Pemuda: 
Nah aku suka hal itu.
Nenek: 
Jadi kapan aku bisa merasakan cinta kasih itu?
Pemuda:
Mulai dari sekarang nenek bisa mendapatkan cinta kasih itu.

Nenek dan Pemuda  berpegangan tangan lalu pergi keluar panggung.

ADEGAN 5
Panggung menggambarkan keadaan luar ruangan. Di kanan kiri terdapat bangunan. Gadis sedang berjalan-jalan keluar dari panti pijat. Saat itu ada pemuda shaleh  yang merupakan teman Gadis menghampiri Gadis.
Gadis: 
Lumayanlah pendapatan hari ini. Tadi ada enam pria yang kulayani masing-masing memberikan lima lembar merah. Jadi kalau kutotalkan hasilnya ya lumayan. Kalau begini terus lama-lama aku bisa kaya juga.
Pemuda Shaleh: 
Astafirullahal adzim kenapa kau masih melakuka pekerjaan itu. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang haram, tidak sesuai tuntunan agama kita.
Gadis: 
Jangan pernah kau membicarakan tentang agama kepadaku. Gini-gini aku juga lulusan pesantren sama sepertimu. Jangan hanya karena kamu sekaang jadi Guru agama di sekolah kamu bisa menesehatiku seenaknya saja.
Pemuda Shaleh: 
Justru karena kamu lulusan pesantren yang sama sepertiku aku memperingatimu. Ku jelas tahu kan tentang hukumnya!
Gadis: 
Ya aku tahu tentang hukumnya. Tapi semuanya sudah terlambat. Keperawanan sudah hilang dan aku selalu butuh uang. Agama tidak pernah memberikanku uang sedikitpun.
Pemuda Shaleh: 
Kamu memang tidak mendapatkannya sekarang tapi nanti di akhirat kau akan mendapatkannya.
Gadis: 
Sudahlah aku hanya butuh sekarang soal akhirat semua itu nanti. Pergi kau dari sini aku tidak mau mendengar segala macam ceramahmu.

Seorang gadis dua berpakaian sexy datang menjemput.
Gadis: 
Lihat itu pacarku sekarang dia cantik bukan? Malam ini kami mau kencan di tempat biasa. Di tepat yang tenang tanpa ada satupun yang menganggu.
Gadis Dua: 
Hay beb. Yuk kita pergi.
Gadis: 
Yuk. Manis.
Gadis dan Gadis 2 meninggalkan Pemuda Shaleh sendirian di panggung.
BLACKOUT

ADEGAN 6
Panggung menggambarkan sebuah rumah. Terdapat berbagai perabotan rumah, mulai dari kursi, meja, karpet dan lainnya. Di sana terdapat wnaita sedang duduk di kursi.
Wanita: 
Haduh. Hari ini rasanya tidak memuaskan. Di kasur rasanya dia payah sekali. Tidak berbobot sama sekali. Sebentar saja sudah loyo. Payah.
Pembantu Pria: 
Ya ampun, Nyonya Kenapa nyonya masih saja melakukan hal itu nyonya. Apa nyonya tidak merasa puas dengan suami nyonya saja?
Wanita: 
Terserah saya melakukan semuanya. Kau disini hanyalah pembantu. Ingat hanya pembantu. Pembantu tidak berhak mengatur majikan. Majikan adalah raja dan pembantu adalah budak.
Pembantu pria: Iya deh nyonya.
BLACKOUT
ADEGAN 7
Panggung menggambarkan sebuah rumah. Terdapat berbagai perabotan rumah, mulai dari kursi, meja, karpet dan lainnya. Di sana terdapat Nenek sedang berkeliling di rumah bersama cucunya yang sedang berkeliling sedangkan cucunya sedang duduk di kursi.
Cucu: 
Nek berhentilah nek jangan bawa lelaki lagi ke rumah. Saya jadi malu, Nek.
Nenek: 
Kau itu masih muda. Masih seumur jagung. Kau tidak berhak mengatur hidupku.
Cucu: 
Tapi Nek. Adek malu, Nek.
Nenek: 
Diam kamu! Pergi kamu ke kamar!
BLACKOUT

