Senin, 27 Juli 2015

cerpen sirih kembang



SIRIH KEMBANG
                                                        Karya: Febrianiko Satria
Oii tajuk kembang kembang balai
Balai kembang tanggo turun bumi setapak langit lebam payo
Rindu aii petanjak 1

Bambang berteriak keras dalam kegelapan. Dalam angan-angannya terus berputar berbagai hinaan dan cacian yang ia terima dari teman-teman, tetangga dan masyarakat sekitar. Tubuh Bambang bergetar hebat lalu ia mengaum keras dalam kesunyian. Ia mengalami depresi berat. Bambang sudah tidak tahan menghadapi sakit yang ia derita. Bambang lalu mengambil pisau yang terletak di dapur karena hendak bunuh diri dengan cara menikam jantungnya.
“Akh!” Terdengar teriakan Bambang memecah kesunyian.
***
            Matahari membakar bumi dengan cahayanya yang panas. Di teras rumah itu seorang laki-laki bertubuh kurus, berkulit sawo matang dan berambut tipis sedang menatap langit biru. Air menetes per butir dari matanya. Dalam angannya terbayang semua penderitaannya.
            Lalu terdengar kata-kata kotor dari mulut pria itu. “Anjing, babi!” Selanjutnya ia mengernyitkan dahinya lalu bersiul.
            Sementara gadis mungil yang bernama Nur berdiri di ruang tamu menatap Bambang yang menjadi ayahnya.
            Seorang wanita bernama Najah bertubuh gemuk dan berpakaian daster memeluk gadis mungil itu.
            Nur lalu menatap ibunya lalu bertanya.” Sebenarnya ayah sakit apa, Bu?”
            “Ayahmu terkena Sindrom Tourette.” Jawab Najah yang menjadi ibunya.
            Gadis mungil itu hanya diam tidak mengerti. Ia lalu memakai letak bando yang terlepas dari kepalanya.
***
            Sang Surya menggagahkan dirinya dilangit timur. Sementara suara ayam terus menari-nari indah di udara. Bambang yang sudah lebih dulu bangun membangunkan anaknya, membuat sarapan dan mengantarkan anaknya sekolah serta mengantarkan istrinya pergi bekerja ke kantor.
            Beberapa tahun yang lalu ia mundur dari pekerjaanya sebagai seorang Guru di sebuah sekolah karena ia tidak bisa mengajar sambil mengatasi sakit yang ia derita.
            Langit biru menghiasi panggung langit namun awan tak sedikitpun tampak mau menari menutupi panggung langit. Bambang memanfaatkan cuaca yang begitu cerah ini untuk mencuci dan menjemur pakaian keluarganya.
            Ketika ia menjemur kaos biru miliknya, ia mengalami tics “Peler, hey!” lalu ia tiba-tiba bersiul.
            Dua wanita sedang berjalan di lorong rumah Bambang. Wanita pertama bertubuh gemuk menggunakan daster kuning, berambut keriting dan berkulit hitam. Wanita kedua bertubuh kurus bercelana pendek, berkulit putih, memakai kaos merah jambu dengan ikat rambut berwarna merah jambu saling bertatapan sambil tertawa kecil.
“Kumat lagi penyakitnya. Ih jijik!” Bisik wanita gemuk itu dengan nada ketus.
“Sudahlah. Kita pergi jauh saja dari sini.” Ajak wanita kurus itu.
Kedua wanita itu terus berjalan. Ketika di ujung gang mereka berbelok ke kiri lalu berhenti di sebuah warung.
Bambang tidak menghiraukan apapun perkataan mereka. Ia terus saja menjemur pakaian.
Selesai menjemur pakaian ia pergi berbelanja ke sebuah pasar yang letaknya disebelah Terminal Baru lebih kurang satu kilometer dari rumahnya. Disana ia berbelanja sayuran dan ikan untuk makan keluarganya hari itu.
Semerbak bau ala pasar tradisional menghiasi tempat itu. Sementara suara dagangan dari mulut penjual terus bergema disetiap sudut kios. Suara itu saling bertabrakan satu sama lainnya tanpa berhenti sedikitpun. Suara-suara itu saling berebut konsumen dengan tawaran yang selalu menjanjikan.
Ketika sampai pada sebuah kios cabe ia lalu berhenti dan membeli cabai.
“Cabe sekilo berapa?” Tanya Bambang
“Sembilan puluh ribu saja Pak.” Jawab pedagang cabai yakni seorang wanita bertubuh gemuk.
“Tujuh puluh lah.”
“Janganlah Pak. Ini untungnya juga sedikit.”
“Mahal sekali Mbak.” Lalu tics Bambang kambuh lalu menghina wanita itu.”Pepek!” Selanjutnya ia meludah wajah pedagang wanita itu.
Wanita itu lalu kesal dan memarahi Bambang. “Dasar Babi! Kalau tidak bisa beli mendingan pergi saja sana! Hus! Pergi!”
“Maaf Mbak saya tidak sengaja. Tadi penyakit saya tadi sedang kambuh. Mohon maaf mbak. Maaf.” Kata Bambang memohon.
Wanita itu lalu memafkan Bambang dan menjual cabainya dengan wajah kusut.
Setelah membeli cabai, Bambang lalu membeli bahan-bahan dapur lainnya. Bambang menelusuri setiap kios yang ada di pasar itu. Disetiap kios ia temui berbagai masalah karena penyakit tourette yang ia derita. Namun hatinya tetap tegar. Selesai berbelanja Bambang pergi ke parkiran motor untuk pulang ke rumah. Ketika berjalan menuju parkiran ia menabrak seorang pria hingga barang bawaan pria itu jatuh. Pria bertubuh atletis, memakai kaos hitam dan jeans biru itu lalu memarahi Bambang.
