Postingan

ARTIKEL AYO UKUR KEMAMPUANMU MENEMUKAN JODOH DENGAN MELEWATI MACET DI JALAN LINTAS JAMBI – MUARA BULIAN

AYO UKUR KEMAMPUANMU MENEMUKAN JODOH DENGAN MELEWATI MACET DI JALAN LINTAS JAMBI – MUARA BULIAN Oleh: Febrianiko Satria Sudah berapa wisuda terlewati, Mblo? Gak bosen apa dengan revisi skripsi mulu? Oh iya sudah berapa undangan yang dikasih ke kamu. Eh bukannya mantan pacarmu dulu   yang ditikung sahabatmu sendiri udah nikah sekarang? Lah kamu kapan nyusul? Apa gak kesal lihat mantanmu lakukan malam pertama. Oh iya Mbah lupa kalau kau udah test drive duluan. Hahaha. Daripada kamu kesal gak karuan menghadapi kejombloanmu mending hentikan semua tingkah konyol itu sekarang. Udah baikan? Ah ternyata belum. Nah Mbah punya tips khusus untuk mengukur kekuatanmu meraih jodoh. Tips ini baru saja Mbah temukan setelah bertapa bertahun-tahun. Bagaimana caranya? Nah kamu cukup melewati macet di Jalan Lintas Jambi - Muara Bulian. Hah serius? Ya elah gak percaya amat. Sekarang kamu coba dulu deh menguji nyalimu melewati macet parah dari di Jalan Lintas Jambi-Muara Bulian. Te...

Cerpen Soleram Oh Soleram

SOLERAM OH SOLERAM Karya: Febrianiko Satria Soleram soleram Soleram anak yang manis Anak manis janganlah dicium sayang Kalau dicium merahlah pipinya             Ku dengar berkali-kali lagu ini sambil mengingat dirimu Soleram. Wanita penjelmaan bidadari yang turun ke Bumi dalam bentuk manusia. Kecantikan dan tulus hatimu selalu saja meluluhkan setiap lawan jenismu. Aku selalu heran bagaimana caramu meluluhkan hati berbagai pria. Penampilanmu begitu sederhana. Ah mungkin mereka buta soleram sama seperti diriku. ***             Soleram, pagi ini begitu cerah. Matahari bersinar begitu terang hari ini. Aku yang datang terlebih dahulu, melihat dirimu memarkirkan motor di parkiran. Engkau lalu berlarian kecil meninggalkan parkiran, memasuki gedung perkuliahan, menaiki tangga lalu tergesa-gesa berlari menuju kelas. Sepertinya kautakut sekali dengan dosen killer yang m...

Artiel: Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan

Jika ada Pria Miskin dan Tunawisma Melamar Cewek Apakah akan Diterima? Jawabannya Sungguh Mengejutkan oleh: Febrianiko Satria Suatu hari ketika lagi pusing memikirkan skripsi, saya iseng melihat-lihat  timeline  BBM melihat foto-foto cantik dari teman perempuan saya. Ketika asyik menggombal beberapa cewek, saya dikagetkan dengan teman saya yang cewek tiba-tiba sudah nikah. Lho kok bisa cepat amat ya. Ini gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba dilamar aja. Pikiran saya tiba-tiba melayang ke mana-mana. Membayangkan mulai yang baik-baik hingga berbagai kemungkinan buruk yang ada. Daripada saya bingung saya pun lalu iseng bertanya pada teman-teman saya yang cewek dan jomblo. Pertanyaannya mudah aja sih: Jika ada seorang pemuda miskin yang baru beberapa hari mengenalmu dan dia tidak punya tempat tinggal mau melamarmu. Nah apa yang akan kamu lakukan? Menerima atau tidak? Sebelumnya perkara miskin dan tak punya tempat tinggal sengaja saya tambahkan agar bisa semakin menunjukk...