BABAK II
ADEGAN 8
Panggung menggambarkan sebuah panti pijat. Terdapat perempuan yang sedang menunggu dengan kebingungan menatap sekitar panggung. Seorang lelaki berjalan di dekat Gadis. Gadis berusaha menghentkan lelaki.
Gadis: 
Mas ini eneng, Mas.
Pria:
 Ah malas barang milikmu udah kendor. Saya mulai merasa bosan dengan layananmu.
Gadis: 
Masih rapat kok, Mas. Layananku masih prima kok. Bahkan sekarang Enang menambahkan goyangan-goyangan baru yang akan menambah kepuasan, Mas.
Pria: 
Beneran nih? Nanti kamu malah nipu saya lagi.
Gadis: 
Beneran kok, Mas. Sejak kaan saya berbohong dengan Mas?
Pria: 
(lemas) Ayolah. Yuk badanku udah pegal nih.
Gadis: 
Tenang aja, Mas. Nanti mas akan menjadi segar bugar karena pijatan super Eneng.
BLACKOUT

Adegan 9
Panggung menggambarkan sebuah rumah lengkap dengan segala perabotan di dalamnya. Seorang wanita sedang menelpon seorang Pria dengan handphone miliknya.
Wanita: 
Ayolah, Mas. Kita tukaran lagi seperti biasa. Apa mas sekarang lebih suka dengan wanita yang lain? Kenapa Mas? Apa Mas sudah lupa denganku? Mas bilang layanan istri, Mas lebih baik daripada aku? Apa mas muai bosan denganku? Mas saya punya gaya baru mas. Yang pastinya lebih hot daripada istri Mas. Mas mau tukaran? Oke langsung hari ini? Oke, Mas. Bebeb tunggu ya. (menutup telpon)
Pembantu Pria: 
Sudahlah, Nyonya. Dari telpon tadi sudah keahuan kalau Dia udahbosan melakukan itu dengan Nyonya. Sebaiknya Nyonya hentikan saja semua perilaku tidak jelas nyonya.
Wanita: 
Sudah kubilang kemaren kalau kau hanya babu disini!  Masih saja kau berani menesehatiku seolah-olah kau adalah ustdz.
Pembantu Pria: 
Saya bukan orang yang tahu semua tentang Agama.  Tapi orang-orang menyarankan agar tidak melakukan hubungan itu nyonya.
Wanita: 
Masih juga kau berani menesehatiku? Sekarang kau keluar dari rumahku! Aku tidak mau lagi melihat sedikitpun batang hidungmu disini. Pergi sana!
BLACKOUT

Adegan 10
Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian Nenek dan Pemuda sedang berdiskusi.
Pemuda: 
Nek. Aku sudah bosan melayanimu. Mulai hari ini aku berhenti melayanimu.
Nenek: 
Kenapa begitu? Bukankah semua keinginanmu sudah kuturuti? Bukankah semua kebutuhanmu aku penuhi? Tapi kenapa masih saja kau tidak mau melayaniku?
Pemuda: 
Pokoknya aku sudah tidak mau lagi.
Nenek: 
Begini saja aku naikkan bayaranmu setiap melayaniku? Kau masihmau kan melayaniku?
Pemuda: 
Baiklah aku setuju. Ayo ikut saya Nek. Nenek akan saya layani.
Cucu: 
(mencoba menghentikan Nenek) Nek. Hentikan. Dia hanya ingin memeras nenek? Dia hanya ingin memanfaatkaan nenek. Tolong hentikan Nek.
Nenek: 
Diam kau anak ingusan! Kau tidak tahu kan rasanya kesepian ditinggal suami? Jangan pernah kau mengikutiku! Aku tidak mau lagi melihat wajahmu sedikitpun!
 BLACKOUT