Saat itu Bambang mengalami tics lagi “Pilat kau!” lalu  ia meminta maaf. “Maaf Pak tadi penyakit Tourette saya kambuh.”
Pria itu sudah terlanjur kesal lalu meninju wajah Bambang. Bambang berusaha menjelaskan bahwa ia tidak sengaja dan ia sedang sakit Tourette. Namun Pria itu tetap terus menghajarnya. Bambang berusaha membela diri dengan turut menyerang pria itu. Perkelahian itu berlangsung sengit dan tak ada satupun yang ingin berhenti. Satpam yang mengetahui adanya perkelahian itu lalu merelai mereka berdua. Bambang lalu di usir dari pasar itu. Bambang lalu pulang ke rumah dengan tubuh penuh luka.
Ketika pulang ke rumah ia disambut oleh istrinya dengan wajah prihatin. Najah lalu membersihkan luka-luka pada tubuh suaminya dengan meneteskan air mata.
***
Matahari tegak lurus dengan Bumi. Sinarnya mendekap bumi dengan sejuta kehangatan. Bambang menjemput Nur dan Najah dengan motornya. Angin terus membelai kulit-kulit keluarga bahagia itu.
Ditengah jalan. Tiba-tiba ada sebuah motor menabrak mobil mobil. Motor itu jatuh ketanah. Sopir mobil itu keluar dan memaki pengendara motor yang masih terluka. Pengendara lainnya pun berhenti mengerubungi Pria berkumis dan Mahasiswi berambut panjang itu.
Bambang yang melihat kejadian itu awalnya berniat menepikan kendaraannya. Namun, Ia segera mengurungkan niatnya karena Ia tahu jika Ia ikut mengerubungi dua orang tadi. Ia malah akan menambah masalah baru. Ia terus memacu motornya meninggalkan kerumunan itu.
***
Derita dan derita terus ia jalani. Berbagai luka ia terima namun ia mencoba untuk terus bertahan. Satu per satu teman-teman menjauhi Bambang karena takut tertular penyakit aneh yang Bambang derita walaupun sebenarnya penyakit itu tidak menular. Kini ia tinggal sendirian dalam sebuah kegelapan yang sunyi yang menyelimuti dirinya dari waktu ke waktu tanpa akhir.
Bambang berteriak keras dalam kegelapan. Dalam angan-angannya terus berputar berbagai hinaan dan cacian yang ia terima dari teman-teman, tetangga dan masyarakat sekitar. Tubuh Bambang bergetar hebat lalu ia mengaum keras dalam kesunyian. Ia mengalami depresi berat. Bambang sudah tidak tahan menghadapi sakit yang ia derita. Bambang lalu mengambil pisau yang terletak di dapur dan hendak bunuh diri dengan cara menikam jantungnya.
Pisau yang berukuran cukup besar itu ia pegang dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus bercucuran tanpa henti. Ia masih terbayang berbagai hinaan, cacian dan cemoohan  yang ia terima dari orang-orang disekitarnya. Bambang berteriak keras dan mulai akan menusuk jantungnya.
Najah yang baru pulang kerja kaget dengan apa yang ia lihat. Najah lalu membuang tas dan sepatu yang ia kenakan lalu berlari mengejar Bambang. Najah langsung berusaha merebut pisau itu untuk menghentikan aksi gila Bambang namun Bambang tetap menahan pisau itu lalu membanting Najah hingga jatuh ke lantai. Najah tidak putus asa. Najah mencoba lagi mengambil pisau itu dari tangan Bambang sekuat tenaga. Akhirnya Najah berhasil mengambil pisau itu dan membuangnya jauh dari Bambang.
Setelah Najah membuang pisau itu, Najah lalu memeluk tubuh Bambang erat-erat. “Sayang tolong jangan lakukan hal itu lagi. Jangan tinggalkan aku dan Nur.” Kata Najah sambil menangis tersedu-sedu.
“Tapi sayang aku sudah tidak kuat. Aku dikucilkan semua orang! Aku dibuang! Aku dibilang orang gila!” Kata Bambang meraung dan menangis.”Aku gila! Aku dibilang orang gila! Aku dibuang karena penyakit sialan ini!”
“Tenang masih ada aku dan anak-anak disini. Kami akan selalu bersamamu.” Kata Najah menenangkan.
“Tidak bisa. Hidupku sudah tidak berarti lagi. Aku sudah menjadi sampah bagi kalian semua.” Kata Bambang yang masih menangis.
“Tapi kau sangat berarti bagiku dan anak kita. Tanpa kau kami akan merasa sangat kesepian. Tidak ada lagi yang menemaniku menjalani hari-hari yang indah. Tidak ada lagi yang membimbing Nur untuk menggapai masa depannya yang cerah,” Kata Najah berusaha meyakinkan.
Bambang lalu meraung keras dan menangis dalam pelukan Najah.
***
Untuk mengobati penyakit Sindrom Tourette yang Bambang derita. Najah lalu membawa Bambang berobat serta mengajak Bambang mengikuti berbagai terapi seperti terapi perilaku, psikoterapi, habit reversal, supportive therapy dan berbagai terapi lainnya. Selama menjalani terapi Najah selalu menemani Bambang.
Jambi, 14 Januari 2015
Catatan kaki:
1 Mantra Tajuk Kembang merupakan mantra yang digunakan oleh Suku Kubu (Suku Anak Dalam yang tinggal di Provinsi Jambi) untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir roh jahat.