ARTIKEL: Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua

Kalau Kamu Mengalami Hal Ini Selama Kuliah di FKIP UNJA, Berarti Kamu Sudah Menjadi Mahasiswa Tua oleh: Febrianiko Satria Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) adalah Fakultas dari Universitas Jambi yang menghasilkan guru-guru untuk membangun negara tercinta.  Azek.  Sebagai mahasiswa tua yang telah lama bertapa dengan urusan skripsi, saya akan membagikan berbagai ciri khas semester tua berdasarkan pengamatan saya sebagai Mbah Alex yang terkenal sejak jaman dinosaurus. Wajah Kusut Wajah mahasiswa tua sudah pasti sangat kusut. Bayangkan aja sudah mikirin mata kuliah yang tidak tuntas. Eh mikirin kapan wisuda, mana Bos di rumah nanya mulu kapan wisuda. Jangankan mikir wisuda, judul skripsi aja selalu ditolak dosen pembimbing. (Malah curhat hahaha). Selalu Menenteng Tas Berisi Skripsi dan Buku Dulu ketika masih berstatus mahasiswa muda paling malas yang namanya menenteng buku. Jangankan menenteng yang ada malah ditinggal di rumah. Sekarang semester tua haru...

ARTIKEL: SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK

SEANDAINYA AKU ADALAH AHOK Oleh: Febrianiko Satria Pilkada Jakarta sudah selesai. Indonesia yang selama ini dipusingkan dengan berbagai masalah Pilkada Ibukota sudah tidak perlu ribut lagi. Status di medsos yang awalnya ricuh penuh pertentangan mulai adem. Ahok awalnya dicaci maki karena dugaan penistaan agama hingga didemo setiap bulannya. Kini, gelombang caci maki mulai sedikit mereda. Jakarta mulai tampak damai seperti biasanya. Tidak bisa dibayangkan apa yang dirasakan Ahok saat ini. Mulai dari ketika Pilkada dia selalu diserang dengan ejekan kafir, dilanjutkan dengan dugaan penistaan agama terhadapnya, hingga dia didemo besar-besaran. Sekarang, dia kalah dalam perhelatan Pilkada. Bisa dibayangkan betapa dia sangat terpukul dengan hal ini. Betapa banyak hal yang dilakukannya untuk Jakarta ketika menjabat, namun pada Pilkada kali ini dia 'seolah-olah dikhianati' oleh warganya sendiri. Saya sendiri mungkin akan merajuk bermingu-minggu seperti orang yang baru sa...

Fiksi Mini Honor

HONOR karya: Febrianiko Satria Sudah berbagai tulisan Rio kirimkan ke banyak koran. Ada beberapa cerpen ataupun esai yang masuk. Namun, setelah berbulan menunggu honor tulisan Rio belum juga ditransfer redaksi. "Eh kenapa kamu sibuk dengan hpmu. Sini bantu Bapak ke kebun," perintah Ayah. "Rio sedang nulis, Pak," jawab Rio. "Tidak ada gunanya juga nulis itu. Tidak menghasilkan uang juga," bantah Ayah. "Ada kok tulisan Rio yang dimuat kok. Ada honornya juga," bantah Rio lagi. "Sekarang tunjukkan mana uangnya?" tanya Ayah. Rio hanya membisu lalu masuk ke kamarnya. * Febrianiko Satria, lahir di Jambi dan berkuliah di UNJA FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Sehari-hari aktif sebagai ketua Komunitas Berani Menulis. Pertama kali dipublikasikan di IMC Campus https://campus.imcnews.id/read/honor tanggal 13 Mei 2017

CERPEN: REMUKNYA BULA DIPERTENGAHAN TAHUN

REMUKNYA BULAN DIPERTENGAHAN TAHUN oleh: Febrianiko Satria             Bibir-bibir itu bertengkar satu sama lainnya. Bibir-bibir itu saling serang, saling sikut dan saling menyalahkan tentang nasib nenek yang sedang terlunta-lunta. Bibir pertama mengatakan kalau seharusnya nenek itu tidak perlu membuka tutup saji kepada bibir yang kelaparan  di bulan sejuta do’a. Bibir yang lain mengatakan ini semua demi alasan kemanusiaan. Bibir pertama tidak terima lalu meludah ke bibir kedua. Bibir kedua menjadi berang karena merasa terhina. Bibir kedua lalu memuntahkan isi perutnya ke bibir pertama. Ludah dan muntah berterbangan mengotori nafas cakrawala. ***             Surya belum menampakkan diri di atap bumi. Sepi dan dingin masih menyelimuti bumi. Hanya imbauan dari toa masjid yang masih terdengar membangunkan manusia yang terlelap dari tidurnya, agar bisa menikmati...