BABAK III
Adegan 11
Panggung menggambarkan daerah di luar ruangan. Gadis tampak sedih
Gadis: 
Sialan! Kenapa mereka bilang pelayananku tidak menyenangkan. Mereka bilang barangku sudah kendor.  Mereka bilang goyanganku sudah membosankan. Akhirnya mereka mengusirku dari tempat terapi ini.Anjing!
Gadis 2: 
Hay beb. Aku mau ngomong sesuatu denganmu beb.Tapi bebeb harus janji jangan marah ya beb?
Gadis: Mau ngomong apa beb? Aku tidak akan marah dengan bebeb.Selama ini adek selalu sayang denganbebeb dan tidak pernah sedikitpun memarahi bebeb
Gadis 2: 
Begini beb. Kakak sudah tidak memiliki rasa lagi dengan bebeb karena kakak sedang suka denga yang lain
Gadis: 
Hah gadis mana sih yang bebeb sukai? Kenapa bebeb lebih memilih gadis yang lain dibandingakn aku?
Gadis 2: 
Dia bukan gadis. Dia hanyalah seorang pria yang taat mengerjakan  perintah agama. Kakak merasatersentuh dengan segala kebaikannya. Tuhan seolah memberikan petunjuk bahwa dialah seharusnya menjadi pemilik hatiku. Dialah yang seharusnya menjadi imamku kelak. Beb saya ingin tobat. Saya tidak mau melakukan dosa-dosa lagi. Beb kakak ingin putus dan menjalani kehidupan yang baru.
Gadis: 
Beb kenapa bebeb begitu beb? Apa bebeb tidak sayang dengan adek? Bebeb tega! Tega!
Gadis 2: 
Maaf beb. Kakak hanya ingin menjalani kehidupan yang baru (pergi)
Gadis: 
Beb jangan tinggalin aku beb.
Pemuda Shaleh: 
(masuk ke panggung) Sudahlah tinggalkan saja dia. Dia ingin kembali ke kehidupanya yang normal. Alangkah lebihbaik kalau kau mengikuti jejaknya dengan kembali ke jalan yang benar.
Gadis: 
kau sebagai teman bukannya membantu malah menceramahiku. Pergi jangan menganggu hidupku!
Pemuda Saleh: 
Aku justru ingin membantumu
Gadis: 
Itu tidak membantu! Pergi

Pemuda Saleh terpaksa pergi meninggalkan Gadis. Gadis semakin tenggelam dalam kesedihan.
BLACKOUT

Adegan 12
Panggung menggambarkan sebuah rumah. Wanita dan Suami sedang duduk berjauhan.
Suami: 
Waktu terus menerus berlalu. Rasa semakin lama semakin hilang di dada. Kasih semakin jauh dari pelukan.Sudah seharusnya kuakhiri ini semua.
Wanita: 
Apa maksudmu?
Suami: 
Aku merasa  sudah tidak cocok lagi denganmu. Sejak kita mengikuti swinger dan threesome. Api cemburu semakin berkecamuk dalam dadaku. Hingga akhirnya mati rasa. Aku sudah tidak mencintaimu lagi.
Wanita: 
Sungguh? Bukankah kau yang mengajakku melakukan itu semua? Lalu kenapa kau cemburu? Kaulelaki tidak jelas!
Suami: 
Aku cemburu ketika kaubegitu menikmati kasur dengan pria lain. Kauterlalu terlena dengan mereka!
Wanita: 
Lantas apa bedanya dengan dirimu? Kau juga menikmati itu semua kan?
Suami: 
Tidak! Aku masih ingat denganmu! Aku masih ingat dengan keluarga kita!
Wanita: 
Kau bohong!
Suami:
Aku tidak pernah berbohong denganmu! Kaulah yang membohongiku!  Dasar pelacur! Aku menuntut cerai! Aku tidak bisa bersama denganmu!
Wanita: 
Tidak! Aku tidak mau! Aku masih mencintaimu!
Suami: 
Aku memaksa! Sekarang kemasi barangmu! Lalu pulang ke rumah orang tutuamu

Suami dan wanita lalu bertengkar hebat. Segala perabotan rumah dihancurkan. Wanita yang tidak bisa mengalahkan suami memilih mengalah lalu meninggalkan rumah.
BLACKOUT

Adegan 13
Panggung menggambarkan daerah di luar rumah. Pemuda dan Nenek sedang berdiri di sana
Pemuda: 
Berapa banyak uang yang masih kaupunya agar kutetap melayanimu?
Nenek: 
Aku tidak mempunyai apa-apa lagi. Yang kupunya hanyalah rumah ini. Rumah yang menjadi tempat tinggalku.
Pemuda:  
 Kalau begitu berikan saja rumahmu. Aku janji aku akan selalu melayanimu.
Nenek: 
Baiklah demi kasihmu yang selalu menemanikutiap detiknya, aku akan memberikan rumahku padamu.
Cucu: Nek jangan Nenek melakukan itu. Dia itu melakukannya demi mendapatkan harta Nenek.
Nenek: 
Sudah, diam kamu! Kamu kan masih kecil! Belum tahu rasanya ditinggal mati oleh suami. Menjalankan kehidupan sendiri diatas dunia itu sangat menyedihkan tahu!
Cucu: 
Nek. Cobalah Nenek mendengar penjelasan cucum ini Nenek.
Nenek: 
Sudahlah. Mau kuserahkan atau tidak itu semua terserah aku. Lagipula harta ini adalah hartaku! Jadi ya terserah aku untuk mempergunakannya demi apa saja.
Cucu: 
Jangan, Nek.(menangis)
Nenek: 
(tidak menghiraukan) Ini adalah surat tanah dan bangunan rumah ini. Ini semua kuserahkan padamu. (menyerahkan surat)
Pemuda: 
(menerima lalu tertawa) Terima kasih, Nek. Kalau dikasih ini kan. Aku bisa terus melayani nenek. Sayangnya, Nek. Nenek seharusnya mendengar perkataan cucu Nenek. (tertawa) Sekarang rumah ini menjadi milikku dan sekarang kau tidak punya apa-apa. Sudah tidak pantas aku melayani orang sepertimu. Berhubung rumah ini sudah menjadi milikku. Lebih baik kau pergi dari sini! Aku tidak mau melihat gembel di depan mataku!
Nenek: 
Tapi tadi kau sudah berjanji?
Pemuda:
 Kau mau saja percaya pada janji-janji manis yang selalu kuberikan. Padahal aku tidak pernah menepatinya sedikitpun. Sekarang kau pergi. Dasar gembel!
Nenek dan cucu lalu pergi dari rumah dengan wajah penuh kesedihan.
BLACKOUT