Selasa, 05 Agustus 2014

Cerpen: Dasar Bodoh Semua


Hari ini saya akan memposting cerpen yang saya ikut sertakan dalam lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) di Jambi tahun 2014 cabang Cerpen yang diadakan tanggal 23 Juni 2014. Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan Juara 3 pada lomba Peksimida. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Allah swt, terima kasih kepada bang Aart S. Jauhari yang sudah mengajari saya teknik menulis yang belum saya ketahui dan juga bang Anggit Eko Suseno yang juga mengawasi proses belajar menulis saya. Terima kasih semuanya.
Selamat membaca!
DASAR BODOH SEMUA
Karya: Febrianiko Satria

            Iblis-iblis itu saling menghujam dan saling membunuh satu sama lainnya demi Sang Calon Raja yang diinginkannya. Di pikirannya terus terbayang semua surganya neraka apabila Sang Raja yang di inginkannya menang dalam Pemilihan Raja ini. Ia tidak peduli dengan semua bisikan halusnya kepada rakyat ataupun darah yang tertumpah karena menelan semua kebohongannya. Baginya yang terpenting adalah dirinya sendiri. Ia tertawa riang melihat kebohongannya menari-menari ditengah kerajaan.

***
            Disuatu Kerajaan bernama Rimaulati sedang melaksanakan pemilihan kepala Negara. Sang Raja sudah sangat tua memutuskan untuk mencari penggantinya. Sayangnya Raja itu tak beristri dan tidak pula memiliki anak. Untuk itulah ia memutuskan untuk melakukan Pemilihan raja dengan sistem demokratis. Pemilihan Raja ini bisa di ikuti oleh siapa saja mulai dari kalangan rakyat, militer, pengusaha hingga bangsawan. Sang Raja lalu segera membentuk sebuah Badan Pemilihan Raja untuk mencari penggantinya. BPR ini lalu menyerahkan berbagai macam pengumuman ke seluruh negara. Semua rakyat menyambut gembira pemilihan ini.

            Badan Pemilihan Raja (BPR) akhirnya berhasil mengumpulkan 50 orang pendaftar. Para pendaftar itu akhirnya diseleksi dengan berbagai macam ujian. Dari banyak pendaftar itu terus bersaing dalam seleksi dan akhirnya menyisakan 6 orang peserta. Seorang petani, Seorang Perkebun, Seorang Jendral, Seorang Pedagang, Sang Nelayan dan Seorang Bangsawan. Dari enam orang peserta itu tersisalah seorang Nelayan dan seorang Jendral. Mereka mengikuti berbagai ujian seleksi lagi dan akhirnya mereka berdua menang di berbagai ujian seleksi tersebut. Karena mereka berdua cukup hebat akhirnya sang raja memutuskan untuk melakukan pemungutan suara. Pemungutan itu berlangsung pada tahun depan.
           Sang Nelayan berusaha mendapatkan dukungannya dengan cara bekerja sama dengan Perkebun dan Sang Pedagang. Sedangkan Sang Jendral juga bekerja sama dengan Sang Bangsawan dan Sang Petani.
            Para anak buah sang Jendral yang bersifat Penjilat lalu berusaha meyakinkan semua anggota militer untuk memilih Sang Jendral. Namun hal itu dihentikan Sang Jendral dengan memerintahkan agar semua anak buahnya agar bersifat netral. Sang Jendral lalu keluar dari militer kerajaan untuk meyakinkan semua anak buahnya agar tetap bersifat netral.
            Para rekan Sang Nelayan juga melakukan hal yang sama agar semua nelayan memilih Sang Nelayan untuk menjadi Raja. Tetapi Sang Nelayan menghentikannya dan menyuruh para nelayan agar memilih sesuai hati  nuraninya.

