Postingan

Didikte dan Mendikte

Gambar
sumber gambar: pixabay.com Pernahkah kamu merasakan hal ini: Di sebuah seminar para pejabat berkata panjang lebar tentang pencapaian-pencapaiannya misal dalam bidang pertanian. Sementara kamu orang biasa yakni anak petani miskin hanya mendengar saja tanpa bisa mengatakan kondisi di lapangan yang nyatanya berbeda jauh dengan apa yang dikatakan pejabat. Kau dalam hati merasa jengkel. Oh seandainya aku menjadi pejabat, aku tidak akan begitu. Aku akan menjadi pejabat yang baik yang benar-benar mendengar keluhan petani biasa seperti orang tuamu. Untuk mencapai hal itu kau lalu berusaha dengan segala cara agar kau bisa menjadi pejabat. Kau mulai berusaha lebih keras belajar dibanding siapapun. Kau juga berusaha membangun berbagai jaringan agar kelak impianmu terwujud. Hal ini berlanjut hingga kau kerja. Kau bekerja keras sembari membangun jaringan yang memungkinkan dirimu agar bisa jadi pejabat. Waktu berlalu, akhirnya kau menjadi pejabat seperti yang kau idamkan dulu. Cela...

Tukang Parkir dan Kenangannya

Gambar
sumber gambar: pixabay.com Lagi ribut-ribut masalah parkir jadi teringat dengan tukang parkir yang dulu jaga toko makanan dekat sekolah. Beginilah ceritanya, sebagai anak sekolah yang tak memiliki motor. Saya terbiasa diantar ke sekolah  dan di jemput orang tua dari sekolah. Terkadang orang tua memiliki kesibukan. Nah kalau sudah begitu saya harus menunggu hingga di jemput. Di dekat sekolah ada sebuah toko roti yang dijaga oleh tukang parkir. Untuk toko makanan kelas elit hal ini memang sudah hal biasa kalau toko makanan seperti itu ada tukang parkirnya. Singkat cerita waktu itu tukang parkirnya yang bertato, bertindik dan tampang mirip preman mendekati saya. Sebagai anak culun dan kuper. Tentu saja saya takut dengan laki-laki itu. Laki-laki itu menghampiri saya dan kami berkenalan. Percakapan mengalir begitu saja dan saya lupa detilnya. Esoknya orang tua telat lagi menjemput saya. Saya nongkrong lagi di samping sekolah. Tukang parkir itu menghampiri saya lagi minta...

DUA DALAM SATU

Gambar
karya: Febrianiko Satria sumber gambar:  http://puan.co/2018/06/dua-dalam-satu/ Aku membuka mataku perlahan-lahan. Aku lihat ada sebuah sinar terang. Aku mencoba membuka mataku seluruhnya walaupun tu terasa sakit. Perlahan-lahan aku mencoba bangun. Namun aku terkejut, aku tidak mengenal tempat ini. Aku mencoba mengingat kembali kenapa aku sampai ditempat ini. Tidak, aku tidak bisa mengingat apapun. Disebelahku, ada seorang wanita bercadar yang memakai gamis yang cukup panjang berwarna pink dan rok panjang berwarna hitam. Cadarnya yang berwarna hitam   membuatku tidak bisa mengenali siapa wanita itu. Lagipula kenapa juga aku harus berada ditempat ini bersama wanita ini? Pelan-pelan aku mencoba membangunkan wanita itu. Dia menolak manja ketika aku bangunkan. Aku mencoba membangunkannya terus. Tetapi sayangnya wanita itu terlalu terlelap dalam tidurnya. “Daripada aku menunggu dia bangun. Sebaiknya aku mencari bagaimana cara keluar dari ini,” gumamku. Aku lalu mencoba...

LELAKI DAN FOTO YANG MENANGIS

Karya: Febrianiko Satria Foto itu menangis. Ya foto itu benar-benar menangis. Kau bisa melihat foto itu mengeluarkan air mata sejak pertama kali dipajang di dinding itu. Kau tidak percaya? Sekarang cobalah kau pergi ke rumah Pak Karnadi itu dan lihatlah foto seorang perempuan kecil itu menangis. Kau bisa lihat air mata yang keluar dari foto itu bukalah rekayasa editor foto seperti photoshop. Air itu berasal dari pipa yang ditempelkan dibelakang foto itu sehingga mengeluarkan air? Tentu tidak. Dinding yang menjadi tempat gantungan foto itu hanya dinding biasa tanpa pipa atau trik murahan lainnya dibelakangnya. Tapi kejadian foto menangis ini tentu saja hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Hal ini memang sengaja dirahasiakan. Kalau sudah dirahasiakan tentu memiliki berbagai rahasia aneh dari foto itu. Kami tentu tak ingin Pak Karnadi menjadi terkenal mendadak. Apalagi sampai-sampai foto itu disebarkan secara massif di media sosial. Kami tidak mau ketenangan lingkun...