Adegan 14
Sebuah jembatan tergantung di tengah panggung. Lampu sorot berwarna biru fokus pada jembatan. 3 orang manusia yakni Gadis, Wanita dan Nenek terlihat berdiri di tepi jembatan. Mereka terlihat seperti ingin bunuh diri. Ketiganya saling melihat satu sama yang lain.
Nenek: 
Hey Gadis kenapa kau ingin menghabiskan hidupmu disini? Bukankan jalan hidup yang panjang masih terbuka untukmu? Bukankah masa depanmu masih sangat cerah seperti mentari yang bersinar di angkasa raya?
Gadis: 
Dasar nenek tua! Sok menesehati yang muda sedangkan dirimu sendiri hendak lompat sama sepertiku! Jangan-jangan cucu dan anak-anakmu sudah tidak memperhatikanmu lagi sehingga kau menjadi bosan menjalani hidup?
Nenek: 
Sembarangan kamu! Keluargaku itu sangat memperhatikanku. Tidak seperti kalian yang kekurangan perhatian dan kasih sayang!
Wanita: 
Terus kalau kau tidak kurang perhatian kenapa kau ingin bunuh diri di jembatan ini? Jangan-jangan kau sama sepertiku sama-sama putus asa dan kehilangan segalanya. Kehilangan makna kehidupan. Kehilangan cinta dan kehilangan kasih sayang.
Nenek: 
Aku cukup mendapatkan semuanya. Hanya saja aku masih merasa ada yang kurang dalam diriku. Aku berusaha mencarinya namun aku tidak bisa menemukannya. Perlahan-lahan semuanya menghilang yang tersisa hanyalah sebuah kehampaan dalam sukma.
Gadis: 
Akhirnya dia mengaku juga. (tertawa) Begitulah orang tua kebanyakan merasa seolah-olah dirinya paling benar. Seolah-olah dia adalah dewa yang memiliki kebenaran sejati. Eh gak taunya dia malah yang paling bermasalah.
Nenek: 
Dasar anak muda! Bisanya cuma protes aja. Sekarang kamu itu kenapa kesini? Apa kamu tidak takut dengan malaikat maut yang menunggu di bawah jembatan ini?
Gadis: 
Aku tidak takut! Karena segala kehidupanku telah hancur! Masa depanku telah hilang direnggut berbagai manusia. Daripada aku menjalani kehidupanku yang sudah tidak punya arti ini lebih baik ku akhiri saja. Toh semuanya sudah tidak berarti.