***
            Badai tampak dari kejauhan, ia akan menghancurkan perdamaian kerajaan.
           Untuk memenangkan Sang Nelayan. Sang Pedagang berusaha mengalahkan Sang Kepala Militer dengan menyebarkan pamphlet gelap yang berisi berbagai pembantaian rakyat yang pernah dilakukan sang Jendral. Walaupun itu semua tidak pernah terjadi.
            Sebagai hasil dari pamphlet gelap itu masyarakat menjadi takut untuk memilih sang Jendral walaupun sang Jendral itu adalah seorang Jendral yang baik dengan alasan jika . Untuk menghilangkan  kabar buruk dan mengembalikan jumlah pemilih, Sang Bangsawan juga mengumpulkan rakyatnya di sebuah ruangan megah dan memberikan sebuah pengumuman.
            “Perhatian kalian semua mulai saat ini kalian tidak boleh memakan ikan hasil tangkapan Sang Nelayan karena ia menggunakan racun untuk menangkap ikan. Takutnya kalian akan keracunan karena memakan ikan dari Sang Nelayan.” Kata  Sang Bangsawan dengan ekspresi meyakinkan.
            “Ah tidak mungkin.” Bantah salah satu rakyat.
            “Kalian tahu tidak banyak orang keracunan di daerah barat itu karena apa?” Tanya Sang Bangsawan.
            “Memangnya karena apa?”
            “Itu karena mereka memakan ikan hasil tangkapan Sang Nelayan.”
            “Apa?”
            Sebagai hasil dari pengumuman bohong yang penuh kepalsuan dari Sang Bangsawan, Penghasilan Sang Nelayan langsung turun secara drastis. Untuk mengembalikan suara Sang Nelayan, Sang Perkebun langsung memberikan fakta jujur tentang Nelayan bahwa ia menggunakan jaring biasa ketika menangkap ikan di laut. Lalu membuat gossip di  kalangan rakyat bahwa Sang Jendral ketika perang mengambil banyak wanita untuk dijadikan wanita simpanan pemuas nafsu bejat sang jendral.
            Tentu saja banyak sekali pendukung sang Jendral tersinggung. Sang Petani lalu berusaha memperbaiki citra buruk pemimpinnya lalu menyebarkan isu tentang Sang Nelayan bahwa Sang Nelayan ketika melaut diberikan sebuah kapal besar hasil pemberian salah satu Raja dari Negara lain.
           Sudah pasti banyak rakyat kaget dengan kabar burung itu. Mereka takut kalau sang Nelayan sudah dibekingi oleh Raja-Raja dari Negara lain jadi kalau Sang Nelayan sudah berkuasa maka Raja-Raja yang mendukungnya bakal meminta imbalan berupa wilayah atau kekayaan dari Negaranya.
            Sudah pasti para pendukung Sang Nelayan sangat geram dengan hal itu. Mereka menolak dengan tegas hal itu. Mereka lalu memberikan sebuah fakta bahwa Sang Nelayan tidak memiliki kapal melainkan sebuah perahu tua bekas peninggalan Ayah Sang Nelayan.
           Pendukung Sang Nelayan lalu memberikan isu miring tentang Sang Bangsawan yang merupakan pendukung Sang Jendral. Diketahui Sang Bangsawan bersifat semena-mena dengan Rakyat jelata. Sang Bangsawan juga diberitakan kalau ia hanya memanfaatkan Sang Jendral sebagai Boneka untuk menjadi Raja sesungguhnya. Sang Pedagang yang merupakan pendukung Sang Nelayan berani pasang badan bahwa pernyataanya itu benar adanya.
            “Pegang kata-kataku Bangsawan itu selalu begitu aku sering mendengar pengakuan dari orang-orang sekitarnya.” Kata Sang Pedagang dengan lantang dan sangat meyakinkan.
            Faktanya memang sang Bangsawan berlaku demikian kepada rakyatnya. Ia juga memang memanfaatkan Sang Jendral sebagai boneka agar ia menjadi Raja sesungguhnya. Namun tentu saja Sang Bangsawan menyembunyikan fakta ini. Dihadapan rakyatnya ia berpura-pura bersedih  dan tidak terima dengan gosip itu. Agar menghilangkan pandangan buruk masyarakat tentang dirinya. Ia lalu berpura-pura baik dengan masyarakat lalu memberikan sumbangan dengan embel-embel agar semua Rakyat mau memilih sang Jendral untuk menjadi Raja. 
            Sayup-sayup terdengar kabar miring yang diarahkan ke Sang Pedagang selaku pendukung Sang Nelayan. Diceritakan kalau Sang Pedagang sengaja menjadikan Sang Nelayan sebagai Raja agar ia bisa memonopoli dunia perdagangan.
            Sebenarnya Sang Pedagang memang ingin melakukan hal itu jika Sang Nelayan menjadi Raja berikutnya. Tetapi tentu saja ia berpura-pura tidak terima dan berusaha berpura-pura baik dihadapan rakyat banyak. Ia lalu memberikan bonus kepada semua konsumennya dengan embel-embel agar memilih Sang Jendral untuk menjadi Raja.
            Sang Raja akhirnya menjadi pusing sendiri dengan berbagai macam isu miring dan gossip yang terus menimpa masing-masing calon penggantinya. Untuk menengahi para pendukung gila itu, Sang Raja lalu membuatkan semacam acara debat yang dilaksanakan minggu depan. Tujuan debat ini agar masyarakatnya benar-benar tahu siapa calon pemimpinnya.

***
           Tibalah dihari dimana acara debat para raja itu dilaksanakan. Tema acara debat itu adalah tentang Perekonomian Negara.
“Para rakyatku sekalian kita mulai acara debat ini.” Kata Raja mengakhiri sambutan dan memulai debat.
Rakyat lalu bersorak gembira.
Acara debat berlangsung secara lancar namun diakhir acara debat para pendukung masing-masing calon Raja saling bersenggolan dan akhirnya menjadi sebuah keributan antara satu sama lainnya lalu terjadi kerusuhan sepanjang acara debat. Sang Raja lalu menyuruh pasukan istana untuk menghentikan kerusuhan itu dan membubarkan acara debat.
           Suasana kerajaan lalu semakin lama semakin tidak nyaman karena masing-masing pendukung terjadi semacam perang dingin yang kotor. Masing-masing para pendukung secara sengaja dan terang-terangan memberikan bantuan kepada masyarakat. Tentu saja hal ini tidak gratis karena rakyat dipaksa memilih Calon Raja berikutnya yang diinginkan dari masing-masing pendukung.
            Ditengah kekisruhan itu Sang Raja lalu membuat acara debat lagi. Kali ini Sang raja membuat Tema “Kesatuan dan Persatuan Bangsa”. Tujuan dibuatnya tema tersebut agar rakyatnya menjadi kembali damai tanpa perpecahan atas saran dari Calon Raja masing-masing. 
            Namun sayangnya acara debat itu malah menjadi rusuh tidak terkendali. Benar-benar terbalik dari tujuan Sang Raja. Malahan terjadi pertumpahan darah antar masing-masing pendukung. Korban pun terus berjatuhan akhirnya Sang Raja menghentikan acara debat ini lagi dengan bantuan pasukan istana lagi.
***
           Badai akhirnya benar-benar datang menghancurkan kedamaian kerajaan. Suasana dalam Kerajaan semakin lama semakin bertambah parah. Para pendukung yang awalnya melakukan perang dingin kini malah melakukan Perang yang sesungguhnya. Kini kerajaan itu  tak ubahnya seperti Perang Saudara.
           Dari pihak Sang Nelayan membuat pasukan yang diketuai oleh sang Pedagang. Sedangkan dari pihak sang Jendral diketuai oleh sang Bangsawan. Mereka memiliki masing-masing 300 pasukan dan terus bertambah dari hari ke hari bagaikan jamur di musim hujan. Bahkan mereka memiliki benteng pertehanan sendiri. Contohnya dari pihak Nelaya, mereka memiliki markas di bagian barat kerajaan sedangkan dari pihak Sang Jendral memiliki kekuasaan di bagian timur kerajaan. Mereka awalnya membuat benteng kecil lalu lama kelamaan menjadi benteng raksasa. Hingga akhirnya mereka masing-masing membuat istana megah sendiri-sendiri.
          Hingga akhirnya terjadilah perang besar-besaran selama seminggu ketika dua bulan sebelum pemilihan raja. Mereka saling daerah satu sama lain. Mereka juga berusaha merebut daerah kekuasaan satu  sama lainnya. Perang ini mengakibatkan kerugian besar dimasing-masing pihak. Darah terus bertumpah di tanah kerajaan. Tanah kerajaan yang awalnya subur kini malah menjadi tandus dan gersang karena terus dikotori oleh tangan-tangan egois yang serakah dengan kekuasaan.
          Namun dibalik peperangan yang rada-rada aneh dan unik itu. Sang Calon raja dari masing-masing kubu merasakan hal aneh. Mereka merasa yang akan menjadi raja saja tidak bertengkar tetapi kok malah pendukungnya yang bertengkar malah kini berujung perang. Akhirnya Sang Nelayan dan Sang Jendral masing-masing pergi sendiri menyendiri memikirkan pendukung masing-masing yang semakin aneh.
         Peperangan yang terus terjadi semakin membuat sang Raja tidak nyaman. Sang Raja berpikir bahwa hal ini dapat memecah belah kerajaan dan memicu pemberontakan. Setelah berpikir panjang selama beberapa hari, akhirnya Sang Raja melakukan penumpasan terhadap masing-masing pendukung.

***
          Penumpasan terus dilakukan secara berangsur-angsur. Meskipun semakin lama menjadi semakin sulit karena mulai Sang raja mulai diberitakan yang aneh-aneh. Akhirnya penumpasan berhasil dilakukan. Perdamaian kembali tercipta di Kerajaan Rimaulati. Sayangnya ketika Sang Raja ingin melakukan penangkapan masing-masing pemimpin para pendukung Sang Pedagang, Sang Perkebun, Sang Petani dan Sang Bangsawan melarikan diri.

          Akhirnya dibuat semacam pengumuman bahwa siapa saja yang dapat menangkap mereka berempat akan diberikan hadiah besar. Sebulan kemudian akhirnya Sang Perkebun ditangkap di daerah selatan, Sang Petani di daerah gunung, Sang Bangsawan di hutan dan terakhir Sang Pedagang di tangkap tak kala akan melarikan diri ke kerajaaan lain melalui  jalur laut.