Pemuda Shaleh, Pembantu dan Cucu berusaha masuk ke panggung lalu berusaha menghentikan mereka. Lampu biru padam digantikan sorot lampu merah
Pemuda Shaleh:
 Kalian semua berhenti! Jangan kalian mengakhiri hidup kalian! Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kalian untuk menjalani hidup.
Gadis: 
Kau lagi, kau lagi. Masih saja kau berusaha menceramahiku. Apa kau tidak tahu kalau hidupku ini sudah sia-sia. Sudah tidak ada yang menyayangiku. Jiwa ini hampa tanpa kasih sayang.
Pemuda Shaleh: 
Bukankah ada Ayah dan Ibumu yang selalu menunggumu di rumah?
Gadis: 
Ayah Ibuku tidak pernah peduli denganku! Mereka selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka Tidak ada satupun yang menyayangiku di dunia ini!
Pemuda Shaleh: 
Tapi, masih ada orang yang menyayangimu. Orang itu adalah Aku.  Aku yang selama ini selalu memperhatikanmu dan selalu mengawasimu. Aku janji jika kau tidak jadi bunuh diri Aku akan memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya. Jadilah istriku!
Pembantu: 
Nyonya. Berhentilah, Nyonya. Saya mohon. Tidak ada gunanya Nyonya melakukan hal itu semua. Ingatlah dengan anak-anak nyonya.
Wanita: 
Apa gunanya aku bagi anak-anak sedangkan Ayah mereka tidak memperdulikan mereka.
Pembantu: 
Kalau begitu Nyonyalah yang harus memberikan perhatian pada mereka. Tolonglah Nyonya. Kasihani mereka. Apa jadinya anak-anak bila tidak ada satupun yang menyayangi mereka.
Cucu: 
Nek berhentilah bunuh diri, Nek.
Nenek: 
Hartaku sudah habis karena pemuda itu. Dasar pemuda sialan! Sekarang aku hanya Gembel yang terlunta-lunta di jalan. Aku hanya menjadi sampah di dunia ini!
Cucu: 
Nenek. Masih ada harta yang lebih bernilai di dunia ini. Harta itu adalah keluarga Nenek. Keluarga Nenek masih memperdulikan Nenek!
Cucu: 
Diam kamu! Kamu itu masih kecil belum tahu apa-apa.
Gadis: 
Kau berbohong! Semua pria sama saja. Sama-sama tukang bohong! Semuanya hanya memperdulikan urusan kelamin mereka!
Pemuda Shaleh: 
Aku tidak perduli dengan hal-hal tidak jelas itu.  Yang kupedulikan hanyalah kamu. Aku membutuhkanmu untuk selalu di sisiku.
Gadis: 
Tidak! Aku tidak pernah percaya dengan laki-laki!
Pemuda Shaleh: 
Sejak kapan aku berbohong padamu? Seumur hidupku tidak pernah membohongimu. Percayalah padaku.
Gadis: 
Kau janji kan?
Pemuda Shaleh: 
Demi Tuhan aku berjanji akan selalu menyayangimu.
Wanita: 
Anakku! Kenapa aku harus melakukan dosa ini. Aku rindu dnganmu anakku!
Pembantu: 
Ayolah Nyonya kembalilah demi anak nyonya.

Gadis lalu kembali ke sisi dalam jembatan, menjauhi tepi jembatan mendekat ke pemuda shaleh.Wanita juga melakukan hal yang sama. Namun, nenek masih saja di tepi jembatan.
Nenek: 
Kalian terlalu bodoh! Mau saja percaya omongan lelaki! Lebih baik aku saja yang terjun! (hendak bunuh diri)
Cucu: 
Hentikan! (cucu lalu memaksa Nenek untuk berhenti bunuh diri. 

Cucu lalu menarik tubuh Nenek menjauhi tepi jembatan.
Nenek: 
Hentikan! Hentikan! Hentikan! (Nenek berteriak meraung keras lalu menangis histeris)
Musik penuh nuansa penuh keharuan terdengar di seluruh panggung. Gadis dan Wanita lalu menangis membayangkan dosa besar yang hampir saja mereka lakukan.

BLACKOUT
TAMAT
Jambi, 24 Februari 2016 – 30 Maret 2016


Biodata Penulis:

Saya Febrianiko Satria lahir di Jambi, 11 Februari 1995. Saat ini aktif sebagai Ketua Komunitas Berani Menulis (KOMBES) dan aktif berteater di Sanggar Seni Sialang Rayo. Kumpulan karyanya dimuat dalam beberapa antologi diantaranya: Rumah Cinta (2015), Buntung (2016), Siginjai Kata-Kata (2016), Senandung Dua Warna (2016) dan Kicau [H]ayat (2016). Naskah lakonnya yang pernah dipentaskan adalah Putri Ayu (2016) dan Dul Muluk: Duduk Tegak Bersamo (2016). Pernah mewakili Jambi dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional XIII cabang Penulisan Naskah Lakon di Kendari, Sulawesi Tenggara tahun 2016. Saat ini tinggal di Perumahan Bogenville Lestari Blok CE 04, RT 23, Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Bisa dihubungi lewat Nomor Ponsel 082380968237 dan email: febrianiko.satria@gmail.com