***
         Seminggu kemudian tepatnya sehari sebelum Pemilihan Raja, Sang Nelayan dan Sang Jendral yang menyendiri pulang ke kerajaan untuk memperhatikan para pendukung mereka dan menghadap Sang Raja. Mereka lalu pergi ke istana untuk bertemu Sang Raja. Setelah selesai menemui Raja. Sang Nelayan dan Sang Jendral berpidato dihadapan pendukung-pendukungnya.
         “Kalian itu bodoh mengapa kalian bertengkar hanya demi mendukung calon Raja kalian, Kalian itu tolol kalian mau saling berbunuh-bunuhan demi kami, Kalian semua itu idiot, Ngapain kalian saling berperang hanya untuk menunjukkan dukungan kalian. Dasar bodoh, tolol dan kalian semua idiot! Mulai hari ini kami mundur sebagai Calon Raja.” Kata Sang Nelayan dan Sang Jendral dihadapan para pendukungnya.
         Setelah selesai berpidato mereka berdua keluar dari istana. Sang Nelayan lalu pergi ke Kerajaan lain untuk memulai hidup  yang baru di Negeri orang. Sedangakan Sang Jendral pergi  ke gunung dan menjadi pertapa.

TAMAT


Jambi, 23 Juni 2014

Rabu, 10 Juli 2013

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa dan yang Tidak Membatalkan Puasa

Langsung aja ya gan berikut ini adalah hal-hal yang membatalkan puasa:

  1. Makan dan minum dengan sengaja
  2. Jima' (bersenggama)
  3. Memasukkan makanan ke dalam perut
  4. Muntah dengan sengaja
  5. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman, atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja
  6. Keluarnya Haid dan Nifas
  7. Murtad
Sedangkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah sebagai berikut:
  1. Makan dan minum karena lupa, keliru (maksudnya, mengira sudah waktunya buka ternyata belum) atau terpaksa. Tidak wajib mengqodho’-nya ataupun membayar kafarat.
  2. Muntah tanpa disengaja.
  3. Mencium isteri, baik untuk orang yang telah tua maupun pemuda selama tidak sampai menyebabkan terjadinya jima’.(bersetubuh/merangsang)
  4. Mimpi basah di siang hari walaupun keluar air mani. Pas waktu tidurnya nggak sadar atau tidak sengaja
  5. Keluarnya air mani dengan sendirinya tanpa sengaja seperti orang yang sedang berkhayal lalu keluar (air mani).(ingat ini tidak sengaja)
  6. Mengakhirkan mandi janabat, haidh atau nifas dari malam hari hingga terbitnya fajar. Namun yang wajib adalah menyegerakannya untuk menunaikan shalat.
  7. Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke dalam rongga hidung) secara tidak berlebihan
  8. Menggunakan siwak kapan saja, dan yang semisal dengan siwak adalah sikat gigi dan pasta gigi, dengan syarat selama tidak masuk ke dalam perut. (berarti nggak boleh tertelan)
  9. Mencicipi makanan dengan syarat selama tidak ada sedikitpun yang masuk ke dalam perut.
  10. Bercelak dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan rasanya di tenggorokan.
  11. Suntikan (injeksi) selain injeksi nutrisi dalam berbagai jenisnya. Karena sesungguhnya, sekiranya injeksi tersebut sampai ke lambung, namun sampainya tidak melalui jalur (pencernaan) yang lazim/biasa.
  12. Menelan air ludah yang berlendir (dahak), dan segala (benda) yang tidak mungkin menghindar darinya, seperti debu, tepung atau selainnya (partikel-partikel kecil yang terhirup hingga masuk tenggorokan dan sampai perut
  13. Menggunakan obat-obatan yang tidak masuk ke dalam pencernaan seperti salep, celak mata, atau obat semprot (inhaler) bagi penderita asma.
  14. Gigi putus, atau keluarnya darah dari hidung (mimisan), mulut atau tempat lainnya.
  15. Mandi pada siang hari untuk menyejukkan diri dari kehausan, kepanasan atau selainnya.
  16. Menggunakan wewangian di siang hari pada bulan Ramadhan, baik dengan dupa, minyak maupun parfum.
  17. Apabila fajar telah terbit sedangkan gelas ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan-nya melainkan setelah ia menyelesaikan hajat-nya.
  18. Berbekam, “karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berbekam sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” 
  19. Tidur, selama tidak seharian penuh.
  20. Berenang, selama tidak meminum airnya.
Begitulah hal-hal yang membatalkan puasa dan hal-hal yang tidak membatalkan puasa. Semoga artikel ini bermanfaat.

Mumpung lagi bulan Ramadhan ane mohon maaf kalau banyak salah. mohon maaf lahir dan batin.

Sumber:

Sabtu, 20 April 2013

RS4: Mencontek Di Sekolah (drama)


Mencontek Di Sekolah (drama)
karya: Febrianiko Satria (Niko X7)

 (Panggung menggambarkan ruangan kelas yang masih kotor lengkap dengan kursi,meja,sapu,tong sampah dan serokan sampah. Sampah banyak berserakan dilantai)

Pada pagi hari, Lilis baru tiba disekolah. Dikelas masih tampak sepi karena masih sangat pagi, kelas juga masih sangat kotor lantaran siswa-siswi belum ada satupun yang piket kelas. Kebetulan hari ini yang piket adalah Lilis,Tia dan Ika.
Lilis: “ Ai masih sepi (menuju ke bangkunya)  O iya aku hari ini piket dak?.” ( menaruh tasnya ke meja lalu mengambil sapu setelah itu menyapu kelas)
Ika dan Tia lalu tiba. Mereka masih mengenakan tasnya. Mereka memperhatikan Lilis yang sedang piket kelas.
Ika: (tertawa) “Rajin-rajin yo piket.”
Lilis: (tersenyum) “ Iyolah aku kan anak yang rajin.”
Tia: (menatap Lilis) “Be parah kau nih, kau kan piket hari ini Ika.”
Ika: (menatap balik) Kau kan piket jugo.”
Lilis: (kesal) “Sudahlah, mending kalian batu aku sekarang.”

            Ika dan Tia lalu menaruh tas mereka ke kursi masing-masing lalu membantu Tia membersihkan kelas.

Setelah membersihkan kelas,mereka duduk-duduk sambil menggosip tentang One Direction.
Lilis: (memutar lagu One Direction berjudul Make You Beautifull dari handphonenya)
Tia: “Aku dengar-dengar One D akan vakum selama sepuluh tahun.”
Ika: (kaget) “Ah yang bener?.”
Tia: “Bener kemaren aku ngeliat di Internet.”
Lilis: “ Ah dak mungkin. Mereka aja baru liris album kedua.”
Mereka ternyata lupamengerjakan PR Kimia dari Bu Mawar karena keasyikan menggosip tentang One Direction. Tiba-tiba Ika teringat PR Kimia.
Ika: “Kalian sudah dak ngerjain PR kimia?”
Tia: “Yang mana?”
Ika: “Yang dibuku cetak tuh na. Kalian sudah dak?”
Lilis: “PR yang mano lagi tuh?”
Ika: “PR dibuku cetak.”
Tia: “Be bosan nian tiap hari ado PR. Pinjam PR kau Tia.”
Ika: (mengambil buku PR dari tasnya lalu menyerahkannya kepada Tia)”Ini.”
Tia: (mengambil  buku PRnya lau menyalin PR Ika) “Kau dak ngerjoin Lilis?”
Lilis: “Nanti ah males.”

Tidak lama kemudian datanglah Bu Mawar yang mengajar Kimia sekaligus wali kelasnya dengan membawa buku cetak Kimia,buku absen da lain-lain. Lilis lalu mematikan lagu dari Hpnya.
Bu Mawar: (duduk ke meja guru) “ Siapkan Ika.”
Ika: “Semua siap do’a mulai.”
Ika,Tia,Lilis dan Bu Mawar: ( Berdo’a)
Ika: “Semua siap beri salam!”
Ika,Tia dan Lilis: “Selamat pagi bu.”
Bu Mawar: “Selamat pagi juga.”
Lilis: (berbisik) “Pinjam PR kau Tia.”
Tia: “Eh ngapo dak dari tadi.” (Memberikan PR nya kepada Lilis)
Lilis: (menerima buku PR Lilis lalu menyalinnya)

            Tidak lama kemudian, Rio datang terburu-buru karena ia telat.
Lilis; “Oy Sudah siang nih. Kami mau balek lah lagi.”
Tia: “Iyo kami mau pulang.”
Rio: (cengengesan) “Baseng be, Ini be masih pagi.”
Bu Mawar:  “Kau kemano be Rio, Kau ngurusi bini yo di rumah?.”
Rio: “Nggak kok bu, Rio Cuma Ikaangan.”
Bu Mawar: “Makanya jangan tidur larut nian.”
Rio: “Iyo bu.”

Karena sudah hadir semua, bu Mawar ingin mengabsen anak-anak.
Bu Mawar: “Kita absen dulu. Lilis Sugandar.”
Lilis: (mengangkat tangan tetapi masih melihat buku) “Hadir.”
Bu Mawar: “Ika Wulandari.”
Ika: “Hadir.”
Bu Mawar: “Rio Adhiyaksa.”
Rio: (mengangkat tangan) “Hadir.”
Bu Mawar: “Tia Susanti.”
Tia: (mengangkat tangan) “Hadir.”

            Selesai mengabsen, Bu Mawar teringat kalau hari ini anak-anak ada PR. Bu Mawar juga ingin anak-anak ulangan harian.
Bu Mawar: “Mana PR kalian?.”
Lilis: (masih mengerjakan PR) “belum Bu, soalnyo susah nian.”
Rio: (mengerjakan PR terburu-buru)
Tia: “Iyo bu soalnyo susah nian.”
Bu Mawar; (bernada tinggi)” Sudahlaah kalian nyontek jugo kan.”
Ika: “Kok Ibu tau.”
Bu Mawar: “Iyolah tiap hari kayak gitu terus. Sudahlah hari ini kito ulangan.”
Ika: “Besok be bu hari Jum’at.”
Lilis: “Iyo bu besok be Bu.”
Bu Mawar: (marah) “Besok terus! Besok terus! Kemaren bilang besok! Sudahlah kito ulangan sekarang.”
Bu Mawar lalu memberikan kertas ulangan kepada anak-anak.
Bu Nunug: “Kerjakan di kertas ulangan. Kalau tidak muat tambah be dikertas lembar.”

            Lilis dan Tia mengerjakannya sambil ngepek buku cetak dan buku catatan. Hanya Rio dan Ika yang mengerjakannya secara jujur. (action: Tia dan Ika berbicara berbisik-bisik)
Lilis: “Elemen volta halaman berapa Tia?”
Tia: “118.”

            Rio yang tidak menghafal semalam jadi menyesal kenapa ia tidak belajar.
Rio: “Ay nyesal aku ngapo aku dak ngafal semalam.”

            Waktupun berlalu hingga akhirnya waktu ulangan habis. Anak-anak mengumpulkan kertas ulangan mereka.
***
            Hari ini adalah hari pertama ujian semester. Lilis dan teman-temannya ditempatkan diruang 9. Mereka hari ini ujian Fisika. Guru yang mengawasi mereka adalah Bu Mawar.
Bu Mawar: (berdiri dihadapan anak-anank) “Kalian jangan mencontek ataupun ngepek sedikitpun. Awas kalau kalian curang, nanti kertas kalian ibu tarik!.” (lalu membagikan kertas ujian)

            Anak-anak mengerjakan soal dengan pengawasan ketat dari Bu Mawar karena hari ini Bu Mawar tidak ingin kecolongan lagi. Bu Mawar mengawasi mereka dari meja guru.
Lilis dan Tia mengepek buku catatan Fisika karena mereka selama ini malas belajar. Sayangnya mereka ketahuan oleh Bu Mawar.
Lilis: (masih mengepek)
Bu Mawar: (berjalan ke meja Lilis) “Kau nih ngepek terus.” (mengambil kertas jawaban Lilis)
Lilis: “Ay buk.” (menjerit lalu mengambek)
Tia: (tampak seperti tidak peduli dan tetap terus mengepek)
Bu Mawar: (berjalan ke meja Tia lalu mengambil kertas jawaban Tia sambil marah-marah) “kau nih ikutan-ikutan pulak.” (kembali ke meja guru) Kalian semua jangan curang ketika ujian!.”
Waktu ujian selesai. Ika dan Rio mengumpulkan kertas jawaban mereka, lalu anak-anak meninggalkan ruang ujian.

***
Hari-hari ujian pun selesai. Ternyata Lilis remedial hampir semua mata pelajaran.

***
Dua minggu berikutnya, siswa-siswi menerima rapor dan orang tua mereka disuruh mengambil rapor.
Ketika  acara membagikan rapor selesai, Ibunya Lilis bernama Bu Riska harus ditahan dulu karena Bu Mawar ingin membicarakan masalah Lilis kepada bu Riska. (action: Bu Riska dan Bu Mawar berbicara pelan)
Bu Mawar: “Maaf bu ini tentang anak Ibu. Selama ini anak Ibu malas belajar disekolah dan malas mengerjakan tugas di sekolah. Kalaupun mau megerjakan tugas, ia mencontek punya temannya. Nilai-nilai anak Ibu juga banyak yang kosong. Jadi dengan terpaksa anak Ibu tinggal kelas.”
Bu Riska: “Mohon maaf bu atas ulah anak saya.”
Setelah selesai mereka berbicara, Bu Riska dan pulang kerumahnya bersama Lilis.
***
(Panggung menggambarkan sebuah ruangan yang terdiri dari beberapa kursi dan satu meja)
Sesampai dirumah, Bu Riska langsung memberikan rapor bayangan kepada Lilis.
Lilis: (terkejut) “Lho kok nilai Lilis banyak yang merah. Kok Lilis tinggal kelas?”
Bu Riska: (geram) “Itu semua gara-gara kamu malas belajar!”
Lilis: “Nggak kok bu, Lilis rajin kok belajar.”
Bu Riska: (mengambil beberapa kerats lembar dan buku-buku cetak Lilis lalau menandai soal dan diberikan kepada Lilis) “Kerjakan semua yang Ibu tandai.”
Lilis: “Baik bu.”

            Bu Riska meninggalkan ruangan menuju dapur untuk memasak.
Adiknya Lilis yang bernama Nadia memasuki ruangan. Ia lalu duduk disamping Lilis.
Nadia: “Lagi ngapain kak?”
Lilis: “Ini lagi ngerjain tugas dari Ibu, tapi soalnya susah banget.”
Nadia: “Ngapain belajar lagi. Orang lagi liburan?”
Lilis: “Ini kalau gak perintah Ibu gak kakak kerjain.”
Nadia: “Coba Nadia kerjakan.” (Mengambil salah satu buku cetak Lilis dan beberapa kertas lembar lalu mengerjakan soal Lilis) “Begini kak caranya coba perhatikan.”
Lilis: (melihat apa yang dikerjakan Lilis) “Oh begitu caranya ternyata mudah banget. Terima kasih Nadia.”
Nadia: “Sama-sama kak.” (meninggalakan ruangan)
Lilis: “Nyesal aku selama ini malas belajar, Akhirnya aku jadi tinggal kelas. Meleset, kusut-kusut .”

            Sejak saat itu Lilis mulai rajin belajar dan tidak mengulangi perbuatannya yang telah lalu.

TAMAT


Jambi, 23 November 2012 - 20 April 2013.